logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 April 2006 NASIONAL
Line

Kejahatan terhadap Nasabah Bank (1)

''Tukang Gambar'' Misterius Sulit Diringkus


KORBAN PERAMPASAN: Liem Edi Santoso (kiri), korban perampasan dua orang berboncengan motor seusai mengambil uang Rp 102 juta di Bank BCA Jalan Pemuda Semarang, sedang melapor ke polisi beberapa waktu lalu. (57j) - SM/Fahmi ZM

Lama tak muncul, kini kembali terjadi kejahatan yang dilaporkan menimpa nasabah bank. Aksi penjahat itu tidak lepas dari ''si tukang gambar''. Siapa dan bagaimana kerja si tukang gambar itu? Wartawan Suara Merdeka menuangkannya dalam tulisan berikut ini.

BIASANYA jenis kejahatan kriminal yang menimpa para nasabah bank adalah perampokan atau perampasan. Selain kerugian material yang mencapai ratusan juta rupiah, juga banyak nyawa melayang karena aksi perampok.

Meski banyak pelaku yang ditangkap bahkan sebagian tewas ditembak, toh kejahatan itu masih terus terjadi. Peristiwa terbaru di Semarang, perampasan yang menimpa Liem Edi Santoso (45), warga Citarum Utara II/6, Semarang Timur. Sepulang dari Bank BCA Jl Pemuda, dia menjadi korban perampasan oleh dua orang berkendaraan Yamaha RX King di Jl Pekunden Barat, Senin (3/4). Akibatnya, uang Rp 102 juta berikut tasnya berpindah tangan.

Meski laporan kejahatan itu masih diragukan kebenarannya, faktanya menunjukkan perampokan atau perampasan terhadap nasabah bank menjadi perhatian utama masyarakat.

Terutama bagi sebagian warga yang yang memiliki hubungan dengan bank yang cukup intensif. Bila tidak waspada, bisa-bisa mereka menjadi korban perampokan atau perampasan.

Tentu saja ada penyebab khusus yang menjadikan kejahatan itu selalu muncul. Apalagi, bila modus kejahatan yang digunakan para penjahat itu memiliki kemiripan. Dikuntit sekian lama lalu saat korban lengah mereka beraksi.

Bila korban melawan, pelaku tak segan-segan melukai hingga membunuh korbannya. Senjata yang dipakai pun bervariasi dari senjata tajam hingga pistol.

Aksi-aksi penjahat patut diduga telah direncanakan secara matang. Mereka punya otak atau pemimpin dalam setiap menjalankan aksinya. Namun selama ini yang selalu menjadi perhatian masyarakat adalah para eksekutornya.

Licin

Namun siapa di balik aksi-aksi itu kurang mendapat perhatian. Salah satu di antara pemeran penting dalam setiap aksi kejahatan dengan sasaran nasabah bank adalah tukang gambar.

Ya, tukang gambar. Pelaku yang berperan sebagai tukang gambar ini sangat licin dan tak pernah tertangkap. Dia selalu menghilang manakala para pelaku lainnya telah tertangkap.

Tukang gambar bukanlah berarti orang yang suka menggambar pemandangan atau menggambar orang atau sesuatu yang lain. Maksudnya adalah pelaku kejahatan dalam satu kawanan yang mampu menggambarkan secara lengkap mengenai situasi bank yang menjadi sasaran mereka.

Penggambaran itu meliputi kebiasaan-kebiasaan para nasabah bank, jam-jam sibuk di sejumlah bank dan sekaligus situasi lingkungan bank.

Berapa personel polisi atau satpam juga tak luput dihitung sampai pada kebiasaan karyawan bank. Mereka juga memelajari lorong-lorong atau jalan-jalan yang diperkirakan menjadikan peluang untuk kabur setelah mendapat mangsa.

Seorang sumber di jajaran Reskrim Polwiltabes Semarang menyebutkan, tukang gambar ini memiliki peranan yang amat penting dalam sukses-tidaknya aksi kejahatan.

Memotret

Keberadaan mereka sulit terlacak karena mereka beraksi layaknya nasabah bank. Mereka masuk, duduk, dan beraktivitas seperti orang biasa yang sedang bertransaksi dengan bank.

''Bila perlu pakai pakaian yang rapi, pakai dasi layaknya pengusaha atau orang penting di dalam bank saat melakukan observasi. Orang-orang seperti ini sulit dicari. Informasi sekarang ini mudah diberikan seiring dengan kecanggihan teknologi. Banyak ponsel yang bisa untuk memotret orang, bisa jadi setelah orang dipotret melalui ponsel, diberikan kepada kawan-kawannya, yang bertugas sebagai eksekutor,'' kata sumber tadi.

Sumber lain mengemukakan, bisa jadi tukang gambar itu sebagai otak kejahatan. Teknisnya, tukang gambar bisa saja menawarkan kepada para residivis atau pemain lama, agar menyatroni salah satu bank.

Dipimpin tukang gambar itu, mereka memperhitungkan aksi secara matang. Siapa sasarannya, bagaimana teknisnya, kecepatan kendaraan, senjata yang dipakai, posisi-posisi strategis sebagai pos menunggu mangsa sekaligus kapan momen yang tepat saat beraksi dan di mana mereka berkumpul membagi hasil kejahatan.

''Semuanya telah dipelajari dengan cermat,'' katanya.

Tukang gambar itu bisa menawarkan ''paket programnya'' itu kepada kelompok mana pun. Keberadaannya tidak terikat dengan satu kelompok saja.

Tukang gambar itu bisa melakukan pengamatan di salah satu lokasi sasaran cukup lama, bisa berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Sebagai langkah antisipasi preventif, sebenarnya petugas kepolisian telah menurunkan sejumlah personelnya untuk melakukan penjagaan di sejumlah bank.

Teknisnya, tertutup dan terbuka. Tertutup artinya petugas melakukan pengawasan dengan menggunakan personel reserse yang mengenakan pakaian preman.

Adapun pengawasan terbuka dengan pengamanan menggunakan petugas Samapta yang berseragam. Bahkan langkah represif juga beberapa kali dilakukan untuk memberantas para penjahat. Namun penjahat bukanlah sosok yang pasif.

Mereka memiliki seribu satu cara untuk mengegolkan rencananya, demi mendapatkan harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan menurut aturan normatif maupun positif.

Kapolwiltabes Semarang Kombes Suhartono melalui Kasat Reskrim AKBP Wagisan mengemukakan, sebenarnya pihaknya telah melakukan langkah-langkah persuasif di lingkungan bank. Salah satunya menempelkan pamflet-pamflet berisi imbauan kepada nasabah bank agar menggunakan pengawalan polisi bila mengambil uang cukup banyak.

''Memang, bagi pengusaha uang puluhan juta itu sedikit. Tetapi bagi masyarakat kecil, uang itu nilainya sangat banyak. Tidak ada salahnya bila para nasabah itu memanfaatkan pengawalan polisi. Toh tidak dipungut biaya. Kalau pun memberi itu hak nasabah, seiklasnya. Tidak ada tarifnya,'' kata dia.

Pengawalan itu, kata dia, bisa membuat para penjahat berpikir dua kali sebelum melakukan aksinya. Bila dalam satu mobil, ada tiga orang penumpang-satu nasabah dua polisi-penjahat sudah pasti akan ragu melanjutkan aksinya.

''Kami sudah mengimbau kepada bank-bank agar mengarahkan kepada nasabahnya untuk memanfaatkan pengawalan kepolisian,'' kata Wagisan.

Bukan Baru

Kerja kelompok perampok bank dengan membagi tugas dalam satu tim dengan adanya ''tukang gambar'', penghambat, dan eksekutor atau perampas dalam pandangan kriminolog Undip Budhi Wisaksono SH MH bukan suatu peristiwa baru dalam dunia kejahatan hitam.

''Meski aparat kepolisian menyediakan tenaga untuk menjaga nasabah saat bertransaksi pada sebuah bank, tak lebih dari 20 % nasabah bank yang menggunakan jasa ini,'' ujar Ketua Pusat Studi Kepolisian Fakultas Hukum (FH) Undip ini.

Kenapa bisa demikian? Budhi mengalisa, kondisi ini disebabkan beberapa kemungkinan. Pertama, tidak semua nasabah mengetahui hal ini. Faktor lain, nasabah tidak peduli terhadap penyediaan pelayanan keamanan oleh aparat kepolisian ini, nasabah takut terhadap jumlah bayaran yang diberikan kepada aparat keamanan, dan faktor jumlah polisi yang tak memadai saat dibutuhkan oleh nasabah bank.

Perampokan yang melibatkan saudara, sopir, atau orang dekat antara pelaku dengan korban, dalam pandangan Budhi, juga sudah lama terjadi. Dalam dunia kejahatan hitam, kedekatan antara pelaku dan korban seringkali menjadi peluang.

''Salah satu faktor penyebab kejahatan semacam ini adalah adanya ketidakadilan yang terjadi di dalam masyarakat. Maka, saya sarankan orang-orang kaya tidak demonstratif menunjukkan kekayaannya,'' tuturnya.

Selain itu, faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu. Perekonomian yang terpuruk, PHK, gaji yang tak mencukupi kebutuhan, dan kesenjangan perekonomian menjadi pemicu terjadinya aksi kejahatan.

Kejahatan semacam ini, lanjutnya, sangat berkait dengan pendidikan moral, budi pekerti, dan pengendalian diri individu yang ada pada suatu kelompok masyarakat.

Kalau orang kaya tidak menunjukkan kekayaannya secara demonstratif. Atau dalam suatu masyarakat mlarat semua, kejahatan hitam semacam perampokan nasabah bank, ujar dia, tidak akan terjadi.

Budhi mengungkapkan, dalam suatu hubungan antar individu saat ini menguat sekali kecurigaan antar sesama. Kalau ada seseorang yang kaya disebabkan ketekunannya bekerja bisa disangka kekayaannya merupakan hasil kejahatan.

Di sisi lain, sesama PNS dengan kedudukan, pangkat, dan penghasilan yang sama namun jumlah kekayaan yang dimiliki ternyata berbeda. Inilah awal, terciptanya sebuah kejahatan. (Karyadi, Widodo Prasetyo-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA