logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 20 April 2006 NASIONAL
Line

Para Petinggi GAM Tiba di Aceh

BANDA ACEH-Sejumlah petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang selama ini bermukim di Swedia, di antaranya Malik Mahmud yang dikenal sebagai Perdana Menteri dan Dr Zaini Abdullah (Menteri Kesehatan) tiba di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Mereka disambut dengan lantunan Shalawat Badar.

Rombongan petinggi GAM tersebut tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, Rabu sekitar pukul 16.15 dengan menggunakan pesawat komersial. Kedatangan mereka disambut Sekdaprov NAD, Husni Bahri TOB, mantan Wakil Gubernur NAD, Azwar Abubakar, serta para tokoh GAM di Aceh.

Kedatangan petinggi GAM tersebut, khususnya Malik Mahmud dan Zaini Abdullah, mendapat pengawalan ekstra ketat dari mantan Tentara Nasional Aceh (TNA) GAM.

Sesampai di ruang VIP bandara, rombongan disambut para tamu yang sudah menunggu sejak pukul 14.00. Kemudian rombongan menuju Kantor Komite Peralihan Aceh (KPA) di Desa Lamdingin, Banda Aceh.

25 Tahun

Kepulangan Malik Mahmud dan teman-temannya merupakan kali pertama setelah hampir 25 tahun lebih mereka berada di luar negeri.

Agenda Malik di Aceh antara lain akan menyampaikan nota kesepakatan damai (MOU) Helsinki, menerima laporan tentang berbagai isu yang belum dicapai di lapangan, dan memonitor proses pembahasan Rancangan Undang-undang Pemerintahan Aceh (RUUPA).

Selanjutnya, memantau kondisi Aceh pascapenandatanganan MoU dan melihat secara dekat respons masyarakat terhadap perdamaian. Selain itu, petinggi GAM juga akan melihat tahanan GAM yang masih mendekam di tahanan.

Kedatangan petinggi GAM ke Aceh, mendapat sambutan positif dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Meski kedatangan mereka untuk menciptakan perdamaian, tapi Badan Intelejen Negara (BIN) perlu mewaspadai.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua DPR Soe- tardjo Soerjogoeritno (Mbah Tardjo) di gedung DPR/MPR Senayan Jakarta, Rabu (19/4). Dia mengatakan, kedatangan mantan GAM yang kini menjadi warga negara Swedia itu ke Aceh bisa berdampak positif, bisa juga negatif.

''Dampak negatifnya kedatangan itu bisa menimbulkan pro dan kontra. Positifnya mantan GAM itu bisa membawa misi perdamaian di Aceh,'' katanya. Dia akan menyerahkan masalah ini sepenuhnya kepada Presiden SBY selaku panglima tertinggi. Termasuk juga sikap BIN dan Kapolri atas kedatangan mantan GAM itu.

Mbah Tardjo mengatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa pemaaf yang cepat melupakan masa lalu.

''Orang Indonesia itu terlalu baik, dan kadang-kadang sudah melupakan kejadian yang baru berlangsung kemarin,'' ujarnya.

Secara terpisah, Ketua Pansus RUU PA Ferry Mursyidan Baldan juga menyambut baik kedatangan petinggi GAM ke Aceh. Ferry meminta agar para mantan anggota GAM segera melakukan reintegrasi dengan masyarakat Aceh.

''Bisa saja jika para petinggi GAM itu ingin bertemu dengan anggota Pansus RUU Pemerintahan Aceh. Tapi pertemuan itu bukan dalam konteks menyerap aspirasi. Sebab, penyerapan aspirasi itu sudah dilakukan,'' tuturnya. (H28,ant-48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA