logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 April 2006 PANTURA
Line

Balo-balo Meriahkan Maulid Nabi

RIBUAN anggota masyarakat memadati sepanjang jalan Kota Tegal, Minggu (9/4) malam. Sementara itu, di alun-alun juga terlihat padat. Malam itu, semua warga merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Perayaan tersebut merupakan agenda rutin tahunan dan digelar dalam bentuk pawai tradisional setiap 12 Rabiulawal.

Berbagai bentuk kesenian tradisional dan modern memeriahkan acara tersebut, antara lain marching band, rebana, dan balo-balo. Sebagian besar merupakan bentuk kesenian tradisional yang bernapaskan Islam.

Bahkan, kisah-kisah yang terjadi pada zaman Nabi juga turut ditampilkan. Salah satunya adalah kehadiran gajah yang ikut dalam barisan pawai. Kemudian, pertujukan teatris seorang pria mengenakan kain putih (representasi kaum muslim) dengan kedua tangan terikat dan kemudian dicambuki hingga berlumuran darah.

Selain itu, peserta juga menampilkan berbagai atraksi dan visualisasi kehidupan untuk mengingatkan masyarakat tentang perilaku salah dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Antara lain penampilan gambaran manusia yang menjadi ahli surga dan neraka.

Koordinator pawai drumben Heru Muko S menyebutkan, peserta pawai tahun ini terdiri atas 16 mobil, 21 drumben, dan 64 grup jalan. Menurut penilaiannya, jumlah peserta tahun ini lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya.

Rute pawai kali ini menempuh jarak 4,2 km mulai dari Balai Kota Tegal dan berakhir di Jalan KH Mukhlas.

Dia mengemukakan, pawai tersebut selain bertujuan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, juga untuk memberikan hiburan yang bernuansa islami kepada masyarakat. Hal itu sesuai dengan kultur masyarakat pesisir utara yang kental dengan nuansa keislamannya.

Di samping itu, pawai digelar sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pendidikan masyarakat. Karena itu, semua pihak dilibatkan dalam kegiatan tersebut termasuk anak-anak sekolah.

Salah seorang penonton, Ahmad Mustakhim, menuturkan, pawai tradisional atau pawai maulid tersebut sudah ada sejak 1940-an. Meskipun demikian, kegiatan itu terhenti pada 1990-an.

Pawai tradisional kembali diselenggarakan pada 2001 dan berlangsung secara terus-menerus setiap tahun hingga saat ini.

Menurut keterangannya, salah seorang tokoh yang memopulerkan kegiatan tersebut adalah Kiai Haji Mukhlas. Dia ulama di Kota Tegal dan tinggal di Kelurahan Panggung. (Wawan Hudiyanto-52j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA