logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 April 2006 KEDU & DIY
Line

Mencari Investor pada Enam Simpul Baru

Kota Magelang menjadi salah satu kota tertua di Jawa Tengah. Hari ini, Selasa (11/4), daerah ini genap berusia 1100 tahun. Secara umum, Magelang sudah berkembang menjadi salah satu pusat perekonomian di Jawa Tengah bagian tengah. Tetapi keterbatasan luas wilayah dan potensi alam pada satu sisi, serta pertambahan penduduk dan kebutuhan yang makin meningkat di sisi lain, menyebabkan Pemerintah Kota (Pemkot) harus menyusun strategi baru untuk mempertahankan citranya sebagai kota jasa dan perdagangan.

MAU tahu daerah dengan wilayah terkecil di Jawa Tengah? Jawabannya Kota Magelang, yang wilayahnya hanya seluas 18,12 km2 atau 1.812 hektare (ha). Begitu kecilnya, sampai-sampai areal pertanian hanya seluas 12,08 persen dari total wilayah. Sedangkan hutan / kebun 5,49 persen, ladang 0,77 persen, dan kolam 0,36 persen. Selebihnya merupakan areal permukiman (72,73 %), perusahaan / industri (2,87 %), dan pemanfaatan lain (5,68 %).

Namun letak Kota Magelang sangat strategis, karena berada di jalur utama Semarang - Yogyakarta. Semarang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Jateng. Sedangkan Yogyakarta menjadi daerah tujuan wisata terbesar kedua di Indonesia (setelah Bali), yang sering menggeret turis asingnya ke Magelang.

Semua daya dukung ini mampu menutupi ''kekurangan'' Kota Magelang sebagai daerah terkecil di Jateng, bahkan mampu mengukuhkan diri sebagai kota jasa dan perdagangan di era modern. Sedangkan citranya sebagai pusat perniagaan di Wilayah Kedu, yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tidak pernah luntur.

Saat ini terdapat 10 pasar tradisional, antara lain Pasar Rejowinangun, Kebonpolo, Cacaban, dan Gotong Royong. Selain itu, pasar modern mulai bermunculan seperti Matahari Departemen Store, Trio Plaza, Hero, Gardena, dan kompleks pertokoan di Jalan Pemuda (dulu disebut kawasan Pecinan).

Sebagian besar penduduk di daerah tetangga, seperti Purworejo, Kabupaten Magelang, dan Temanggung, bangga kalau bisa berbelanja di Kota Magelang. Padahal, kalau dicermati, sebagian barang yang dibelinya bisa dijumpai di daerahnya sendiri. Pemkot Magelang bertekad mempertahankan citranya sebagai kota jasa dan perdagangan. Tekad ini pun dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2010.

Menurut Plt Sekda Kota Magelang, Drs H Surasmono MM, ada beberapa bidang jasa yang dikembangkan di daerahnya. Antara lain pusat pemasaran hasil pertanian dari daerah penyangga seperti Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Purworejo. Kemudian pusat perdagangan aneka barang -terutama produk elektronik, otomotif, sandang, dan sebagainya.

''Karena posisinya yang strategis, Magelang juga berkembang menjadi pusat pelayanan jasa transportasi menuju Yogyakarta, Semarang, Salatiga, Purworejo, Temanggung dan Wonosobo. Kberadaan jasa transportasi juga mendukung potensi wisata di Kota Magelang, terutama Kyai Langgeng, serta Candi Borobudur di Kabupaten Magelang,'' jelasnya dalam percakapan santai dengan Suara Merdeka di ruang kerjanya.

Daerah ini juga dikembangkan sebagai pusat jasa sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan olahraga. Apalagi didukung sarana-prasarana yang memadai, serta kualitas SDM yang relatif memadai. Selain memiliki beberapa sekolah unggulan, di kota ini terdapat enam perguruan tinggi, yaitu Universitas Tidar, Universitas Muhammadiyah, STMIK, Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, serta Akademi Air Minum yang menjadi satu-satunya di Indonesia. Ini belum termasuk Akmil yang dimiliki TNI.

Magelang juga menjadi kota pendukung berbagai pusat pendudukan kedinasan militer. Sejak 1957, TNI menjadikan kota ini sebagai kawah candradimuka untuk mendidik para taruna, dengan mendirikan Akademi Militer (Akmil). ''Kehadiran Akmil ikut membantu pertumbuhan Kota Magelang. Ribuan anggota TNI dan calon taruna mukim di sini. Banyak kerabat mereka dari luar kota yang datang ke Magelang, termasuk berbelanja di sini,'' kata Ketua DPRD Tri Djoko Minto Nugroho SE.

Problem Sosial

Sejak tahun 2000, pertumbuhan ekonomi di kota ini cukup mantap -kecuali 2003 yang hanya 2,7 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun 2005 tercatat 4,84 persen. Laju inflasi pada tahun yang sama juga rendah, yaitu 5,24 persen, di bawah inflasi nasional (6,40 %). Kualitas SDM pun relatif bagus. Indeks pendidikan tercatat 82,8, sedangkan indeks pembangunan manusia (IPM) 73,35 -peringkat keempat di Jateng. Derajat kesehatan juga relatif tinggi, sehingga usia harapan hidup warga Kota Magelang saat ini mencapai 74,71 tahun.

Namun berbagai problem sosial juga muncul. Pertumbuhan penduduk musthail untuk dinihilkan. Akibatnya, tanpa perluasan lapangan kerja, akan terjadi penambahan angka pengangguran dari tahun ke tahun. Ini berimbas pada peningkatan jumlah warga miskin, yang kini mencapai 26.260 orang, atau 22,44 persen dari total penduduk kota (117.008 jiwa). Padahal angka kemiskinan rata-rata di Jawa Tengah hanya sekitar 16 persen.

Semua ini menunjukkan bahwa pembangunan dan hasil-hasilnya belum tersebar merata di semua kelurahan dan keluarga. Apalagi tingkat kepadatan penduduk per kelurahan berbeda-beda, mulai dari 3.000 jiwa/km2 sampai 10.000 jiwa/km2 (rata-rata 6.446/km2).

Untuk mengurai kesenjangan tersebut, Pemerintah Kota Magelang menyusun berbagai kebijakan strategis. Antara lain dengan membentuk tiga kelurahan dan satu kecematan baru (lihat Pemekaran, Siasat Mengatasi Kesenjangan), serta membangun enam simpul ekonomi baru di kawasan-kawasan yang dianggap strategis. Upaya yang disebut terakhir ini sekaligus untuk lebih meneguhkan citranya sebagai kota jasa dan perdagangan.

''Pembangunan kawasan strategis ini diharapkan bisa menjadi simpul-simpul ekonomi dan keramaian baru. Kalau penyebaran pertumbuhan ekonomi dan keramaian bisa merata dan meluas, ini bisa mengurangi kesenjangan antarwilayah.''Pengembangannya disesuaikan potensi dan karakteristik wilayah,'' kata Kepala Badan Perencanaan Kota (Bapeko) Magelang, Drs S Budi Prasetyo MSi.

Enam simpul ekonomi baru yang dimaksud adalah kawasan GOR Samapta, Sidotopo, Sentra Perekonomian Lembah Tidar (Kerkoff -Red), Pasar Rejowinangun, Pasar Kebonpolo, dan kawasan Soekarno-Hatta. Kawasan GOR Samapta misalnya, dikembangkan menjadi kawasan olah raga dan rekreasi kota.

''Studi kelayakan pengembangan sudah dilakukan, meliputi rencana pembukaan jalan baru, dengan memanfaatkan jalan inspeksi Saluran Kali Bening. Dengan demikian, aksesibilitas dari maupun ke kawasan ini menjadi lebih terbuka,'' tambah Drs Arief Barata Sakti MT, kepala Bidang Litbang Bapeko.

Sedangkan Sidotopo dikembangkan sebagai kawasan pendidikan masa depan. Studi kelayakan pengembangan dan pembebasan tanah juga sudah dilakukan, sementara infrastruktur kawasan seperti jembatan dan jalan sudah disiapkan. Kawasan Lembah Tidar dikembangkan menjadi pusat perdagangan dan rekreasi (alami dan religi).

Selama ini, Lembah Tidar merupakan kawasan sentra perekonomian. Ada sekitar 2,6 ha lahan yang semula menganggur, namun sekarang mulai dibuka sehingga bisa diakses dari sisi timur.

''Kawasan Seokarno-Hatta diupayakan dengan rencana pembangunan Pasar Induk. Saat ini, Pemkot telah membebaskan tanah seluas 3 ha untuk pembangunan pasar. Sedangkan Kebonpolo akan ditingkatkan nilai ekonominya melalui pembangunan fasilitas perdagangan modern, dengan skala pelayanan tingkat lokal dan regional,'' jelas Arief.

Pemkot Magelang memang serius dengan rencana pengembangan kawasan ini. Untuk mempercepat realisasi, Pemkot menawarkan kepada investor lokal, regional, nasional, dan internasional untuk menanam modalnya dalam pengembangan kawasan ini.

'' Jika tidak ada investor yang masuk, kami akan membangun sendiri kawasan ini,'' tutur Drs Hartoko, kepala Bagian Organisasi Setda. (32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA