| Minggu, 02 April 2006 | OLAHRAGA |
Tuah Eksperimen London Utara"Kami berkembang dan bangkit kembali dalam dua bulan. Saya yakin kami telah membangun kembali karakter dan solidaritas. Ini selalu menjadi nilai dasar klub. Pada akhir tahun lalu, saya merasa tidak memiliki itu." ARSENE Wenger. Kian menjulang saja nama itu. Kendati Inggris selama dua musim ini nyaris menjadi milik Chelsea -termasuk dengan Jose Mourinho dan Roman Abramovich-nya- nama Wenger tetap tak bisa tenggelam. Bahkan di tengah-tengah keterseokan Arsenal di liga, auranya justru semakin moncer. Kemenangan Arsenal atas Real Madrid di babak 16 besar Liga Champions, Februari lalu, memberi dunia (sepak bola) sebuah keyakinan baru. Keyakinan bahwa tak selamanya pemain-pemain muda bisa dianggap remeh, bahkan oleh sekumpulan pemain kaliber internasional sekalipun. Wenger, manajer Arsenal itu, sangat senang melihat penampilan para pemainnya, yang menurut dia telah mempraktikkan permainan bertahan dan menyerang dalam sebuah keberimbangan. Satu hal lagi, anak-anak mudanya itu tampil bak kuda liar: stamina tak pernah kendor sepanjang 90 menit pertandingan. Padahal dia harus berpikir keras tatkala menjamu Madrid, karena lima beknya -Ashley Cole, Gael Clichy, Pascal Cygan, Sol Campbell, dan Lauren -absen. Wenger pun dengan penuh keterpaksaan menugaskan pemain belia Prancis, Mathieu Flamini sebagai bek kanan. Padahal Flamini biasa beroperasi di sektor tengah. Namun eksperimen itu membuahkan hasil. Madrid yang dijejali pemain bintang dan seluruhnya turun lapangan -Robinho, Zinedine Zidane, Ronaldo, Roberto Carlos, David Beckham, Raul Gonzales, dan Antonio Cassano, tidak berdaya. Mereka tak mampu membobol gawang Jens Lehmann. "Dua pertandingan telah selesai. Kami telah melakukan dengan baik dan jika Anda melihat rata-rata usia pemain tim ini, sungguh fantastis," kata Wenger kepada Reuters. "Kami berkembang dan bangkit kembali dalam dua bulan. Saya yakin kami telah membangun kembali karakter dan solidaritas. Ini selalu menjadi nilai dasar klub. Pada akhir tahun lalu, saya merasa tidak memiliki itu." Dua pertandingan -yang dimaksudkan Wenger- adalah ketika mengalahkan Madrid dan kemudian memecundangi Juventus 2-0 di Highbury. Kemenangan atas Juventus bahkan akan membuat mereka -jika bisa mempertahankannya di Delle Alpi pekan depan- melaju ke semifinal antarklub Eropa, langkah paling mewah mereka sejak klub itu berdiri tahun 1898. Wenger menurunkan seluruh anak mudanya, Francesc Fabregas Soler, Mathieu Flamini, Antonio Reyes, Alexander Hleb, Robie van Persie, Philippe Senderos, dan Emmanuel Eboue dalam dua pertandingan besarnya itu. Hampir seluruhnya dari mereka masih berusia di bawah 23 tahun! Eksperimen Sukses Wenger kini bisa disebut sebagai pelatih paling sukses di Inggris -tentu saja jika patokannya adalah dalam soal pemilihan pemain. Dia bisa membangun klub dengan hanya sedikit dana: mendatangkan pemain muda murah, dan kemudian menyulapnya menjadi "lentera menakjubkan" setelah beberapa tahun di Highbury. Patrick Vieira salah satunya. Eks gelandang jangkar Arsenal itu, yang meninggalkan London utara dan pergi ke Delle Alpi untuk bergabung dengan Juventus seharga 13,7 juta pounds, akhirnya menjadi "tak begitu berarti" setelah matangnya pemain-pemain muda polesannya. Vieira bahkan harus menangisi kedatangannya kembali ke Highbury dengan seragam Juventus, karena kemampuannya betul-betul tenggelam, kalah moncer, dibanding juniornya, Francesc Fabregas Soler. Andai dia tak pernah lagi menginjakkan kaki di Highbury, mungkin eksperimen Wenger tak akan pernah ada harganya di mata para pendukung. Dengan fakta bahwa Vieira tak berdaya menghadapi kolektivitas ala Wenger dengan menu segarnya -mau tak mau publik Highbury -juga Inggris- harus mengakui bahwa pelatih asal Prancis itu telah menemukan metodenya sendiri. Sistem yang bahkan tak ada satu pun pelatih di Inggris Raya yang berani menirunya. Kini orang tak akan lagi mencibir, dan bertanya-tanya, ketika dengan uang penjualan Patrick Vieira senilai 13,7 juta pounds, Wenger cuma mendatangkan Theo Walcott yang belum genap 17 tahun. Chelsea boleh saja membangun tim dan mendatangkan pemain kelas satu yang menghabiskan investasi lebih dari Rp 2 triliun. Real Madrid mengumpulkan "galacticos" berharga jutaan dolar. Namun upaya semacam itu -menurut Wenger- hanya akan membuat klub menjadi kuat dalam tempo kurang dari lima tahun. Sementara dalam sistemnya, klub akan bertambah kuat dari hari ke hari: lima tahun mendatang para pemainnya berada di puncak penampilan, dan 10 tahun lagi mereka masih sangat mungkin tetap bersinar. Tapi, perjudian besar semacam itu jelas menuntut pertaruhan besar. Karier adalah taruhan utamanya. (Gunarso-40) |