logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 11 April 2006 INTERNASIONAL
Line

Peluang Jaafari Bertahan Makin Tipis

BAGDAD - Peluang Perdana Menteri Ibrahim al-Jaafari untuk memperpanjang masa jabatan tampaknya kian tipis. Para politikus Kurdi dan Suni kemarin makin gencar menekan aliansi Syiah berkuasa untuk mencabut pencalonannya sebagai PM pemerintahan baru.

Para politikus beranggapan, pencopotan Jaafari dari bursa kandidat PM itu merupakan satu-satunya jalan untuk memecah kebuntuan politik di Irak. Krisis politik itu sebenarnya telah terlihat sejak pemilihan umum Desember lalu.

Selain itu, Irak makin mendekati ke jurang perang saudara lantaran konflik sektarian di negeri itu terus memakan korban. Kemunculan milisi yang sering mengeksekusi kelompok lain juga menambah runyam situasi.

Dhafir al-Ani, juru bicara Front Persatuan Irak (kubu Suni Arab terbesar di negeri itu), mengatakan kelompok itu telah memberi tahu aliansi Syiah untuk terus menolak pencalonan Jaafari.

Presiden Irak Jalal Talabani, yang juga pemimpin Kurdi, mengatakan kepada Aliansi Syiah Bersatu bahwa kubu Kurdi tidak akan mengendurkan penolakan terhadap pencalonan Jaafari.

Aliansi itu merupakan faksi terbesar di parlemen. Namun, aliansi Syiah konservatif itu membutuhkan suara Suni dan Kurdi untuk membentuk pemerintahan koalisi.

Sebagian anggota aliansi itu khawatir, pencopotan Jaafari dari pencalonan bisa menimbulkan perpecahan di kubu Syiah itu.

Tidak Becus

Para penentang Jaafari menuduh dia memonopoli kekuasaan dan tidak becus menjalankan pemerintahan. Bahkan tokoh-tokoh senior Aliansi Syiah menentang dia. Namun pemimpin Partai Dakwah mendukung pencalonannya.

''Sore ini (kemarin), ada pertemuan untuk berdiskusi dengan front-front lain yang menolak Jaafari. Pertemuan itu juga membicarakan kandidat pengganti jika Jaafari ditarik dari pencalonan,'' kata Jalal al-Deen al-Saghir, anggota senior aliansi Syiah itu. ''Tanpa Suni dan Kurdi, kita tidak dapat berbicara tentang pemerintah.'' Sumber senior aliansi itu mengatakan, kubu eks perdana menteri Iyad Allawi juga menolak Jaafari.

''Setelah kami secara formal mendengar dari pihak lain yang menolak bekerja sama dengan Jaafari, kami memutuskan untuk mengadakan pertemuan dan membuat keputusan mengenai hal itu,'' kata sumber itu.

Penjabat ketua parlemen Irak mengatakan Minggu lalu dia akan meminta parlemen bersidang dalam beberapa hari mendatang. Sidang parlemen itu diharapkan dapat mengakhiri kebuntuan politik selama ini.(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA