logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 April 2006 NASIONAL
Line

Merapi Batuk-batuk Jadi Aset Pariwisata

DI tengah riuh rendah "batuk-batuknya" Gunung Merapi yang konon pertanda akan meletus, saya jadi ingat mantan Bupati Magelang, Pak Hasyim Affandi, seorang kepala daerah yang rajin meminta saran tokoh-tokoh kelahiran Kabupaten Magelang untuk memajukan daerahnya.

Suatu ketika, Pak Hasyim- demikian saya memanggilnya - menghubungi saya dan beberapa putra Magelang di Jakarta. Beliau meminta saran kami, antara lain bagaimana menjadikan Kabupaten Magelang sebagai daerah tujuan utama wisata di Jawa Tengah.

Obsesi Pak Hasyim menjadikan Magelang sebagai tujuan utama wisata Jawa Tengah memang beralasan. Pertama, Magelang adalah daerah yang memiliki Candi Borobudur ñ candi Buddha terbesar di dunia dan telah ditetapkan PBB sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia.

Tapi sayangnya, Magelang tak bisa menikmati limpahan uang turis-turis mancanegara yang mengunjungi Borobudur. Justru Daerah Istimewa Yogyakartalah yang menik-matinya.

Magelang hanya jadi tempat singgah sementara untuk melihat Borobudur. Selanjutnya turis-turis asing menghabiskan waktunya di Yogyakarta. Mereka menginap dan menghabiskan uangnya di Yogyakarta.

Mungkin, kita berpikir karena di Magelang tidak ada bandara internasional seperti halnya di Yogyakarta. Jadi, kita minta saja bandara internasional dari pusat. Ini cara berpikir gampangan.

Tapi, permintaan itu niscaya akan sulit dipenuhi pemerintah pusat. Karena di sekitar Magelang - yaitu Yogya dan Solo - sudah ada dua bandara bertaraf internasional. Aneh memang.

Dengan jarak Yogya - Solo yang hanya 60-an kilometer, kok ada dua bandara internasional. Sebetulnya banyak kritik dari daerah lain perihal dua bandara tersebut.

Tapi kenyataannya, dua bandara itu sudah ada dan dua-duanya - ini anehnya - juga ramai. Bayangkan, Bandara Adi Sucipto dan Adi Sumarmo, dua-duanya bertaraf internasional dan pesawat-pesawat dari Singapura bisa langsung mendarat di kedua bandara tersebut.

Logikanya, jika di Solo dan Yogya ada bandara internasional, mestinya di Magelang juga ada. Tapi, apa nanti tidak kebanyakan bandara internasional dan mendapat protes dari daerah lain yang merasa dianaktirikan?

Sudahlah, daripada berpikir minta bandara internasional yang belum tentu dikabulkan pemerintah pusat, lebih baik bagaimana mengoptimalkan kreasi Pemkab Magelang untuk menjadikan daerahnya sebagai pusat wisata.

Setelah limpahan uang turis mancanegara yang berkunjung ke Borobudur sebagian besar jatuh ke Yogyakarta, sebaiknya Pemkab Magelang berpikir kreatif, bagaimana "menggiring" turis mancanegara untuk membelanjakan uangnya di Magelang.

Saat bincang-bincang dengan mantan Bupati Hasyim, tercetus ide menjadikan Gunung Merapi sebagai pusat wisata Magelang, bahkan Jawa Tengah.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Kecamatan Sawangan, suatu tempat di sisi barat Gunung Merapi dan kuliah di Yogyakarta yang juga sering berkunjung ke Kaliurang (sisi selatan Gunung Merapi), saya merasakan, pemandangan Gunung Merapi jauh lebih indah jika dinikmati dari sisi barat.

Keindahan pemandangan Gunung Merapi ini - apalagi ketika sedang batuk-batuk seperti sekarang, niscaya amat menarik bagi turis, baik lokal maupun mancanegara.

Dari perbincangan dengan Pak Hasyim itulah kemudian muncul ide untuk membangun "Ketep Indah" di Kecamatan Sawangan - sebuah lokasi di barat Merapi sebagai tempat menikmati Gunung Merapi plus melihat sejarahnya.

Di Desa Ketep inilah dibuat semacam museum Gunung Merapi sehingga turis di samping bisa menikmati keindahan Merapi, juga mengetahui sejarah letusan Merapi dari masa ke masa. Sejarah letusan Gunung Merapi ini sangat menarik apalagi bila dikaitkan dengan Candi Borobudur. Dalam sejarah, misalnya, Candi Borobudur yang didirikan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra baru ditemukan pada tahun 1814 di zaman Gubernur Inggris di Jawa, Stamford Raffles.

Ini karena Candi tersebut sudah tertutup lava letusan Gunung Merapi selama ratusan tahun. Kisah-kisah keunikan Borobudur dan Gunung Merapi niscaya amat menarik bagi para turis.

Keunikan

Sebagai orang Jawa yang tinggal di dekat Gunung Merapi, sejak kecil saya pun sering menyaksikan keunikan daerah sekitar Merapi.

Misalnya, saya sering mendengarkan suara gamelan bertalu-talu di kedung Sungai Mangu yang bersumber dari lereng Merapi.

Padahal, di sana tidak ada penduduk yang sedang menabuh gamelan.

Bila ada suara gamelan, biasanya akan terjadi ìapa-apaî di sekitar wilayah tersebut. Bagi penduduk di sekitar Gunung Merapi, gunung tersebut mempunyai keunikan dan kisah-kisah mistik yang menarik.

Salah satunya, bagaimana sosok Mbah Maridjan, juru kunci Merapi - yang tenang-tenang saja menghadapi "batuk-batuk"nya Merapi.

Bagi Mbah Maridjan, Gunung Merapi yang tengah batuk-batuk itu (sehingga Pemkab Kabupaten Magelang sudah menyiapkan 84 truk untuk evakuasi penduduk di sekitar lereng Merapi seperti Kecamatan Sawangan, Dukun, dan Srumbung) belum waktunya meletus.

Bagi Mbah Maridjan, Merapi punya 12 "mangsa". Dan saat ini, baru mangsa ke-10. Pada mangsa ke-10 ini, kata Mbah Maridjan, biasa Merapi "batuk-batuk" tapi dia tidak akan meletus. Uniknya, masyarakat di sana lebih percaya pada ilmu Merapi Mbah Maridjan ketimbang penjelasan pakar gunung berapi dan petugas pos pengawas Merapi.

Aneh? Itulah masyarakat di lereng Gunung Merapi. Mereka telah menyatu dengan alam Merapi dan mereka memahami betul tingkah laku alam tersebut.

Ini persis sama dengan tingkah laku sebuah komunitas kecil di China yang bisa meramal kapan gunung berapi akan meletus dari gejala-gejala alam yang ada di sekitar Gunung. Misal, bila penduduk desa melihat ular dan binatang buas sudah mulai banyak yang bermigrasi dari persembunyiannya menuju tempat yang aman, berarti gunung itu akan meletus. Dan ternyata benar! Itulah kewaskitaan manusia yang telah "menyatu" dengan alamnya seperti terjadi pada Mbah Maridjan, juru kunci Merapi tersebut.

Di Jepang, ada legenda, bila ikan lele di sungai dan kolam ikan sudah bertingkah laku aneh, biasanya akan ada gunung meletus. Uniknya, gejala alam tersebut sering menjadi kenyataan.

Melihat kaitan Gunung Merapi dan Candi Borobudur yang erat itu, mestinya fenomena Gunung Merapi pun bisa dijual kepada turis. Keindahan Merapi bukan hanya alamnya tapi juga legenda-legendanya. Di Tasmania, Australia, misalnya, ada tempat wisata berupa bekas rumah penjara yang dikenal angker dan dihuni banyak hantu.

Ya, turis diajak melihat hantu melalui paket wisata yang disebut "Ghost Tour". Ternyata, banyak turis tertarik ingin melihatnya. Tempat makhluk gaib semacam itu di sekitar Merapi pun banyak dan itu pun bisa menjadi objek wisata. Kenapa tidak? Bukankah sebuah kamar di Samudra Beach Hotel Pelabuhan Ratu yang dipercaya menjadi tempat Nyai Loro Kidul justru menjadi tujuan wisata yang ramai?

Namun demikian, satu hal yang paling jelas bisa dijual kapan saja kepada wisatawan adalah keindahan alam Merapi itu sendiri. Saat ini, wisata alam (ecotourism) sedang menjadi tren di negara-negara kaya seperti AS, Inggris, Jerman, dan Jepang!

Di Senegal, Afrika misalnya, para turis asing rela mengeluarkan uang ratusan dolar hanya untuk melihat binatang-binatang liar keluar malam. Di Nepal, turis juga mengeluarkan ratusan dolar untuk menjelajah alam di lereng Gunung Himalaya.

Begitu pula di Thailand, turis mau mengeluarkan uang ratusan dolar hanya untuk "berjalan-jalan" di kampung melihat pohon pisang, kelapa, dan melihat penduduk yang sedang membuat gula kelapa!

Kalau begitu mengapa sepanjang jalan menuju Borobudur, yaitu antara Muntilan dan Blabak yang penduduknya banyak berprofesi sebagai pemahat batu, tidak dijadikan objek wisata?

Merapi adalah Gunung yang amat indah. Pemandangan alam, kisah-kisah legenda, dan mistik di sekitar Merapi pun sangat menarik. (41v)

- Prof. Dr. M Bambang Pranowo, staf ahli Menteri Pertahanan Bidang Sosial Budaya dan Guru Besar Sosiologi Agama di UIN, Jakarta, alumnus Monash University Australia.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA