logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Maret 2006 OLAHRAGA
Line

Tonnis, Olahraga Alternatif Badminton dan Tenis

TONNIS adalah temuan olahraga baru --perpaduan badminton dengan tenis lapangan-- yang diperkenalkan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Setelah diawali dengan ekshibisi, kini sudah diperkenalkan dalam bentuk kejuaraan yang diikuti guru-guru Olahraga Pendidikan Jasmani (Penjas) se-Jateng.

Dari perkembangannya saat ini, bukan tidak mungkin jenis olahraga baru ini akan berkembang pesat. Seperti yang terlihat beberapa hari lalu, kejuaraan yang digelar di lapangan FIK Unnes Sekaran diikuti guru-guru olahraga SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi (PT) se-Jateng.

Tujuannya, agar para guru dapat menyebarluaskan olahraga yang bisa dimainkan di dalam atau di luar gedung itu. Karena dengan berkembang di kalangan sekolah, perkembangannya juga lebih cepat. Hampir semua sekolah memiliki halaman yang biasa untuk upacara bendera sehingga tempat tersebut bisa didirikan minimal satu lapangan tonnis. Satu lapangan hanya membutuhkan lahan dengan ukuran 13,40 meter dan lebar 6,10 meter.

Ukuran lapangan dan net yang digunakan sama dengan lapangan badminton. Bedanya, tonnis hanya butuh net setinggi 85 cm, hampir sama dengan tinggi jaring tenis lapangan.

Raket tonnis yang diberi nama paddle tersebut terbuat dari kayu multiflex dengan ketebalan papan 8-12 mm, panjang 32 cm keseluruhan, dengan pemukul lebar 20 cm, panjang 8 cm dilengkapi dengan tali sebagai pengaman. Juga bisa diberi lubang-lubang kecil, untuk mengurangi tekanan angin.

''Tidak sulit untuk mendapatkan paddle karena bisa dibuat sendiri. Kalau malas membuat, juga bisa membeli dengan harga Rp 15.000/biji. Jadi dengan biaya murah, tonnis bisa berkembang di perkotaan ataupun di pedesaan,'' ungkap Sri Haryono SPd MOr dan Drs Tri Nurharsono MPd, dosen FIK Unnes pencetus tonnis itu.

Bentuk bola yang digunakan sama dengan bola tenis lapangan. Namun, agak ringan dan lebih lentur sehingga kalau dipukul lajunya tidak terlalu kecang seperti bola tenis --sama dengan bola yang biasa digunakan PB Pelti untuk mengembangkan pemain tenis usia dini-- dalam bentuk dua warna.

Harga bola Rp 3.500/biji dan kini sudah diperjualbelikan di toko-toko olahraga.

''Bola tenis yang sudah gembos dan gundul juga bisa dimanfaatkan untuk main tonnis. Dengan demikian, olahraga ini murah. Intinya, untuk memperkenalkan gerak dasar permainan tenis lapangan,'' ucap Tri Nurharsono, dosen kepelatihan cabang olahraga tenis itu.

Dengan harga alat-alat, yaitu paddle dan bola yang murah itu, cabang olahraga ini bisa disebut murah meriah.

Aturan Main

Aturan mainnya hampir sama dengan bulu tangkis. Pemenang pertandingan adalah yang lebih dahulu meraih angka 21. Ketika terjadi rubber set akan dilanjutkan pertandingan set ketiga.

Jika terjadi deuce 20 - 20, dicari keunggulan dua angka untuk menentukan kemenangan. Namun kalau sampai terjadi persaingan angka yang ketat setelah terjadi deuce, 21-21, 22-22, 23-23, sampai 24 - 24, atlet yang dapat mengumpulkan angka 25 lebih dahulu yang berhak memenangi pertandingan.

Untuk memimpin pertandingan, satu lapangan dijaga seorang wasit dibantu empat hakim garis. Aturan seperti itu berlaku untuk pertandingan nomor tunggal/ganda ataupun ganda campuran. Dengan peraturan yang tidak rumit, tonnis yang baru diperkenalkan dalam pameran olahraga di FIK Unnes, Desember 2005 itu, kini mulai berkembang.

Ketika itu masih sebatas perkenalan, dalam bentuk ekshibisi yang diperagakan kalangan mahasiswa FIK Unnes. Baru kali ini dipertandingkan dalam bentuk kejuaraan yang diikuti guru-guru Penjas. ''Apa yang kami lihat, permainan tonnis menarik dan pantas untuk dikembangkan,'' ungkap Kabid Pembinaan KONI Jateng Drs Mugio Hartono MPd.

Sekarang ini, tonnis sudah berkembang pesat di sekolah-sekolah terutama di Kabupaten Magelang dan Kota Semarang. Dalam tahun ini, akan dikembangkan di Pekalongan dan Jepara.

Dalam waktu dekat ini, tonnis akan diusulkan ke Dinas P dan K Jateng untuk dijadikan salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan baik di Porseni SD maupun Popda Jateng.

Dengan demikian, dalam beberapa tahun mendatang tonnis di Jateng sudah memasyarakat. Setelah itu, diperkenalkan di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dalam bentuk ekshibisi.

Jika tonnis bisa masuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Popnas, bahkan di Pekan Olahraga Nasional (PON), nama Sri Haryono dan Tri Nurharsono dari FIK Unnes sebagai pencetus ide tonnis akan dikenang di sepanjang masa. (Mundaru Karya-28j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA