logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 09 Mei 2006 KEDU & DIY
Line

Nyaris Walk Out

KETIKA menunggu waktu tampil sebagai pembicara pada seminar nasional Korupsi APBD Pejabat di Indonesia, Ketua Indonesia Corruption Monitoring (ICM), Denny Indrayana SH LLM PhD, nyaris walk out. Sebab, katanya, dia bosan setelah sambutan sejumlah pejabat pada acara yang digelar kampus Universitas Cokroaminoto (Uncok) Yogyakarta.

Mengapa bosan dan berniat melakukan WO? Katanya, karena dia merasa sudah terlalu banyak bicara tentang teori pemberantasan korupsi di negara ini melalui berbagai seminar maupun berbicara langsung dengan sejumlah pejabat negara. Tapi hasilnya? Banyak teori tidak pernah diaplikasikan, sehingga tingkat korupsi di Indonesia tetap saja tinggi.

Namun demikian, kata dosen Ilmu Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM itu, pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mendingan, karena sudah mengizinkan pemeriksaan 83 pejabat negara. Sedangkan pada era Megawati Soekarnoputri cuma satu, yaitu kasus pembelian helikopter oleh Gubernur NAD Abdullah Puteh.

Padahal, seharusnya untuk pemberantasan korupsi diperlukan sikap konsistensi omongan dengan sikap atau perbuatan pejabat. Masalahnya, sekarang ini, banyak pejabat teriak-teriak soal korupsi. ''Tapi apakah mereka bersih dari korupsi?'' tanyanya yang langsung dijawabnya sendiri, belum tentu.

''Pidato'' Denny Indrayana yang disampaikan melalui podium, tak pelak lagi membuat pembicara lainnya, Staf Khusus Presiden Bidang Korupsi, Mayjen TNI (Pur) Sardan Marbun, jadi terlihat kikuk. Karena dengan semangat dia mengatakan Presiden SBY tidak melakukan tebang pilih untuk memberantas korupsi.

Tapi dasar Denny Indrayana yang akademisi, dia tetap menganggap Presiden SBY melakukan tebang pilih. Buktinya, masih ada empat wilayah yang tidak dimasuki. Paling tidak, tidak jelas kelanjutannya. Yaitu di Istana Negara (kasus Sudi Silalahi), di Jalan Cendana (kasus mantan presiden Soeharto), di lingkungan TNI/Polri, dan di kalangan pengusaha.

Semua itu dikatakan Denny melalui podium. Dia tidak berbicara sambil duduk di meja bersama pembicara lainnya. Selain sumpek juga agar lebih leluasa. Melalui ''orasinya'' itu dia berulang-kali mendapat aplaus hadirin. (Asril-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA