logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Maret 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Soal Perpanjangan STNK

Permasalahan perpanjangan STNK di Purwodadi saya yang dimuat 22 Maret 2006 sudah diselesaikan oleh yang bersangkutan, sebelum tulisan tersebut dimuat. Karenanya mengenai pemuatan tulisan saya tersebut mohon dianggap tidak ada.

Arif Sholekun
Bringin Rt 1/Rw 2 Godong, Grobogan

***

RS Permata Bunda

Menanggapi keluhan Sdr Moh Syahirul Alim SAg 22 Maret 2006, managemen RS Permata Bunda mengucapkan terima kasih atas kritikannya. Kami jelaskan kronologi peristiwanya sbb: Pasien masuk IGD pada 6 Maret 2006 pukul 19.20 atas rujukan dokter Muhajir SpA.

Dia membawa surat rujukan yang disertai advis/ program therapi oleh dokter tersebut. Saat masuk, keadaan umum pasien dalam kondisi baik, di IGD ditangani oleh dokter jaga. Tanggal 7 Maret 2006 pukul 09.00 keluarga menyatakan, anaknya masih mencret dan muntah.

Pukul 09.17 (print out telp terlampir) perawat jaga konsultasi per telepon dengan dokter Muhajir SpA yang menyarankan agar di visite dulu oleh dokter jaga ruangan. Saat akan diperiksa, pihak keluarga menolak.

Jam visite dokter anak di RS ini pukul 11.00 tapi jika ada sesuatu sebelum/sesudah jam visite, yang menangani dokter jaga ruangan kecuali pada kasus kegawatan.

Karena ketidaksabaran maka pukul 11.00 Wib atas permintaan keluarga pasien diminta pulang paksa.

Humas RS Permata Bunda

Dokter Boedi Setiawan

***

Lawak Vs Kejujuran

Bill Cosby,seorang doktor kependidikan. Steve Martin, doktor ilmu filsafat. Komedian Azhar Usman, lulusan master hukum di AS.

Bruce Vilanch yang tiap tahun meng-kreasi lelucon pembawa acara Oscar, semula wartawan hiburan. Gene Perett, penulis lawakan Bob Hope dan pemenang 3 kali Emmy Award, adalah insinyur komputer.

Almarhum Wahyu Sardono, lulusan FISIP UI. Miing Bagito dan Doyok, hanya lulusan STM. Dunia komedi adalah dunia ekspresi kreatif yang terbuka untuk semua insan, tanpa memandang pendidikan mereka. Pelbagai latar belakang justru membuat khasanah dunia komedi menjadi kaya warna dengan keanekaraman topik sampai gaya.

Merujuk realitas tersebut, maka ide pendirian universitas humor di Indonesia rasanya berlebihan. Ide serupa berbentuk Institut Seni Lawak Indonesia, pernah pula diusulkan Darminto M Sudarmo. Di luar negeri di mana dunia komedi sudah jadi industri, ajang asah talenta di bidang penulisan humor dilakukan dalam pelatihan jangka pendek.

Misal stand - up dan comedy writing yang di AS jumlahnya banyak sekali. Selebihnya praktik. Untuk mendorong iklim intelektual serupa, saya membangun situs Komedikus Erektus (http://komedian.blogspot.com) yang berisi info, gagasan sampai tips seputar dunia komedi.

Dunia komedi bila dilihat dari luar nampak sebagai dunia penuh tawa dan canda. Tetapi bila disimak dari kacamata para pelakunya, ada tuntutan sangat keras. Seperti kata guru komedi Judy Carter, bahwa para jenakawan adalah orang yang aneh.

Kalau kebanyakan orang berusaha menyembunyikan segala cacat dan celanya, para jenakawan justru membeberkan kepada dunia. Anda berani ?. Bagi saya, lihatlah di televisi. Pelawak Indonesia nampak lebih banyak mengolok orang lain dibanding mengolok kekurangan diri sendiri.

Intinya, banyak dari mereka tidak atau belum berani menampilkan kejujuran. Cermin sejati untuk bangsa kita dewasa ini, bukan ?

Bambang Haryanto (EI)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Anak, Puisi, dan TV

Tanpa ingin sok puitis atau lancang terhadap guru kelas, saya yang hanya pekerja amatiran mengajak anak-anak SD tempat saya belajar untuk membuat puisi. Mudah ditebak ajakan gombal dengan iming-iming buku, sebatang coklat dan janji mengirimkan ke media hanya nyenggol antusiasme beberapa kepala saja.

