logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 April 2006 MURIA
Line

Negeri Ini Butuh Pemimpin yang ''Nakal''

BUKAN seorang Emha Ainun Najib, bila tak dapat ngonceki kondisi kekinian, dengan balutan humor-humor segar. Istri mantan artis Novia Kolopaking itu, selalu membuat orang tergelitik akan ulah mbelingnya, saat tampil dengan Kiai Kanjeng.

Cuaca sejuk di halaman Taqim Art Studio, Desa kajar, Kecamatan Dawe, Kudus, Minggu (23/4), kemarin tiba-tiba berubah gerah. Penyebabnya tentu bukan gamelan pentatonis yang ditabuh awak Kiai Kanjeng, yang kadang syahdu. Namun juga bisa menghentak-hentak oleh sindiran-sindiran tajamnya.

''Negeri ini butuh pemimpin yang nakal,'' katanya, mengawali aksi musikalitas yang menjadi media dakwahnya itu.

Sebelum penonton yang berjubel di depan panggung menjawabnya, Cak Nun sudah nyerocos bahwa definisi nakal adalah berani menjadi miskin. Pemimpin yang seperti itu, kata dia, tentu tak akan mau dijajah oleh siapa pun.''Penjajahan tak harus diidentikkan dengan senjata. Banyak dari kita yang masih terjajah pikirannya,'' ujarnya.

Pikiran yang tidak merdeka itu, salah satunya berupa sikap tidak berani untuk menjadi kere (miskin). Akibatnya, orang lantas menghalalkan segala cara agar tidak menjadi miskin itu sendiri.

''Tetapi sebagian dari kita rasanya tak perlu takut miskin, karena kita juga sudah miskin kok,'' ujarnya.

Penampilan Cak Nun dan Kiai Kanjeng di lereng pegunungan Muria tersebut menjadi semakin gayeng ketika istrinya, Novia, ikut bergabung. Wanita yang telah memberinya empat anak itu juga melantunkan beberapa buah lagu ciptaan Kiai Kanjeng, serta lagu dari album yang dahulu pernah dibuatnya.

Dengan iringan saron, siter, keteplak, dan beberapa alat musik elektronik, Novia masih dapat menampilkan suara emasnya. Lagu ''Asmara'', "Shalawat Badar", atapun "Mandarin" yang telah direnovasi di sana-sini, masih terlihat memesona.

Duet suami-istri yang diiringi kelompok Gamelan yang pernah ditanggap saat prosesi pemakaman Sri Paus, akhirnya berakhir menjelang tengah hari. Penonton yang pada akhir pertunjukan ''dihajar'' hujan deras, mulai beringsut saat Cak Nun selesai membacakan doa untuk keselamatan bangsa ini. (Anton W Hartono-29s)


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA