| Minggu, 02 April 2006 | OLAHRAGA |
Pangeran Belia dari Pinggiran BarcelonaOleh: Amir Machmud NSSPEKULASI tentang hak atas tahta Eropa musim 2005-2006 hanya untuk Barcelona, Juventus, atau AC Milan, seolah-olah begitu saja dimentahkan oleh seorang bocah berwajah imut. Dan nalar perhatian sepak bola pun tiba-tiba bergeser ke Arsenal. Di kancah Liga Champions, kini bukan hanya Ronaldinho atau Lionel Messi yang dipercaturkan sebagai penyaji kemampuan puncak. Mau tidak mau, dunia merasa harus menoleh kepada pemain kelahiran 4 Mei 1984 di Villesoc del Mar di pinggiran Barcelona, yang pekan lalu menyihir publik Stadion Highbury dengan aksi-aksinya yang luar biasa. Francesc "Cesc" Fabregas Soler, si bocah tampan - saya bayangkan: di Indonesia pasti jadi rebutan produser sinetron! - itu memperlihatkan mobilitas, visi, dan peran sebagai dinamo Arsenal. Justru di tengah rasa kehilangan The Gunners atas kepergian Patrick Vieira ke Juventus. Namun bahkan Juventus sendiri pun akhirnya ditenggelamkan oleh kontribusi Fabregas yang malam itu layak dinobatkan sebagai sang "pangeran pertandingan". Vieira, yang selama ini dianggap sebagai nyawa Arsenal seperti halnya Roy Keane bagi Manchester United, akhirnya memang patut merasa tidak lagi menjadi tokoh yang kepergiannya harus disesali. Fabregas telah mengubah semua persepsi tentang kehadiran seorang yang sangat dibutuhkan, dan kini membuktikan sukses Arsene Wenger untuk mengentaskan sederet young guns: Robin van Persie, Mathieu Flamini, Gael Clichy, Jose Antonio Reyes, Theo Walcott, Philippe Sanderos, dan Emmanuel Eboue. Dia bukan hanya pilar utama Arsenal, karena tim nasional Spanyol pun membutuhkan kehadirannya sebagai seorang "pangeran" baru. Vieira, yang diakui sebagai mentor pun pernah meramalkan masa depan pemain yang sangat dianakemaskan Arsene Wenger itu lewat sebuah kalimat bersayap, "Melihat kemampuannya, tiba-tiba saya merasa sudah sangat tua". * * * MENGAPA Fabregas, dan mengapa Arsenal? Aksi-aksi segar pemain ini rupanya cepat meyakinkan dunia sebagai kehadiran seorang calon superstar, yang dalam rentang waktu menuju ke Piala Dunia 2006 di Jerman sangat pantas dimasukkan dalam "klub youngster" bersama Messi, Wayne Rooney, Robinho, dan Cristiano Ronaldo. Dari sisi Arsenal, Fabregas menjadi simbol kebangkitan dari tren terpuruk di kancah liga dan turnamen-turnamen domestik lainnya. The Gunners adalah satu-satunya wakil Inggris di Liga Champions setelah ketersingkiran MU, Chelsea, dan juara bertahan Liverpool. Lolos ke semifinal, kalau nanti mampu mempertahankan keunggulan atas Juventus di Delle Alpi, juga merupakan sejarah Eropa mereka. Peran Fabregas sudah dibuktikan dalam laga pertama di Highbury dengan satu gol dan satu assist bagi kemenangan 2-0. Melihat keterangkatan mutu permainan Thierry Henry dkk dalam pertemuan pertama kemarin, rasanya tidak berlebihan memasukkan mereka ke level yang pantas untuk menapak lebih dari semifinal. Masalah utama yang dihadapi Wenger selama ini adalah konsistensi. Begitu bagus di liga, tetapi Eropa seperti bukan levelnya. Padahal dari sisi apa pun, Arsenal dibela oleh punggawa-punggawa kelas utama. Jadi inikah saat spirit Fabregas memberikan inspirasi lebih untuk membuka sebuah era baru, era Eropa? Sulit memungkiri, kembalinya pesona Arsenal seolah-olah berada di tangan seorang bocah dari kawasan pinggiran Barcelona. Pada sisi lain juga memperlihatkan ketajaman visi Arsene Wenger dalam mengambil, menggosok, dan mematangkan bakat-bakat muda menjadi racikan Arsenal masa depan. Mirip dengan visi Alex Ferguson ketika pada pertengahan 1990-an begitu yakin menampilkan young guns angkatan David Beckham yang bahkan sempat mendapat kritik, "You can't win anything with kids". Ketika melepas Vieira ke Juventus, betapa banyak kritik yang harus diterima Wenger. Keberanian untuk menurunkan Fabregas - pada usia 17 - dalam pertandingan-pertandingan penting juga diselimuti kegalauan fans Arsenal, "Bagaimana mungkin anak kemarin sore itu yang diplot untuk menggantikan peran sang kapten?" Justru dengan keberanian semacam itulah seorang master sekaliber Wenger berbicara banyak tentang visi dan intuisinya. Fabregas akhirnya hadir bukan hanya menjadi gantungan bagi kerancakan orkestrasi Arsenal. Aksi-aksinya juga ditunggu seperti ketika kita berpikir tentang Barcelona dengan Ronaldinho dan Lionel Messi, MU dengan Rooney dan Ronaldo, atau Milan dengan Kaka dan Pirlo. Wenger pun kita yakin punya konsep matang untuk menjaga mutiara itu dengan cara yang tidak justru menenggelamkannya pada usia begitu muda. Kalau salah memperlakukan, bukankah dunia yang bakal kehilangan seorang pangeran bermasa depan cemerlang? (40) |