Saya harus legawa setelah seminggu, hanya terkumpul 8 puisi dari 119 anak kelas 5 dari 3 SD berbeda. Mungkin saya terlalu sembrono menabrak kurikulum dan kultur. Selama ini proses belajar mengajar di sekolah minim sekali memberi kesempatan siswa bermain dan mengolah kata.

Para guru jarang memberi motivasi kepada murid karena mereka sendiri juga malas membaca apalagi menulis. Menulis memang erat kaitannya dengan kultur/budaya. Kultur kita lebih cinta pada budaya tutur daripada budaya tulis. Budaya tulis erat kaitannya dengan budaya baca. Budaya baca akan sulit berkembang jika ketersediaan buku minim.

Di Kecamatan Guntur ada 43 SD tapi hanya 1 SD yang punya fasilitas perpustakaan. Itu pun lebih banyak berupa buku pelajaran. Kondisi pedesaan yang sepi dunia pustaka ini diperparah derasnya laju TV dan kroninya (play station) yang merambah hingga sudut-sudut desa.

Koleksi buku jarang saya temui di rumah penduduk yang mewah mentereng sekali pun. Tetapi dari gubuk reot hingga rumah bertingkat, pasti TV terhidang. Maka sebelum anak-anak menyentuh buku, mereka terlanjur terpikat kemo-lekan program TV yang gencar meracuni dan membekukan daya imajinasinya.

Posisi TV yang semula diharapkan menjadi hiburan sekaligus edukasi, pada perkembangannya malah mendikte dan menghisap anak-anak menuju dunia pasif dan monoton. TV berhasil mengeksploitasi anak-anak hingga mereka malas mengeksplorasi imajinasi. Imajinasi menjadi kaku, walau hanya untuk sebait puisi.

Mereka setiap hari melahap TV yang full animasi barat, gunjingan, ciat-ciat kekerasan, pocong, dendam, kemewahan dan tipu muslihat. Tapi saya bersyukur, dari 8 puisi tersebut saya masih bisa menikmati kepolosan bocah memuja ibu, bunga, guru, bulan dan seorang Ronaldo.

Indra Ari

Bakalrejo Rt 5/Rw I Guntur, Demak

***

Lucunya Ki Manteb

Melihat kebolehan dhalang setan di tayangan TPI dengan lakon Bimo Labuh beberapa waktu lalu sungguh menggelikan. Waktu perang ''gagal'' antara Brotoseno dengan raksasa, maka si raksasa saat ketemu langsung memukul Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka kebetulan duduk dekat Brotoseno dipukul berkali-kali.

Kemudian ketika Bagong membalas menyeruduk, seharusnya mengenai Bima. Namun oleh ki dhalang hanya dibuat berpapasan sehingga tidak terjadi tabrakan.

Semua gerak dilakukan Ki Manteb secara wajar, tak ada kesan dibuat -buat. Sayang saat gecul/lucu ini berlangsung pukul 02.00 sehingga tak banyak yang menyaksikan.

Adhianto

Jl Mahesa Mukti A.36, Semarang

***

Hadiah Blue Top

Saya belum lama ini mendapat surat berkop Blue Top, Java Mall Lt III Semarang. Isinya memberi salah satu hadiah cuma-cuma tanpa syarat apa pun berupa TV, mini compo, blender, HP, lemari es. Surat berlaku s.d 9 Maret 2006, jika tidak hadiah akan dibatalkan.

Saya kurang percaya, apalagi bukan konsumennya. Tapi saya tetap datang 9 Maret 2006 dan toko terkunci dengan tulisan sedang direnovasi dan dioperasionalkan kembali 10 Maret 2006. Berarti hadiah otomatis hangus. Bagaimana ini, kapan mulai direnovasi dan kenapa tidak ada pemberitahuan.

Kalau memang dalam renovasi kenapa harus nyebar brosur promosi. Ini pe-nipuan atau cuma ngerjain orang. Belum-belum sudah mengecewakan. Masyarakat agar hati-hati terhadap promosi model ini.

Dyah Anggraeni

Jl Pahlawan I/82, Kendal

***

Jawaban BFI Finance

Kami mengklarifikasi komplain Bapak Alex Chandrasah di Surat Pembaca 19 Maret 2006 sbb: Sebenarnya Bapak Alex bukan konsumen BFI Finance. Kontrak pembiayaan no 6405007878 dan 6405007912 tercatat atas nama H Suyono.

Konsumen telah melakukan dua pelanggaran kontrak yang disepakati 9 April 2005, yaitu tidak membayar lebih dari 6 bulan berturut-turut dan menjaminkan kembali kedua unit kendaraan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan BFI. Tindakan BFI sudah sesuai perjanjian. Kami tetap berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik.

Andrew Adiwijanto

Quality Service BFI


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA