logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 27 April 2006 NASIONAL
Line

Dari Tempat Pengungsian Bahaya Merapi (4-Habis)

Baru Saja Disunat, Dibawa ke Pengungsian

BARU saja Nur Hidayat 11 tahun 5 bulan disunat Rabu (26/4) pagi, sorenya dia masih duduk di kursi di depan rumahnya dengan mengenakan sarung. Dia masih merasakan, sakit di bagian organnya yang disunat. Namun, evakuasi yang memaksananya dia harus meninggalkan rumahnya untuk hidup di pengunsian.

Di rumahnya, masih terlihat habis ada hajatan, tenda baru saja dugulung, banyak piring dan gelas masih menumpuk baru saja digunakan untuk menjamu para tamu.

Anak bungsu pasangan Ahmad Wakimin (37) dan Trimah (35) warga Dusun Klampahan, Desa Wonolele, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang itu, baru saja melangsungkan hajatan besar. Kerabat, teman dekat dan tentangga baru saja berkunjung ke tempat Wakiman.

Suasana rumah yang masih ramai itu ditinggalkan begitu saja oleh Trimah dan anaknya. Hanya tinggal Wakiman dan beberapa kerabatnya yang menyelesaikan pekerjaan rumah untuk mengemasi barang-barang kendurenan. Selain Wakimin, Sunarto warga yang lain juga baru saja menyelenggarakan kenduren untuk sunatan anaknya.

Trimah, ibu Hidayat, sebenarnya tidak tega melihat anaknya dibawa ke pengungsian. Dia sudah mengatakan pada aparat desa setempat agar anakya tetap tinggal di rumah bersama bapaknya dan keluarga yang lain.

"Rencananya hanya saya yang menungsi. Namun gimana lagi masalahnya warga lain juga sudah mengungsi, tidak tega meninggalkan anak sendirian di rumah apalagi baru saja disunat. Akhirnya saya bawa juga anak saya untuk mengungsi," katanya, sambil meneteskan air mata.

Saat itu rumahnya sebenarnya belum beres semua, berbagai perlatan hajatan belum dikembalikan. Apalagi setelah hajatan itu masih ada beberapa orang yang datang. Namun dia meneguhkan hatinya untuk mengungsi bersama anak lelaki satu-satunya. Anak pertamanya perempuan, Siti Nurhayati (14) tidak ikut menungsi tapi masih tinggal di rumah untuk memberesi semua pekerjaan yang ditinggalkan ibunya.

Hidayat, tidak bisa berbuat apa-apa ketika dua orang petugas kesehatan menggotongnya masuk mobil. Dia hanya pasrah dan terlihat menahan rasa sakit dari luka di bagian organ yang belum kering itu.

Setelah Hidiyat digotong, menyusul ibunya dengan membawa pakian seadanya beranjak masuk mobil, untuk menuju Balai Desa Wonolelo.

ëíSemoga saja dipengungsian anak saya mendapatkan perawatan kesehatan. Karena kata kepala desa ada mantri suntik yang akan membantu penyembuhan luka yang habis disunat,íítambahnya.

Dikatakan, pekerjaan rumah setelah hajatan masih banyak, namun dia telah menyerahkan pekerjaan itu kepada anak pertamanya dan keluarganya. Dia menganggap jalannya evakuasi ini terlalu tergesa-gesa sehingga seluruh pekerjaan yang seharusnya diselesaikan, terabaikan.

Di rumah Trimah, sore kemarin masih ramai orang. Keluarga dan tetangganya masih sibuk mengurusi perabotan yang akan dikembalikan. Namun di sudut dusun yang lain, terlihat orang berbondong-bodong membawa perlengkapan seadanya untuk mengungsi.

Iring-iringan para lansia, anak-anak bersama ibunya sudah siap naik truk evakuasi. Warga yang berangkat ke tempat evakuasi dan warga yang masih tinggal di dusun, meneteskan air mata ketika pengeras suara dari musala setempat terdengar suara doa dari pemuka agama mengiringi kepergian mereka. Setelah doa selesai, lambaian tangan mengantarkan kepergian para pengungsi.

Tidak kurang dari 47 jiwa pengunsi mulai malam kemarin akan tidur di Balai Desa Wonolelo. Tempat pengunsian yang tidak jauh dari tempat tinggal sekitar 1,5 kilometer, menjadikan warga agak tenang. Karena mereka bisa kembali menyelesaikan pekerjaan rumah untuk sementara waktu dan pada malam hari akan kembali lagi ke pengungsian.

Satu Pengungsi Meninggal

Isak tangis di tempat pengungsian akhir (TPA) Tanjung, Muntilan, Kabupten Magelang, kemarin (26/4) sempat mengejutkan seluruh penghuni TPA itu. Mertodikromo (70) mengembuskan napas terakhir pada pukul 05:30. Jeritan tangis itu, awalnya berasal dari kerabat dan tetangga dekat; namun setelah mengetahui ada yang meninggal, hampir seluruh penghuni ikut meneteskan air mata.

Warga asal Gowok Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, yang biasa dipanggil Kabul itu meninggal akibat penyakit paru-paru yang sudah lama dideritanya. Pagi itu, rencananya Merto akan dibawa ke RSU Muntilan, karena Senin (25/4) malam dia sempat mengalami sakit perut.

Petugas kesehatan yang menangani almarhum, Dadang Romansah mengatakan, semalam ia telah memberikan pertolongan pertama kepada almarhum. Menurutnya, Merto hanya mengalami mual, dan diduga karena penyakit mag. Selain itu, alamarhun juga menderita penyakit paru-paru.

Di pengunsian, almarhum bersama dengan istrinya, Tenggok (70) dan anaknya, Sureh Maryono (35) serta cucunya, Paini (9). Dia datang ke TPA Jumat (21/4) bersama ratusan warga Sengi lainnya.

Terjangkit Penyakit

Ratusan pengungsi mengalami gangguan saluran pernapasan, batuk, pilek, diare, dan gatal-gatal. Sebagian lainnya mengeluh matanya merah, berair, dan gatal-gatal.

Hal itu dialami para pengungsi di Desa Sidorejo dan Tegalmulyo, yang bertempat di SD Dompol dan Desa Keputran, Kecamatan Kemalang.

Menurut sejumlah pengungsi, penyakit tersebut mulai menyerang sejak Senin (24/4). Pengungsi heran, penyakit itu biasanya menyerang setelah hujan abu vulkanik, padahal hingga kemarin belum ada hujan abu.

''Tenggorokan saya rasanya panas dan gatal-gatal. Anak-anak juga banyak yang batuk-batuk, karena banyak debu; padahal belum ada hujan abu,'' kata Darmo, warga Tegalmulyo.

Petugas kesehatan, dokter Rudy Hendratmo mengatakan, kehadiran penyakit tersebut wajar karena suhu udara yang relatif tidak stabil, kadang panas dan kadang dingin.

Setiap hari rata-rata sepuluh pengungsi memeriksakan diri ke pos kesehatan dengan keluhan batuk, pilek, dan sakit mata.

Sementara itu, hingga Rabu (26/4) warga Desa Balerante tetap menolak diungsikan. Mereka percaya jika orong-orong (sejenis seranangga) sudah turun gunung, berarti akan terjadi letusan Merapi yang sangat besar. Orong-orong dianggap tahan udara panas. (Sholahuddin, Merawati Sunantri-41a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA