| Kamis, 20 April 2006 | NASIONAL |
SBY: Lihat Persoalan Buruh Jangan Sepotong-sepotongJAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta semua pihak tidak melihat persoalan buruh secara sepotong-sepotong. Masalah buruh tak bisa dilepaskan dari upaya mengentaskan kemiskinan dan mengatasi pe-ngangguran, dan itu hanya dapat diupayakan dengan membangkitkan iklim usaha. Hal itu dikemukakan Presiden saat memberikan sambutan pada pembukaan pameran internasional kerajinan (Inacraft) 2006 di Balai Sidang Jakarta (JCC), Rabu (19/4) pagi. SBY menegaskan, tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah yang dipimpinnya dan seluruh bangsa Indonesia saat ini adalah bagaimana memerangi kemiskinan dan pengangguran. ''Meskipun sekarang ekonomi kita semakin baik dibandingkan dari tahun ke tahun setelah kita mengalami krisis, misalnya ditinjau dari pertumbuhan ekonomi yang tadinya minus merangkak pelan-pelan dari 5,1% pada 2004 dan 2005 menjadi 5,6%, mudah-mudahan kita dapat bertahan dan meningkat lagi,'' kata dia. Presiden tak dapat menyembunyikan kegembiraannya atas indikator ekonomi lainnya, yakni indeks harga saham gabungan (IHSG), pada hari-hari belakangan ini terus naik dan mencapai rekor tertinggi, di atas level 1.400. Demikian pula kurs nilai tukar rupiah yang tahun lalu sempat terguncang belakangan menunjukkan penguatan yang sangat besar. Cadangan devisa pun mencapai angka tertinggi dalam sejarah Indonesia, yakni 41,8 milyar dolar. ''Tapi semuanya itu belum mencapai sasaran yang sesungguhnya apabila belum kita transformasikan langsung untuk mengurangi kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Dan pemerintah sangat mengetahui yang kita tuju adalah itu,'' tandas Kepala Negara. Namun, lanjutnya, berdasarkan pengalaman bangsa ini dan banyak negara, memang tidak semudah membalik telapak tangan upaya mengurangi kemiskinan dan pengangguran itu. Kendati demikian kedua hal tersebut harus tetap diperjuangkan secara gigih.(A20-49v) |