logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 02 April 2006 BINCANG BINCANG
Line

Mengenal Ausi seperti Mengenal Diri

KISAH Adriana hari ini adalah cerita tentang perempuan sibuk yang harus mengurusi persoalan-persoalan yang berkait dengan Papua, Indonesia, dan Australia. Itu terjadi karena saat ini perempuan yang bergabung dengan LIPI pada 1989 sebagai peneliti di Pusat Studi Politik ini dipercaya sebagai Koordinator Kajian Papua-Australia.

Hampir lima tahun setengah menjalani studi di Australia (dua tahun untuk master dan tiga tahun setengah untuk PhD), perempuan yang pernah menjadi peneliti tamu di Filipina dean Australia ini jadi sangat mengenal masyarakat Australia. Ia juga mengenal Papua, karena pernah memimpin riset "Agenda Damai di Papua" dari Desember 2004 hingga November 2005. Ia mengenal Australia seperti mengenal dirinya.

Menurut perempuan kelahiran Jakarta, 8 Juni 1963 ini, masyarakat Australia adalah tipe manusia yang fleksibel tetapi kaku. "Fleksibel karena mereka itu bisa mudah menerima hal-hal yang logis, dari mana pun datangnya. Saya pinjam istilah Pak Wiryono yang mantan Dubes RI di sana, mereka bicara selalu pakai otaknya. Tapi kaku atau ketat kalau sudah menyangkut ke hal-hal yang sifatnya pribadi."

Menurut Adriana mereka ibarat tidak mau melakukan hal yang percuma walaupun sedikit. "Bila sudah masuk istirahat mereka pasti istirahat, tidak mau tertunda atau terganggu sedikit pun, begitu juga kalau pulang ya mereka pasti pulang. Jangan harap kita bisa minta waktu ekstra dari mereka. Begitu juga waktu mereka bersama keluarga, itu juga tidak bisa diganggu gugat. Karena seperti itu rekan saya yang asal Singapura sampai kaget, karena Australia sangat beda dari Singapura, apalagi dengan Indonesia," kata istri Paulus Tonny Sukamto ini.

Menurut dia hal inilah yang membuka peluang bagi pekerja asing terutama dari Asia untuk mencari pekerjaan di Australia. Dan permintaan terhadap mereka juga meningkat. "Karena orang kita dan orang Asia itu sudah cukup nrima bila mendapatkan upah yang lebih besar daripada di negerinya. Sebagai gambaran upah resmi yang diterapkan sewaktu saya di sana upah harian adalah 12,5 dolar Australia untuk pekerjaan kasar seperti tukang cuci piring. Tapi itu dipotong pajak. Kalau yang kerja diam-diam 5-6 dolar Australia. Tapi mereka disuruh kerja lebih ya masih mau. Kalau majikan mereka nakal, maka ini benar-benar akan dimanfaatkan untuk keuntungannya," kata ibu Alexandra Ancilla dan Agatha Pricilla ini.

Rasis

Tidak hanya kalangan pemerintahan, para pengusaha di Australia pun juga ingin mempertahankan image sebagai negara kulit putih. Diskriminasi yang mereka lakukan adalah dengan hanya mendudukkan orang-orang Australia keturunan Eropa dalam posisi-posisi penting dalam sebuah perusahaan. "Jadi walaupun kita berbahasa Inggris sefasih mereka, sudah menjadi warga negara sana, tetapi beda ras, bukan bule ya kesempatannya kecil sekali. Kecuali kalau di bidang akademis yang iklimnya sangat ideal," katanya.

Namun dari aspek keteraturan, menurut Adriana Australia patut diacungi jempol. "Pemerintah Australia sangat peduli dengan yang namanya kebersihan lingkungan, polusi udara betul-betul dikontrol, transportasi publik juga baik, tepat waktu dan dapat diandalkan. Hanya, yang jadi kendala adalah sepi."

Karena itu segalanya dibatasi oleh waktu. Begitu menjelang malam segalanya sudah tutup. Tidak seperti di Jakarta, mau cari makan malam saja mudah di seluruh penjuru kota. Terlebih lagi Adriana sempat tinggal di Wolongong saat mengambil Phd di Department of History and Politics, University of Wollongong. New South Wales, yang merupakan kota pelajar. "Jadi begitu masuk waktu liburan, suasana kotanya sepi sekali seperti mati. Kebetulan saya tinggal di kota-kota yang bukan kota metropolitan," katanya.

Menurutnya sarana publik juga tertata dan terencana dengan baik.

Hampir semua anak Australia tidak mempunyai masalah dalam hal sarana dan tempat bermain yang layak. Begitu juga sekolah yang layak tersedia dan terbuka luas bagi warga. Taman-taman kota banyak tersebar di penjuru kota. Kawasan perumahan juga tertata rapi.

"Karena mobil di tempat saya tinggal tidak sebanyak di Bogor misalnya, maka bisa diibaratkan mobil dan taman penghijauan, lebih banyak tamannya," kata peraih master of Social Science University of Tasmania, Hobart Australia ini.

Kini, meskipun sibuk, perempuan yang pernah kuliah di Fakultas Fisipol Uiversitas Jayabaya ini tetap menjalankan hobi-hobi lain seperti membaca dan olahraga pagi.

Apa obsesi terkini dia? "Saya ingin menjadi peneliti profesional. Selama ini saya masih sebagai peneliti pesanan," kata perempuan yang sejak kecil sebenarnya ingin menjadi diplomat atau psikolog ini. (Hartono Harimurti-35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA