| Kamis, 20 April 2006 | NASIONAL |
HB X: 10 Hari Lagi Merapi Meletus
YOGYAKARTA - Perkiraan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bahwa dalam 10 hari Gunung Merapi bakal meletus didasari oleh data-data ilmiah dan bukan ramalan paranormal. Karena itu, dia meminta masyarakat segera bersiap-siap melakukan pengungsian apabila kondisi memang sudah mengkhawatirkan. Sultan menegaskan kembali prediksinya itu Rabu (19/4). Dia membeberkan itu berdasarkan data-data dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. ''Fakta dan data ilmiah menyebutkan aktivitas Merapi terus meningkat, dan sudah dalam kondisi kritis. Itu bukan ramalan paranormal, tapi ada data-datanya. Perkiraan saya 10 hari sampai dua minggu lagi,'' tandas Sultan di kantornya, kemarin. Dia menegaskan, permintaan untuk segera mengungsi ditujukan terutama kepada warga yang tinggal tak jauh dari puncak gunung. Alasannya, jika tidak segera mengungsi, masyarakat akan kesulitan ketika tiba-tiba Merapi meletus. Jadi, lebih baik melakukan persiapan sejak dini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. ''Jarak letusan ke desa terdekat hanya sekitar lima kilometer, lahar yang turun hanya perlu waktu 10 menit. Kalau tidak sejak awal mengungsi, jelas membahayakan,'' tegasnya lagi. Saat ini, tambahnya, pengungsian masih bisa dilakukan sebatas pada malam hari. Keesokan harinya, warga bisa kembali beraktivitas seperti biasa dengan catatan tetap sambil berjaga-jaga mengawasi Merapi dan mendengarkan tanda-tanda bahaya. Wajib Mengenai masih adanya sebagian penduduk sekitar lokasi bencana yang keberatan mengungsi, Sultan menanggapi, dia wajib memberikan peringatan untuk menyelamatkan rakyat. Namun kalau ternyata tetap ada yang ngeyel bertahan, dia meminta agar melihat kenyataan yang ada. ''Nanti kalau sudah meletus dan saya baru ngomong, disalahkan. Saya kan punya kewajiban menyelamatkan masyarakat,'' tegasnya. Instruksinya tak hanya untuk warga, tapi juga hewan ternak. Sebaiknya sejak sekarang masyarakat setempat sudah mengungsikan hewan ternaknya, seperti sapi dan kambing agar ketika terjadi bencana tak lagi mempunyai beban harus membawa ternak. Kemarin, penduduk di sekitar lereng Merapi di Cangkringan, misalnya, sudah melakukan latihan evakuasi. Begitu mendengar titir (kentungan) dan sirine bahaya, mereka harus segera menghentikan aktivitas dan langsung berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Dari temat itu mereka langsung dibawa ke penampungan pengungsian. Berdasar Perhitungan Secanggih apa pun peralatan maupun personel yang dimiliki kantor BPPTK Yogyakarta, tidak akan pernah bisa memprediksi secara tepat kapan gunung Merapi akan meletus. Tapi mengingat besarnya bahaya yang bisa ditimbulkan, kantor itu tetap harus melakukan pengamatan dan memberikan prediksi tentang segala sesuatu yang telah, sedang, maupun bakal terjadi. ''Kami tidak pernah akan bisa memastikan,'' ujar Kepala BPPTK Yogyakarta, Dr Ratdomopurbo, singkat kepada anggota Komisi D DPRD DIY, H Soekamto SH, kemarin (19/4). Mendapat jawaban singkat itu, Soekamto yang anggota dari fraksi FKB lalu mempertanyakan eksistensinya sebagai seorang pakar gunung api bertitel doktor. ''Lha wong Sultan saja bisa memprediksi kapan letusan akan terjadi,'' kejar Soekamto. Mendapat desakan itu, Ratdomopurbo menjawab singkat juga. Katanya, karena dia memakai perhitungan. Mendengar jawaban singkat itu, sejumlah anggota Komisi D DPRD DIY bersama Kepala Kimpraswil DIY, Ir Tri Harjun, tertawa. Ketika ditanya dasar/pertimbangan prediksi Sultan itu berdasarkan masukan darinya, Ratdomopurbo membantah. ''Ya silakan tanya kepada Sultan, dapat wangsit dari mana, saya tidak tahu,'' ujarnya. Pertanda Baik Hujan abu yang terjadi Selasa (18/7) pukul 21:00, disambut gembira oleh sebagian warga. Karena hujan itu sebagai pertanda baik bagi warga, masyarakat yakin setelah ada hujan abu tidak akan ada letusan besar. Warga juga pecaya, ketika terjadi hujan abu, berarti material di puncak Merapi sudah menjadi abu dan terbawa angin ke lereng-lereng. ''Pengalaman tahun sebelumnya, kalau didahului hujan abu, Gunung Merapi meletusnya pelan. Kalaupun tidak meletus, mungkin hanya ada lava pijar yang meleleh berlahan,'' kata Maryoto (60), warga Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Selasa (18/4) malam. Ketika turun hujan, dia baru pergi ke kandang yang terletak di ladangnya dengan tujuan memberi makan sapi. Letak kandangnya sekitar lima kilometer dari rumahnya. Baru setengah perjalanan, dia merasakan sesuatu yang kasar -seperti pasir- menerpa wajahnya. Untuk memastikan bahwa itu adalah hujan abu, dia beberapa kali mengusap wajahnya dengan tangan. ''Beberapa kali saya mengusap wajah. Saat itu juga saya kaget. Ini pasti hujan abu. Dalam hati saya bertanya, apakah Merapi sudah meletus,'' ujarnya. Dengan langkah seribu, dia bergegas segera menyelesaikan niatnya memberi makan sapi. Dia merasakan hujan abu itu hanya berlangsung sebentar, tidak lebih dari dua menit. Kendati demikian, dia buru-buru pulang dan memberitahukan kabar itu kepada keluarga dan tentangganya. ''Ada dua kemungkinan jika terjadi hujan abu; yakni pertanda baik dan bisa juga petanda buruk. Namun setelah beberapa lama saya menunggu informasi dari aparat desa, ternyata belum ada tanda bahaya Merapi. Saya lega, mungkin hujan abu itu petanda Merapi aman,'' tandasnya. Kunjungan Mensos Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah meminta masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana Merapi jangan menunggu wangsit. Tetapi hendaknya segera mengungsi ke tempat penampungan sementara (TPS), jika terjadi keadaan darurat. ''Warga hendaknya segera mengungsi setelah ada peringatan dari pemerintah. Teknologi sudah maju, kok masih ada wangsit,'' katanya, di sela-sela meninjau kesiapan Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana) Kabupaten Magelang dalam menghadapi kemungkinan adanya bencana akibat letusan Merapi, Rabu (19/4). Dari paparan yang disampaikan Hery Prawoto, Kasi Penanggulangan Bencana Kantor Kesbanglinmas Kabupaten Magelang, Menteri menilai kesiapan Satlak PB sudah memadai, seperti TPS, TPA, serta kendaraan pengangkuat evakuasi. Dia minta perlengkapan yang kurang segera dilengkapi hari ini oleh bupati. ''Jangan sampai jika terjadi keadaan bahaya ada kekurangan logistik, sehingga masyarakat tidak makan,'' katanya. Persediaan beras untuk pengungsi yang hanya 10 ton, kata Bactiar, hari ini akan disuplai 160 ton agar bisa mencukupi kebutuhan. Menyinggung masalah dua desa di Kecamatan Srumbung, Kaliurang dan Nglumut, merupakan desa yang paling sulit dijangkau mobil untuk evakuasi, menurut Bachtiar, jika perlu nanti dievakuasi melalui udara. Mensos juga mengunjungi Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Dalam kunjungan itu, Mensos mendapat penjelasan dari Bupati Boyolali, Drs H Sri Moeljanto. Menurut Bupati, ada beberapa dukuh yang sangat rawan terhadap letusan gunung, sebab letaknya sangat berdekatan dengan puncak gunung. Di antaranya Dukuh Sumber, Bakalan, dan Bangunsari, Desa Klakah, yang merupakan ring I. Selain itu, Dukuh Sepi dan Kajor, Desa Jrakah, yang masuk dalam ring II. Untuk ring III adalah Dukuh Stabelan, Takeran, dan Mbelang, Desa Tlogolele. Warga lereng Merapi, sebaiknya jangan mempercayai hal-hal yang bersifat mistis, apalagi menunggu wangsit. Namun demikian, warga diminta untuk lebih mempercayai kemajuan pengetahuan dan teknologi. ''Kami minta warga jangan mudah percaya dengan mistis,'' kata Menteri Sosial, Bachtiar Chamsyah di sela-sela kunjungannya di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Rabu (19/4). Kendati status Merapi masih Siaga, pemerintah sudah menyiapkan empat buah skenario terhadap kemungkinan arah letusan Gunung Merapi dengan tingkat risiko yang berbeda-beda. Demikian dikatakan Menko Kesra, Aburizal Bakrie (Ical) , Selasa malam, usai memimpin rakor kesra mendadak di Kantor Kementrian Kesra, Jakarta. Dia mengatakan, keempat skenario tersebut yaitu; pertama, letusan akan terjadi secara normal ke arah barat daya dengan risiko rendah. Kedua, letusan terjadi ke arah utara dengan risiko cukup rawan. Ketiga, letusan terjadi ke arah selatan dengan tingkat risiko cukup rawan; dan yang terakhir adalah terjadi longsoran pada puncak Merapi dengan tingkat risiko tinggi. Namun, dari keempat skenario tersebut, skenario ketiga jarang terjadi; tapi itu bukan tidak mungkin terjadi. ''Sementara itu yang paling rawan adalah bila puncak merapi longsor, karena akan meluapkan puluhan juta kubik material, tanah, serta sedimen,'' kata Ical. Saat ini, pemerintah sudah bersiaga sejak dini untuk mengantisipiasi kemungkinan apabila terjadi letusan Gunung Merapi. Sementara itu, Kepala Badan Geologi Departemen ESDM, Bambang Dwiyanto mengatakan, ada kecenderungan peningkatan aktivitas Merapi pada Selasa 18 April. ''Setidaknya terjadi lebih dari 11 kali gempa vulkanis dangkal, 131 kali gempa permukaan, dan guguran larva sebanyak lebih dari 17 kali,'' katanya.(D19,P58,sho,pr,shj,H27,sgt-49,64a) |