logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 02 April 2006 NASIONAL
Line

Menjelang Eksploitasi Blok Cepu (3-Habis)

Jika Sepi, PSK Pindah ke Daerah Lain


RAZIA: Seorang polisi wanita memeriksa dompet pengunjung tempat hiburan di Cepu saat razia, belum lama ini. (57j) - SM/Abdul Muiz

PERTUMBUHAN ekonomi yang cukup pesat serta banyaknya pedagang luar kota yang berdatangan, didukung pula dengan munculnya tempat hiburan serta keramaian di sekitar pusat perdagangan di Kota Cepu, tidak bisa dimungkiri menjadi magnet tersendiri bagi para pekerja seks komersial (PSK).

Memang belum ada data valid yang menyebutkan berapa jumlah PSK di Cepu. Namun, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Blora yang bersumber dari Kantor Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Nakertransos), pada 2004 jumlah PSK di seluruh Kabupaten Blora 261 orang. Yang unik, pada tahun itu tidak ada seorang pun PSK yang terdata dari Kota Cepu. Padahal, sudah bukan rahasia lagi di kota minyak itu terdapat dua pusat berkumpulnya para PSK, meski tidak bisa dikatakan sebagai lokalisasi.

Dua tempat tersebut adalah Kampung Baru di utara Terminal Cepu dan Sumberagung di dekat gapura pintu masuk Cepu dari arah Kota Blora. Bisa jadi, pendataan dilakukan ketika para mereka tidak berada di tempat. Padahal, di dua tempat itu diperkirakan jumlah PSK 50 orang.

"Biasanya kalau pagi hari banyak PSK yang belum pulang atau sudah beraktivitas di tempat lain. Rata-rata mereka biasanya sudah kembali ke sini siang atau sore hari," ujar Dampak (50), warga di kompleks PSK Kampung Baru.

Pindah-pindah

Dia menyebutkan, layaknya wanita pada umumnya, mereka juga mempunyai kesibukan lain. Misalnya belanja di pasar ataupun masih berada di tempat lain setelah malam sebelumnya "beroperasi" atau dibawa ke tempat kencan.

Susan -bukan nama sebenarnya-, salah seorang PSK, menuturkan, keberadaannya di Cepu hanya untuk beberapa hari saja. Wanita dari salah satu desa di Jepara itu mengaku menunggu perkembangan terkait dengan ramainya lelaki hidung belang yang memanfaatkan jasanya.

"Biasanya di sini paling lama satu bulan. Setelah itu pindah ke daerah lain. Namun kalau ramai order, saya tetap bertahan di sini," ucapnya.

Pernyataan senada dikemukakan Dewi, PSK lainnya. Ibu satu anak namun sudah cerai dari suaminya ini mempunyai banyak tempat untuk menjajakan cinta. Selain Cepu, kota-kota lain yang sering didatangi adalah Blora, Rembang, Tuban, Bojonegoro terkadang juga Surabaya.

Menurut keterangan warga salah satu desa di Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban itu, daerah yang aman dan ramai order menjadi prioritas utama pilihanya.

"Kalau di Tuban aman, dalam arti tidak sedang musim razia dan order juga banyak, saya biasanya lama di tempat itu. Namun kalau sepi, saya pindah ke tempat lain, seperti Bojonegoro. Kalau masih sepi, saya pindah lagi ke Cepu atau Blora. Saya memiliki banyak teman di beberapa tempat tersebut sehingga gampang saja pindah-pindah."

Menurut keterangan Handoko, warga Megalrejo, Cepu, selain kedua tempat tersebut, kawasan yang kerap kali dijadikan tempat mangkal PSK, antara lain di depan Terminal Cepu serta Taman Seribu Lampu.

Pria yang mengaku pernah meneliti keberadaan dan perkembangan PSK di Cepu ini mengemukakan, yang mangkal di tempat-tempat tersebut kebanyakan dimanfaatkan warga kelas menengah ke bawah.

"Tarifnya bervariasi, Rp 25.000 hingga Rp 100.000." (Abdul Muiz-23j)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA