logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 20 April 2006 NASIONAL
Line

Seniman Ketoprak Balekambang Menyiasati Hidup (1)

''Nek Mboten Cekap, Nggih....''


PERBAIKI KURSI Gatot Widodo, pemain ketoprak Balekambang memanfaatkan waktu luang dengan kerja sambilan memperbaiki kursi, kemarin. (57v) SM/Wisnu Kisawa

Di tengah ramainya persaingan aneka macam hiburan masyarakat, seniman Ketoprak Balekambang Solo mencoba tetap bertahan. Bagaimana kehidupan para seniman nguri-uri budaya tradisional yang hampir punah itu? Berikut catatan wartawan Suara Merdeka dalam dua seri mulai hari ini.

Selebihnya, kawasan yang tepatnya terletak di pinggiran Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Manahan, Kecamatan Banjarsari, Solo, tersebut lebih tampak lengang, kalau tidak bisa dikatakan sepi sama sekali.

Adalah Gatot Widodo yang tengah bekerja membetulkan kursi saat itu. Lelaki berambut ikal tersebut termasuk anggota ketoprak Kerabat Kerja Seniman Muda Surakarta (KKSMS) atau yang selama ini lebih dikenal dengan sebutan Ketoprak Balekambang, sebuah kelompok ketoprak tobong yang komunitasnya kini telah identik dengan kawasannya.

''Yah, daripada nganggur, Mas. Bantu-bantu teman membetulkan kursi seperti ini, bisa untuk menambah penghasilan,'' ujarnya saat ditemui Suara Merdeka.

Apa yang dilakukan oleh Gatot tersebut, hanyalah sebuah contoh kecil tentang realitas kehidupan yang harus dihadapi oleh para pemain Ketoprak Balekambang. Di luar itu, masih banyak lagi contoh-contoh lain yang juga tak kalah getirnya. Itu harus dihadapi oleh kelompok seniman yang mencoba tetap setia terhadap dunianya dengan memanfaatkan bekas Gedung Srimulat Solo tersebut.

''Wah, kalau pemain ketoprak yang nyambi kerja serabutan, hampir semuanya, Mas. Jadi tidak hanya Gatot saja,'' ujar Agus Paminta, orang yang dituakan oleh komunitas Ketoprak Balekambang, saat ditemui di rumahnya.

Lelaki berusia 67 tahun yang dalam pementasan ketoprak sering bertindak sebagai sutradara itu, kemudian menyebut beberapa nama yang juga bekerja sambilan.

''Mas Nano (Nano Pramudya) di samping rumah saya ini, kalau siang juga bekerja sebagai tukang becak. Lalu ada lagi Pak Bodong (Totok Suprapto) yang sekarang nyambi jualan baju rombengan,'' jelasnya.

Di luar nama-nama tersebut, Agus kemudian juga menyebutkan beberapa pekerjaan yang juga sering dilakukan oleh orang-orang di komunitasnya. Baik itu sebagai tukang batu, tukang parkir maupun sekadar jualan makanan ringan di rumah.

''Kalau saya sendiri sudah tak kuat lagi untuk bekerja di luaran. Sambilan saya, ya hanya membuat naskah ketoprak seperti ini. Terkadang kalau ada yang membutuhkan, ya dapat sedikit-sedikit pemasukan,'' katanya seraya menunjukan beberapa naskah ketoprak hasil karyanya.

Perubahan Minat

Kehidupan para seniman Ketoprak Balekambang, memang berbanding terbalik dengan gambaran hidup yang sering mereka lakoni di atas panggung. Jika dalam pertunjukan pemeran raja dan bangsawan atau pun prajurit akan selalu bergelimpangan harta benda, maka yang terjadi dalam kehidupan keseharian mereka akan sangat jauh dari realitas.

Begitu sulitkah kehidupan ekonomi para pemain ketoprak tersebut, hingga mereka harus mencari kerja sambilan? Pertanyaan itu mungkin akan terjawab, saat menyimak apa yang dituturkan oleh Agus Paminto berkait dengan kondisi kehidupan ketoprak tobong sekarang, utamanya yang dialami Ketoprak Balekambang.

''Kehidupan ketoprak sekarang itu sangat jauh berbeda dengan masa sebelum 1980-an. Buktinya, setiap kali kami pentas, penontonnya hanya bisa dihitung dengan jari. Agaknya memang telah terjadi perubahan minat masyarakat terhadap pertunjukan kesenian tradisional,'' tuturnya.

Menurut dia, jika di rata-rata setiap malam penonton yang menyaksikan pertunjukan ketoprak di Balekambang tak akan lebih dari belasan. Dengan harga tiket Rp 3.000 untuk kelas I dan Rp 2.500 untuk kelas dua, bisa dibayangkan berapa penghasilan yang bisa didapatkan setiap malam oleh kelompok seniman tersebut.

''Padahal, jumlah anggota seniman yang ada di tempat itu 60 orang. Taruhlah, misalnya, setiap malam ada 20 pengunjung, yang berarti maksimal menghasilkan Rp 60.000. Dibagi 60 orang, berapa penghasilan yang kami terima,'' ujarnya dengan nada setengah bertanya.

Beruntung, selain pendapatan dari penjualan karcis, Pemkot Surakarta pernah mengulurkan dana abadi yang disumbangkan kepada komunitas seniman itu. Dari bunga yang diambil setiap bulan, mereka setiap hari bisa mendapatkan tambahan penghasilan, meski kemudian jumlahnya tetap saja di bawah standar penghasilan

''Dari pendapatan penjualan karcis dan dana abadi, setiap hari kami mendapatkan penghasilan Rp 2.000,'' jelas Agus.

Berkaitan dengan jumlah penghasilan sebanyak itu, ada pengakuan menarik dari Siti Maragus Purwani, yang tak lain adalah istri Nano Pramudya. Menurut penuturan pemain ketoprak yang pernah menjadi primadona tobong pada awal 1980-an itu, berapa pun penghasilan yang didapatkan tetap harus disiasati agar bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.

''Nek mboten cekap, nggih pripun carane dicekap-cekapke (kalau tidak cukup, ya bagaimana caranya agar bisa dicukup-cukupkan,'' ujarnya saat ditemui di rumah Agus Paminto.

Itulah di antaranya, mengapa kemudian hampir seluruh pemain Ketoprak Balekambang harus bekerja sambilan. Penurunan minat masyarakat terhadap tontonan seni pertunjukan tersebut, telah membuat para senimannya harus berhadapan dengan kehidupan yang getir. Bekerja apa pun dijalani, asalkan bisa menambah penghasilan.

Maka jangan heran pula, jika kehidupan di kawasan Balekambang akan terasa berbeda antara siang dan malam. Siang akan lebih tampak lengang, karena para penghuninya banyak yang keluar rumah untuk sekadar mengais rezeki. Namun pada malam harinya, akan berubah menjadi sedemikian dinamis, saat di panggung telah dimulai pertunjukan. (Wisnu Kisawa, Sri Wahjoedi/Bersambung-64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA