logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 April 2006 PANTURA
Line

Pembatik Tegal Terancam Tidak Punya Penerus

TEGAL - Sejumlah perajin batik tulis tegalan di Kota Tegal khawatir, karena mereka tidak punya penerus. Pasalnya, kebanyakan anak mereka memilih merantau ke Jakarta setelah lulus sekolah, daripada menjadi pembatik di kampung sendiri.

Padahal, prospek penjualan batik tegalan semakin bagus, seiring dengan semakin dikenalnya jenis batik tersebut di pasaran. Oleh karena itu, para perajin berharap ada pelatihan batik tegalan untuk generasi muda, termasuk anak-anak sekolah.

Sentra batik tegalan adalah Kelurahan Kalinyamat, Kecamatan Tegal Selatan. Korilah, salah seorang pembatik di kelurahan itu, mengatakan tenaga pembatik yang ada saat ini hanya sekitar 100 orang.Itu pun, hampir semuanya dari kalangan ibu rumah tangga. ''Yang masih menggeluti batik hingga sekarang kebanyakan para ibu rumah tangga yang tidak punya pekerjaan tetap,'' ujarnya.

Menurutnya, rata-rata, satu lembar kain batik tulis bisa diselesaikan oleh satu pembatik dalam waktu satu minggu. Karena itu, produksinya terbatas. Sebaliknya, pesanan terus meningkat.

Menurutnya, dalam waktu sebulan dia bisa mendapatkan pesanan antara 30 dan 50 lembar kain batik dengan harga jual Rp 90.000 hingga Rp 200.000 per lembar. Motif yang dijual adalah kawung, cempaka putih, beras mawur, benang pedhot, mayang jambe, dan grandil. Dengan hanya empat tenaga kerja, dia kesulitan untuk memenuhi pesanan. Untuk mencari tenaga baru juga sulit, sebab tidak banyak orang - khususnya kaum muda - yang bersedia jadi pembatik.

Pelarian

Menurutnya, kaum muda enggan menjadi pembatik karena pekerjaan tersebut memakan waktu lama dan butuh ketelitian. Selain itu, mereka juga tampaknya menganggap pekerjaan pembatik tidak punya gengsi.

Muniroh, pembatik yang lain, mengatakan banyak orang beranggapan membatik adalah profesi pelarian atau pekerjaan sampingan. Biasanya, seorang perempuan baru mau menjadi pembatik jika sudah menikah dan tidak punya pekerjaan lain. ''Kalau tidak ada generasi yang mau meneruskan usaha ini, saya khawatir batik tegalan akan punah dan hanya tinggal cerita saja,'' ujarnya. (H17-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA