| Minggu, 02 April 2006 | OLAHRAGA |
Keajaiban Antusiasme Sepak BolaPIALA Dunia tinggal beberapa pekan lagi. Kita yang berada jauh dari poros perhelatan sudah sama tak sabarnya dengan masyarakat negara lain yang terlibat langsung dalam riuhnya Piala Dunia Jerman. Berbagai merchandise Germany 2006 sudah tersedia di pasaran sejak jauh-jauh hari. Bahkan ramalan-ramalan mengenai siapa yang punya kans besar merebut piala yang empat tahun lalu dibawa pulang Ronaldo dkk ke tanah Brasil juga sudah ramai dibicarakan media cetak dan elektronik. Acara blast from the past yang menampilkan berbagai pertandingan krusial Piala Dunia semenjak turnamen akbar ini pertama kali dilaksanakan 76 tahun lalu di Uruguay, sampai putaran final Korea-Jepang 2002 lalu, sudah ditayangkan stasiun televisi swasta pemegang hak siar resmi. Kita pun bisa menyaksikan gerak laju para legenda: Socrates, Zico, Pele, Maradona, Beckenbauer, Cruyff, Van Basten, Kempes, Zoff, Baggio, hingga Zidane tiap Minggu dini hari. Kuis-kuis di media juga berkisar pada bonus yang sama. Iming-iming nonton salah satu pertandingan di Jerman. Membuat kita makin tak sabar, makin tegang, dan makin menanti-nanti pertandingan pertama resmi digelar. Antusiasme sepak bola memang ajaib. Sebagai turnamen, Piala Dunia bahkan lebih ditunggu dan lebih menggairahkan dibandingkan dengan Olimpiade meskipun perhelatan itu menampung puluhan cabang olahraga dan diikuti oleh lebih banyak negara. Sepak bola adalah berlari, kecepatan, skill, mental, dan keajaiban. Selama beberapa pekan kita akan disuguhi tayangan pertandingan yang membuat jantung kita berdetak lebih cepat. Kita bisa saja menangis di akhir pertandingan, juga bisa tertawa lepas karena tim kesayangan kitalah yang akhirnya keluar sebagai kampiun. Mendadak kita bisa jadi "musuh" sahabat kita, karena membela dua tim yang berbeda. Tak ada yang salah. Toh setelah perhelatan usai, kita bisa berbaikan untuk "bertarung" lagi empat tahun mendatang. Dan jika selama ini kita yang penggemar Manchester United selalu beradu dengan kawan-kawan fans The Gunners Arsenal, maka di Piala Dunia kita bisa sehati karena sama-sama mendukung skuad Inggris. Kafe-kafe juga akan ramai. Tak mau kalah menyelenggarakan acara nonton bareng. Kacang atau cemilan lainnya akan jadi makanan favorit untuk menemani melek malam. Persediaan kopi juga tiba-tiba jadi wajib agar kita tidak ketinggalan tiap detik mendebarkan. Tak semuanya menanggung enak dari Piala Dunia. Para bos yang tak suka sepak bola, kantornya akan penuh suara dan gumam penuh gairah para karyawannya yang sedang mengulas pertandingan semalam. Para guru dan orang tua juga akan waswas, karena anak mereka bakalan lebih sering keluar malam nonton bareng teman-teman sebaya, dan menempatkan tugas sekolah pada prioritas kesekian. Dan para istri yang tak hobi nonton bola juga akan punya waktu lebih sedikit untuk menghabiskan malam berdua dengan sang suami. (40) Isma Savitri, pemerhati sepak bola |