| Selasa, 11 April 2006 | PANTURA |
Longsor Susulan MengancamBUMIAYU - Empat puluh empat rumah milik warga Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, kini terancam longsor. Hal itu diketahui, setelah kondisi tanah di sekitar perkampungan tersebut banyak yang retak dan sebagian di antaranya ambles. Perkampungan yang berjarak 15 km dari ibukota Kecamatan Paguyangan, pada akhir Maret lalu mengalami bencana alam tanah longsor. Saat itu, terdapat dua rumah roboh, yakni milik Ratno (37) dan Jamil (40), warga RT 04 RW 06, Dukuh Kumambang, Desa Cilibur. Peristiwa tersebut tidak menelan korban jiwa, tetapi kerugian material diperkirakan mencapai Rp 35 juta. ''Sejak peristiwa longsor akhir Maret lalu, warga di sini cemas dan takut terjadi longsor susulan, apalagi belakangan hujan masih menguyur wilayah ini,'' ungkap Ahmad (45), warga Cilibur. Berdasarkan pantauan, 44 rumah warga tersebut dalam kondisi memprihatinkan. Letaknya berada di lereng bukit, yang di bawahnya terdapat aliran sungai. Karena posisi tanah banyak yang ambles, bangunan juga retak. Dari 44 rumah, 12 di antaranya mengalami rusak berat. Warga berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes segera merelokasi tempat tinggalnya karena rusak berat, bahkan sudah ada yang ambles dan sangat rawan terkena longsor susulan. Sebagian besar bangunan rumah retak-retak. Camat Paguyangan, Mudhi SIP, melalui Kepala Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) Kecamatan Paguyangan, Hartono SA, ketika dikonfirmasi membenarkan kondisi puluhan rumah di Dukuh Kumambang Desa Cilibur kini terancam longsor susulan. Menurutnya, selain kondisi rumah warga yang retak-retak, pedukuhan tersebut rawan longsor susulan, karena lokasinya yang berada di tepi sungai. Apalagi, peristiwa bencana yang menimpa Dukuh Kumambang bukan terjadi kali ini saja, tetapi merupakan yang ketiga kali dalam waktu tiga tahun terakhir. Usulkan Relokasi Dia mengatakan, untuk mengantisipasi longsor susulan yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan menghindari jatuhnya korban jiwa, pihak kecamatan telah mengusulkan relokasi bagi warga yang berada di daerah rawan bencana tersebut kepada Pemkab. Hal tersebut dilakukan atas kesadaran warga setempat, yang rumahnya terancam longsor. Bahkan, terkait rencana tersebut, pemerintah Desa Cilibur menyiapkan lahan relokasi kurang lebih seluas 3.000 meter persegi. Rencananya, lahan itu berlokasi di pasar lama desa setempat. Namun demikian, lanjut dia, apabila menghitung jumlah keluarga yang akan direlokasi, lahan yang disediakan belum mencukupi. Sebab, dari sejumlah 44 keluarga yang akan direlokasi, lahan yang diusulkan hanya mampu menampung sebanyak 12 keluarga, sehingga masih harus mencari lahan relokasi lagi untuk menampung yang lain. "Usulan relokasi itu sudah diajukan Pak Camat kepada Bupati dan tinggal menunggu realisasinya," ujarnya sambil menujukkan proposal pengusulan relokasi. Hartono menyebutkan, dari 12 desa yang ada di Kecamatan Paguyangan, delapan desa di antaranya merupakan daerah rawan longsor, meliputi Desa Ragatunjung, Pakujati, Winduaji, Wanatirta, Kretek, Pandansari, dan Cipetung. "Untuk relokasi, sementara ini baru di Desa Winduaji yang dilanda longsor pada akhir tahun 2005 lalu. Dari sebanyak 32 keluarga yang akan direlokasi, setengahnya sudah menempati lahan relokasi yang berjarak 1,5 kilometer dari titik longsor," katanya. (bs-17h) |