| Jumat, 31 Maret 2006 | PANTURA |
Hari Raya Nyepi di TegalUmat Hindu Lakukan Melasti dan MecaruRITUAL upacara menyambut Hari Raya Nyepi dilakukan umat Hindu di Kota Tegal, dengan upacara pembersihan diri atau melasti dan penanaman sejumlah sesaji yang dinamakan upacara mecaru. Acara dilakukan di dua tempat, yakni di Pantai Alam Indah (PAI) dan Pura Parisadha Hindu Dharma Kota Tegal. Ritual dilakukan satu hari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi, yakni Rabu (29/3) lalu. Melasti diawali oleh seratus umat Hindu dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ritual dilanjutkan dengan melarungkan beberapa ekor itik dan ayam hidup dan buah-buahan ke laut. Sedangkan pada ritual melasti, mereka menanam sejumlah sesaji berupa buah-buahan dan ayam yang telah dipotong dan dikuliti di depan pura. Ritual yang dimulai sejak pukul 09.00 hingga pukul 13.00 itu dipimpin I Gusti Nyoman Sudjana SIP, Ketua Parisadha Hindu Dharma Kota Tegal. Menurut pimpinan ritual upacara Suharto SAg, upacara melasti biasa dilakukan umat Hindhu di laut. Laut disimbolkan sebagai kesucian. Apalagi maksud ritual itu untuk membersihkan lahir dan batin. Pelepasan apa yang dipunyai umat, disimbolkan dengan pelarungan sesaji ke laut. Sedangkan makna mecaru adalah ungkapan syukur dan terima kasih karena telah diberikan berbagai anugerah, termasuk kebutuhan pangan umat. Rasa syukur itu dilakukan dengan cara menanam hasil bumi. Mecaru di tingkat provinsi yang biasa dipusatkan di Candi Prambanan, dilakukan dengan lebih banyak sesaji dan lebih meriah. Upacara itu disebut Tawur Agung Kesanga. Ritual sebelum Hari Raya Nyepi yang diperingati tepat menjelang Tahun Baru 1928 Saka di Kota Tegal, dilanjutkan dengan persembahyangan di pura sampai pukul 03.00. Amati Geni Persembahyangan terakhir yang dilakukan sebelum Hari Raya Nyepi oleh umat Hindu, berupa tidak melakukan aktivitas seperti biasa atau amati kerja. Tepat pada Hari Raya Nyepi tanggal 1 bulan Tilem 1928 Saka, umat Hindu membatasi penggunaan lampu dan api atau amati geni, tidak bepergian (amati lelungan), puasa dari semua hiburan atau amati lelangunan, dan amati kerja. Pada hari itu, umat melakukan acara Catur Barata Penyepian di pura maupun rumah masing-masing. Kegiatan umat secara total hanya untuk memuja Sang Hyang Widiwasa. Suharto mengatakan, umat Hindu menganut ajaran monoteisme. Namun, mereka mempercayai Tuhan meresap di mana pun, termasuk laut, gunung dengan Dewa sebagai manifestasinya. Peringatan Nyepi, menurut dia, sebagai wujud penghargaan terhadap raja di India, Kanisha I sebagai raja bijaksana dan punya kebesaran jiwa. Dia yang membina semua agama atau sekte. Saat itu, raja juga dinilai mampu menjaga keharmonisan antargolongan. (Siti Kholidah-17m) |