logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 April 2006 INTERNASIONAL
Line

Ahmadinejad Santai Hadapi Ancaman Perang

TEHERAN - Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ternyata tidak memahami nuansa (perbedaan yang sangat kecil). Ketika dia memberi ''hadiah'' kepada dunia, dia juga merobek-robek bungkusnya.

Dia mengatakan Iran telah memperkaya uranium dan menjadi negara nuklir. Benar atau tidak, tak masalah. Begitu juga dengan pentingnya kerangka waktu ''nyata'' untuk menentukan kapan Iran memiliki senjata nuklir - satu setengah tahun, dua tahun, atau bahkan lima tahun.

Namun tidak ada ambiguitas di Iran tentang tujuan itu, meski negara tersebut mengklaim aktivitas pengayaan uraniumnya tidak untuk membuat senjata nuklir, Ahmadinejad secara provokatif menuntut masyarakat nuklir dunia menyambut Iran masuk kelompok itu - atau berperang melawan Iran.

Jadi, presiden Iran itu menjauhkan diri dari belitan dilema tersebut dan menempatkannya di tangan ''dunia'' - bernama Amerika Serikat.

Opsi militer mungkin sangat menggembirakan; dan di beberapa tempat, ada orang yang sudah siap memencet tombol untuk melancarkan perang - namun Ahmadinejad santai saja.

Satu serangan militer ke Iran bisa menyulut serangan dua arah Iran ke Irak. Pertama, serangan rudal terhadap sasaran-sasaran militer, dan kedua, serangan oleh para aktivis - teroris dan agen politik - yang dimaksudkan untuk mengubah Irak menjadi bagian dari wilayah Iran.

Serangan terhadap Iran akan menyatukan rakyat negara itu, termasuk mereka yang menentang ayatullah. Serangan juga akan makin memperkuat rezim mereka, dan visi perubahan rezim di negara itu akan menguap.

Dua Kegagalan Besar

Aksi militer juga akan menggambarkan Iran sebagai korban, yang diinjak-injak oleh Amerika Serikat. Aksi itu juga bakal membangkitkan solidaritas Arab terhadap Teheran, merangkul Rusia seperti yang biasa dilakukan, dan meningkatkan sentimen-sentimen anti-AS bukan hanya di Timur Tengah.

Dan dari semua itu menjadi jelas target-target mana yang harus diserang dan apakah intelijen Barat tahu betul dengan semua target itu.

Dilema-dilema ini tampaknya terjadi akibat dua kegagalan sangat besar - lemahnya pengawasan internasional, dan ilusi yang merusak bahwa makhluk teoritikal bernama masyarakat internasional bisa mendikte kebijakan antinuklir global.

Namun terlalu mudah menyalahkan inspeksi internasional, ketika para politikus berupaya memutuskan siapa yang sebenarnya berbahaya. Di Irak, tim inspeksi internasional dengan benar mengklaim bahwa Saddam Hussein tidak punya senjata pemusnah massal. Pemantauan tampaknya merupakan cara yang paling efektif, namun tak seorang pun di Washington mau mempercayai tim inspeksi. Perang pun dilancarkan meski ada pemantauan.

Banjir air mata mungkin terjadi akibat inpotensi internasional. Namun itulah kenyataannya. Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Mohamed ElBaradei mengakui bahwa kebijakan sanksi atau perang tidak ada gunanya. Dia mengusulkan sesuatu yang praktis - membentuk bank material untuk mengembangkan nuklir yang bisa dipantau secara internasional. (haaretz-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA