logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 28 April 2006 SEMARANG
Line

Diramaikan Sunatan Massal

SEMARANG- Warga Kampung Tireman, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Rabu (26/4) malam menyambut Hari Jadi Ke-459 Kota Semarang dengan pengajian umum dan sunatan massal diikuti puluhan anak. Bahkan, mereka mendapat bingkisan sarung dan uang.

Darmanto (21), warga Kelurahan Purwodinatan mengatakan, acara juga diisi ceramah disampaikan dai cilik Ilham Binar Lazuardi, peserta "Pildacil" di televisi Lativi.

"Setiap menjelang Hari Jadi Kota Semarang, kampung di sini selalu mengadakan kegiatan," katanya.

Berkaitan dengan Hari Jadi itu, sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Kota Semarang akan mengadakan bakti sosial berupa pengobatan gratis yang dilakukan serentak pada Minggu (30/4).

Kepala Kantor Infokom Ulfi Imran Basuki mengatakan, pengobatan gratis itu diikuti oleh 11 RS pemerintah dan swasta se-Kota Semarang, 37 puskesmas, serta organisasi profesi seperti Ikatan Naturopati Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Semarang.

Dia mengatakan, RS Telogorejo juga melaksanakan konsultasi gratis pemeriksaan jantung, tensi darah, dan kadar lemak di Kelurahan Wonoplumbon (Mijen), RSUD Kota Semarang di Meteseh (Tembalang), RS Panti Wilasa ''Citarum'' di Mlatiharjo (Semarang Timur),

RS St Elisabeth di Tegalsari (Candisari), dan RS Roemani Muhammadiyah di Wonodri (Semarang Selatan).

Pada saat yang sama, RS Banyumanik di Kelurahan Jabungan (Banyumanik), RS Kusuma di Rejosari (Semarang Timur), dan RS Bhakti Wira Tamtama di Barusari (Semarang Selatan). Kemudian RS William Both dan RS Bahagia menggelar acara di tempat masing-masing dan RS Akpol di Asrama Akpol.

Kurang Sosialisasi

''Selain itu, berdasarkan rapat koordinasi di Kantor DKK, Selasa (25/4) para pengelola RS diimbau memberikan potongan biaya atau diskon bagi para pasien yang berobat selama Mei 2006,'' tutur Ulfi.

Namun, tak semua kampung menggelar acara peringatan Hari Jadi Kota Semarang. Bahkan, banyak warga yang mengaku tidak mengetahui adanya acara tersebut.

Karena itu, warga di sejumlah kampung tidak melakukan kegiatan khusus, seperti pengecatan gapura, pembersihan selokan atau kerja bakti yang biasa dilakukan menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI atau acara 17-an.

Surono (43), tukang becak yang biasa mangkal di Jl Satria Raya, Kelurahan Plombokan, mengaku tidak tahu kapan hari Jadi Kota Semarang itu. "Kalau 17 Agustus saya tahu. Tetapi Hari Jadi, malah baru saya dengar," katanya, Rabu (26/4). Menurut Surono, hingga saat ini warga sekitar tidak ada yang melakukan kerja bakti. Di kampung itu juga tak ada umbul-umbul yang dipasang. Hal yang sama juga terlihat di Jl Indraprasta.

Riyono (40), warga Plombokan mengaku tidak tahu adanya Hari Jadi Kota Semarang. Dia juga tidak tahu acara untuk menyambut peringatan itu. "Tetapi pada peringatan Hari Kemerdekaan RI, kampung sini selalu ramai dengan berbagai acara.Seperti lomba untuk anak-anak sampai dewasa, membersihkan selokan, mengecat gapura, dan memasang umbul-umbul. Mungkin karena tak seramai 17-an, warga kurang antusias menyambut Hari Jadi Kota Semarang,'' tambahnya. (H9-56s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA