logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 25 April 2006 SEMARANG
Line

Batik Semarangan Diburu Kolektor, Diincar Industri

TAK banyak orang tahu kalau Kota Semarang memiliki motif batik yang khas. Motif semarangan cukup unik dari ragam batik lainnya yang saat ini sangat dikenal, seperti corak batik pekalongan, solo, dan yogyakarta.

Dihiasi dengan garis-garis lengkung mirip perbukitan serta gambar orang, pohon asam, dan burung, warna motifnya terang seperti jenis pesisiran.

Umi Sumiyati, pengembang gerai batik semarangan ''Umi Zie'' mengaku cukup sulit mencari batik asli semarangan saat ini. Karena itu, tak banyak yang mengenal seperti apa motifnya. Batik tersebut banyak diproduksi dan dikenakan sekitar awal 1900 sampai 1950, saat usaha tekstil batik berkembang pesat di Semarang. Bila masih ada yang menyimpan kain batik ini maka produknya merupakan peninggalan dari nenek atau buyutnya. Soal awal mula mengetahui adanya motif batik itu, dia mengaku saat belajar membatik di Museum Tekstil Indonesia di Jakarta.

''Kebanyakan contoh motif batik semarangan yang dipertunjukkan hanya berupa foto dokumentasi. Untuk melestarikannya, kami mereproduksi desain sesuai aslinya,'' katanya.

Karena sudah terbilang langka dan antik, kata dia, kain batik khas tersebut kini banyak diburu kolektor. Harganya pun jadi melangit, mencapai jutaan rupiah. Tingginya harga tersebut, selain karena faktor kuno, juga produksinya melalui proses tulis dengan bahan pewarna alami. Dalam pengembangan batik tersebut, Umi mengajak warga sekitar Meteseh, Tembalang untuk belajar membatik tulis dan cap. Jumlah yang kini menekuni batik semarangan mencapai 30 orang.

Umumnya, yang mengikuti adalah remaja perempuan dan kaum ibu yang belum memiliki latar belakang membatik.

Mereka belajar bagaimana cara nglowong (memberi lilin pada kain yang sudah diberi pola motif batik) dan mbironi (proses pewarnaan).

''Diharapkan mereka bisa memproduksi batik-batik alami yang berkualitas untuk dijual,'' ujarnya.

Untuk bisa lebih mengembangkan motif tersebut, ia menggandeng Museum Ronggowarsito untuk mengadakan pelatihan membatik bagi masyarakat umum, dan beberapa hotel berbintang untuk memajang produk batik semarangan. ''Saya cukup senang, ternyata banyak pihak yang antusias terhadap pengembangan batik semarangan, termasuk para pemerhati dan pelestari budaya kota ini,'' katanya.

Susuri Kampung

Upaya pelestarian batik tersebut, kini juga menjadi objek perhatian bagi peneliti Dr Dewi Yuliati MA, dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip. Bersama timnya, Dra Ngesti Lestari MAP dan Dra Siti Maziah MHum, dibantu beberapa arsitek, mencoba mengembangkan desain kontemporer batik semarangan.

Untuk membuat pola desain kontemporer itu, tentunya tak bisa sembarangan. Ia berpedoman pada batik-batik semarangan kuno yang berhasil ia temukan, antara lain berupa kain panjang, selendang, dan dasi.

''Tak mudah untuk mendapatkan kain-kain batik kuno ini. Tim kami melakukan penelitian lapangan, dengan menelusuri jejak pengusaha batik masa itu hingga mantan pekerjanya. Sementara literatur tertulis tentang hal ini belum ada. Kalaupun ada, tak detail dan berasal dari Belanda,'' katanya.

Ia mengungkapkan, sekitar abad ke-19 banyak tumbuh kampung-kampung perajin batik, seperti Rejosari, Mlayu Darat, Pekunden, dan Kampung Batik Bubakan. Bahkan ada juga sebuah perusahaan batik besar, Batikkeraj Tan Kong Tin di daerah Bugangan. Selain masyarakat pribumi, batik semarangan juga dikenakan warga peranakan China dan Belanda.

Sulitnya menemukan dokumentasi batik jenis ini dikarenakan budaya tulis tak berkembang di kalangan pribumi dan peranakan China.

Bahkan adanya tradisi China yang turut mengubur barang-barang pribadi seseorang yang sudah meninggal saat pemakaman, terjadi pada kain batik semarangan. Berbeda dari warga Belanda, yang menyusunnya dalam katalog budaya dan sebagian tersimpan di museum. ''Sering kali kain batik semarangan yang ditemukan tersebut sudah dalam keadaan lusuh karena faktor usia,'' katanya.

Hingga kini, penelitian yang dilakukan mulai tahun 2000 itu masih terus dilanjutkan. Ia berharap, desain batik tersebut dikembangkan lebih lanjut dan diproduksi kembali. Apabila ada industri tekstil yang tertarik untuk memproduksinya, ia mempersilakan. Selama ada penghargan terhadap hasil karya cipta desain ini. (Moh Anhar-62d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA