logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 April 2006 PANTURA
Line

Batik Khas Pemalang Terancam Punah

PAMOR kerajinan batik sejak dahulu milik Kota Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Padahal, di beberapa daerah lain ada juga kerajinan serupa. Sayang, tenggelam tak dikenal orang.

Seperti halnya di Kabupaten Pemalang. Warga kota pesisir itu sebenarnya banyak yang menekuni kerajinan batik tulis. Namun karena kalah pamor dengan Pekalongan, luput dari perhatian publik dan kini terancam punah.

Plt Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Penanaman Modal Pemalang Sumartana mengemukakan, para perajin batik tulis di wilayah kerjanya sekarang rata-rata berusia di atas 50 tahun. Sementara itu, generasi muda mereka tidak ada yang berminat menekuni.

''Bila hal itu dibiarkan maka bisa juga punah,'' ujarnya, kemarin.

Dia menyebutkan, seni batik tulis dari Pemalang kalah tenar dengan Pekalongan karena kualitasnya berbeda. Jika diteliti dengan saksama, menunjukkan hasil yang kurang rapi. Misalnya gambar bunga satu dengan yang lain dalam satu kain ukurannya tidak sama. Demikian pula warnanya. Sementara itu motif, warna, dan kualitas pekerjaan kain batik tulis dari Pekalongan dikerjakan dengan teliti.

Akan tetapi, kelemahan hasil seni batik tulis dari Pemalang tidak terlalu kentara. Kalau bukan ahlinya, pasti tidak akan melihat perbedaan tersebut.

Batik Cap

Para perajin batik tulis di Pemalang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Petarukan dan Comal. Kondisi mereka tidak menentu tergantung pada situasi. Kadang membuat batik kadang tidak. Jika ada stok produksi dan butuh uang, kain batik bisa dijual tidak sesuai dengan standar.

Guna menggairahkan kegiatan mereka, Diperindag sedang menjajaki untuk mengubah batik tulis menjadi cap. Dilihat dari pembuatannya, batik cap lebih gampang dan lebih rapi. Sementara itu, motifnya masih khas Pemalang, yaitu Parang Curiga, Kepedak, Gemek Setekem, dan Sawat Rante.

Dari empat motif itu, yang sering dipesan orang adalah Parang Curiga. Diperindag pernah memesan 50 potong untuk dipakai dalam perayaan HUT Pemalang pada Januari lalu.

Penyebab makin surut kegiatan seni batik tulis itu karena biaya produksi dan tenaga tidak sebanding dengan harga jual. Untuk setiap potong batik tulis minimal menghabiskan biaya Rp 100.000 dengan waktu pembuatan sekitar dua minggu.

Sementara itu, harganya Rp 150.000-Rp 200.000. Bahkan, terkadang dijual di bawah biaya produksi karena butuh uang. Faktor lain, kecintaan masyarakat terhadap kain batik sudah semakin luntur. Mereka hanya mengenakannya pada acara-acara tertentu. (Saiful Bachri-52j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA