logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 April 2006 INTERNASIONAL
Line

Demonstran Nepal Inginkan Negara Republik

KATHMANDU - Ribuan demonstran menentang larangan keluar rumah di ibu kota Nepal Minggu kemarin. Teriakan-teriakan antimonarki menggema pada protes yang memasuki hari ke-18 ini. Sedikitnya tiga orang terluka karena tertembak polisi dalam aksi protes di kawasan timur Kathmandu.

Tawaran Raja Gyanendra untuk menyerahkan kekuasaan kepada aliansi tujuh partai politik tidak mendapat tanggapan dari demonstran. Partai oposisi tetap menuntut raja mengundurkan diri total dari kepemimpinan.

Gerakan yang semula bertujuan memulihkan demokrasi kini berkembang makin jauh dengan sasaran-sasaran yang lebih radikal. ''Polisi dan prajurit, kalian adalah saudara kami, tembak saja Gyanendra,'' teriak sekelompok demonstran kepada barisan polisi.

Di belakang regu polisi, tentara berseragam hijau bersiaga dengan senapan mesin dan automatis. Tentara mendapat perintah tembak mati apabila kerumunan massa menembus barikade kawat berduri dan barisan polisi.

''Kami akan membakar mahkota dan kami akan menjalankan negeri ini,'' teriak kerumunan massa. ''Gyanendra, pencuri, pergilah dari negeri ini.''

Protes-protes Minggu kemarin terpusat di sekeliling ibu kota dan jalan lingkar. Meskipun jalan itu berada dalam zona larangan keluar rumah, massa rupanya tidak menghiraukan larangan itu. Mereka membakar potongan kayu dan ban-ban untuk memblokir gerak pasukan keamanan.

Tak Dipercaya

Aliansi tujuh partai tetap menolak tawaran Gyanendra yang hendak menyerahkan kekuasaan kepada perdana menteri. Partai-partai tidak lagi mempercayai raja. Mereka ingin konstitusi diamandemen untuk menghentikan kekuasaan raja. Kelompok maois juga mengajukan tuntutan dan ikut serta dalam perjuangan aliansi politik menentang raja.

Selama beradab-abad lamanya, raja Nepal dianggap sebagai inkarnasi Tuhan. Situasi kini sangat bertolak belakang. Demonstran antimonarki bahkan sudah tidak menghendaki Raja Gyanendra secara simbolik. Mereka ingin raja turun takhta dan dihukum.

''Dia harus pergi dan harta kerajaan diserahkan kepada negara,'' kata Mahendra Sikka Azad, seorang kakek berusia 65 tahun yang ikut demo di kawasan Kalanki, Kathmandu. Di tempat inilah, tiga orang tewas dan puluhan luka-luka terkena peluru polisi saat demo pekan lalu. ''Seperti Saddam Hussein, dia seharusnya diadili oleh pengadilan internasional.''

Di sebuah persimpangan jalan, dua orang menuliskan kata-kata ''Persimpangan Demokrasi'' dengan cat warna merah di tengah jalan, disaksikan ratusan orang. Tentara bersenjatakan senapan automatis menyaksikan peristiwa itu tetapi tidak membubarkan massa.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA