logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 20 April 2006 PANTURA
Line

Ratusan Ton Bawang Impor Masuk Brebes

BREBES - Ratusan ton bawang merah impor asal Filipina, Taiwan, India, dan Vietnam, membanjiri pasaran di Kabupaten Brebes. Petani lokal pun khawatir. Sebab, bawang impor tersebut dikhawatirkan membuat harga bawang lokal - yang belakangan ini merangkak naik - anjlok.

Maraknya bawang impor tersebut dapat dilihat dari aktivitas di gudang-gudang penampungan bawang di wilayah Kecamatan Wanasari.

Tiap hari, berpuluh-puluh kontainer berisi bawang impor dibongkar dan kemudian disuplai ke daerah lain.

''Brebes sebenarnya hanya tempat transit. Bawang impor, begitu dibongkar langsung dikirim ke daerah lain,'' ujar Wahud, seorang pekerja bongkar muat bawang di Klampok, Rabu (19/4).

Kendati Brebes hanya dijadikan tempat transit bawang impor, petani bawang lokal tetap saja khawatir. ''Saya takut harga bawang mendadak anjlok,'' kata Sukhiemi Kayat (45), seorang petani.

Saat ini harga bawang lokal sudah merangkak naik hingga ke angka Rp 4.000 per kilogram. Sebelumnya, berkisar antara Rp 2.500 dan Rp 3.000 per kilogram.

Dia memperkirakan, apabila bawang impor tidak membanjiri pasaran, harga bawang terus naik. Kemungkinan bisa mencapai Rp 8.000 per kilogram antara Mei dan Agustus nanti (saat musim panen mulai habis).

Menurut para petani, bawang impor mulai berdatangan sejak awal musim penghujan lalu. Bawang didatangkan oleh para tengkulak besar melalui sejumlah pelabuhan di pulau Jawa dan Sumatera. ''Bawang merah impor yang masuk Pasar Klampok jumlahnya ratusan ton,'' kata Sukhiemi.

Kebutuhan Pasar

Dia khawatir, apabila impor bawang dibiarkan, harga bawang lokal akan merosot lagi. ''Karena itu, kami berharap pemerintah turun tangan untuk mengatasi persoalan ini,'' katanya.

Dia mengingatkan, pemerintahan Presiden Megawati lewat Menteri Perdagangan dan Perindustrian Rini Suwandi - yang berkunjung ke Brebes tahun 2001 - pernah berjanji mengatur prosedur impor bawang merah, agar bisa mengendalikan harga bawang lokal.

Namun Tarmidi (43), seorang pedagang bawang, tampaknya membela pihak-pihak yang mengimpor bawang. Dia menegaskan, bawang diimpor semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sebab, sejak awal musim hujan (September 2005) produksi bawang lokal sedikit. Padahal, permintaan dari luar kota naik.

''Itulah sebabnya pedagang terpaksa mendatangkan bawang dari luar negeri. Setiap hari sedikitnya 150 ton bawang merah impor masuk Brebes,'' katanya.

Tarmidi menyebutkan, harga bawang impor bervariasi. Bawang asal India atau Pakistan dijual Rp 3.300 per kilogram, asal Filipina Rp 9.600, Thailand Rp 7.000, dan Vietnam Rp 6.700.

''Masuknya bawang impor tidak bisa kami hindari, karena terkait permintaan pasar. Impor ini juga merupakan konsekuensi dari perdagangan bebas,'' tegasnya.

Timbulkan Persoalan

Sementara itu Ir Masrukhi Bachro, salah seorang pengurus Asosiasi Pengusaha Bawang Merah Indonesia (APBMI), mengatakan bawang impor bagaimanapun juga menimbulkan berbagai persoalan.

Selain menyebabkan harga bawang lokal anjlok, juga menimbulkan kerugian besar bagi para petani. Pasalnya, di Brebes belum ada tata niaga bawang, sehingga bawang impor masuk tanpa terkontrol.

''Untuk mengatasi masalah ini, kami dari APBMI meminta pemerintah menerapkan beberapa kebijakan. Antara lain, pemberlakuan bea masuk di atas 20 persen untuk bawang impor,'' katanya. (bs,wh-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA