| Rabu, 29 Maret 2006 | WACANA |
Nyepi, Hari Introspeksi Diri
DATANGNYA Catur Brata (empat pantangan) Penyepian, 30 Maret 2006, tentu memberi makna tersendiri bagi umat Hindu. Apa sih yang telah kita perbuat dalam setahun ini? Betulkah kita sudah melakukan kesimbangan antara skala (nyata) dan niskala (tak nyata) dalam meniti kehidupan duniawi dan rohani? Momentum inilah yang seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang untuk instrospeksi diri dalam mengisi Tahun Baru Saka itu. Mengapa? Seperti dalam perayaan hari suci selama ini, Nyepi yang merupakan pergantian tahun Umat Hindu (sekarang Tahun Baru Saka 1928) tentu memberi makna bagi warganya, atau paling tidak inilah saat yang tepat untuk mencari jawaban terhadap tantangan yang muncul di bumi ini, baik secara lahiriah maupun rohaniah. Dalam sebuah acara di TV Bali, "Dharma Wacana", awal Maret lalu, Ida Pedanda Gede Made Gunung secara gamblang mengungkap perilaku kita (umumnya) dan remaja (khususnya) dalam memperlakukan bumi ini dan isinya. Dia mencontohkan, dalam perayaan sebuah hari suci, sering kali "kemenangan" itu dirayakan secara besar-besaran dengan pakaian baru, makanan enak, dan penyambutan yang sangat wah. Bahkan terkadang di balik perayaan yang gemerlap itu, akhirnya ada yang mempertanyakan, sejauh manakah kita melakukan pendakian spirituil di balik sukses duniawi yang telah kita raih? Karena itulah dia mengajak terutama para remaja, agar dalam perayaan hari suci, selain melakukan kemeriahan duniawi, juga ada kemeriahan rohani. "Tolonglah para remajaku, jika kalian merayakan hari suci jangan sampai kemeriahan jasmani mengangkangi pendakian rohanimu." Apa yang dikatakan pedanda itu memang benar adanya. Dalam kondisi dunia sekarang yang serba mutakhir, serba modern, bahkan semua sudut dunia bisa kita nikmati tanpa batas ruang dan waktu, bukan tidak mungkin banyak remaja kita, bahkan juga para orang tua yang sudah terperosok jauh dalam dunia yang gelap. Mabuk, judi, prostitusi, mucikari, rentenir dan sebagainya. Karena itulah pemaknaan menerapan "roh" dari Catur Brata dalam kehidupan sehari-hari sudah seharusnya bisa dilakukan. Kemeriahan dalam hari pangerupukan (ngerupuk) dengan pawai ogoh-ogoh yang diadakan sehari sebelum Nyepi, dan juga pada saat Ngembak (sehari setelah Nyepi) hendaknya dilakukan secara proporsional. Sepeti halnya teman-teman dari Umat Islam dan Nasrani, memang Lebaran dan Natal selalu dirayakan de-ngan penuh pemaknaan. Keinginan menjadi bersih dan suci (lahir dan batin) mutlak dan selalu diidam-idamkan semua umat-Nya. Itu pulalah yang seharusnya dicari Umat Hindu pada Hari Raya Nyepi ini. Pesatnya pengaruh budaya barat di semua belahan bumi termasuk di bumi Nusantara ini, secara sadar atau tidak bi-sa jadi mengakibatkan terjadinya degra-dasi spiritual umat. Hal ini tak terbantahkan, karena prilaku budaya profan dengan dalih pengejaran kesejahteraan makin tak terkendali lagi, dan jauh lebih dahsyat dibanding dengan kesucian umat dalam mengejar pendakian spiritual. Contoh nyata yang bisa kita temukan di masyarakat adalah, coba saja jalan-jalan di Bali (yang masyarakatnya pada umumnya beragama Hindu), banyak sekali terlihat umat membangun rumah jauh lebih mewah dibanding bangunan mrajan (sanggah atau pura keluarga). Kita yakin mereka sangat sadar, bahwa apa yang dia lakukan atau dapatkan itu atas kebesaran Tuhan. Mereka mampu membeli rumah mewah, mobil mahal, dan membangun perusahaan besar atas limpahan rahmat-Nya. Ibaratnya dari kondisi itu rasanya bisalah kita simbulkan dalam diri manusia itu sendiri: baju, celana, sepatu sudah bagus, namun "badan dan rohaninya" belumlah mampu menyeimbangi kemegahan pakaiannya. Karena itulah pencarian antara yang skala dan niskala, antara material dan spiritual haruslah seimbang. * * * NYEPI di Bali biasanya dirayakan secara hikmat dengan melaksanakan catur brata yang tak boleh dikerjakan. Rangkaian hari raya ini terdiri atas me-lasti atau mekiis, tawur, sipeng (Nyepi) dan ngembak geni. Melasti dilaksanakan dua hari menjelang tilem kesange dan diadakan di pantai atau tepi laut bagi daerah yang dekat laut, di pinggir danau bagi daerah yang dekat danau, atau di sumber mata air yang disucikan bagi daerah yang jauh dari danau maupun pun laut. Tujuan melasti ini adalah Angamet sarining bhuana, angelebur malaning bhumi (mengambil sari-sarinya bumi dan melebur atau membersihkan kotoran dunia). Intinya saat semua prelingga pretima (badan perwujudan dari Tuhan) dibawa ke laut, ke danau ke mata air suci, lalu diupacarai. Kemudian kembali diistanakan ke Bale Agung, dan siap dipuja umatnya pada tilem kesange. Kemudian Tawur, merupakan upa-cara yang dilaksanakan di perempatan jalan di pusat pemerintahan (provinsi, kabupaten, kecamatan, desa). Umumnya di kota-kota, upacara ini dilaksanakan pada jam 12.00. Namun di desa-desa diadakan pukul 17.00 atau 18.00. Makna pelaksanaan tawur ini adalah menetralisir keadaaan bhuana agung (jagad raya) dan bhuana alit (tubuh manusia). Mengapa? Setahun penuh (sejak Hari Raya Nyepi lampau) manusia terlalu ba-nyak mengambil isi dunia, berupa air, bahan makanan, bahan pakaian dan lain sebagainya, sehingga terjadi ketidakseimbangan. Lebih-lebih yang dilakukan atas keserakahan, sehingga terjadi kepincangan antara bhuana agung dan bhuana alit. Jadi tawur ini adalah upacara kurban yang dilaksanakan secara tulus, ikhlas. Ini juga sebagai latihan bagi bagi manusia untuk melepaskan ikatan dari daya tarik benda duniawi. Makanya, secara spritual, tawur ini digambarkan sebagai pengusiran segala bhuta kala (keburukan) yang ada di diri manusia, berupa sifat-sifat iri, dengki, serakah, marah, benci. Secara awam bhuta kala itu dilukiskan sebagai mahluk yang menakutkan (kini kita kenal dengan ogoh-ogoh), yang sering mengganggu dan menimbulkan bencana. Pengusiran para bhuta kala ini pula biasanya disebut pengerupukan (ngerupuk) yang dilaksanakan sehari menjelang Nyepi. Dengan tawur, diharapkan terjadi keseimbangan antara lahir dan batin dalam hidup ini. Setelah melakukan tawur, keesokan harinya memasuki Nyepi (Sipeng). Jika tawur sebagai perlambang ikhlas berkorban, maka saat Nyepi ini manusia harus mengendalikan diri. Di sinilah kita kenal dengan Catur Brata (empat pantangan). Pertama, Amati Geni yang secara lahiriah diwujudkan dengan tidak berapi-api (tak menyalakan api), dan secara rohani diartikan harus mampu memadamkan sifat amarah, benci, loba, serakah, tamak yang berkobar di tubuh atau pikiran. Kedua, Amati Gawe, secara lahiriah diwujudkan dengan tidak bekerja. Dalam arti rohani, kita sementara menghentikan kegiatan fisik agar fokus dalam kegiatan rohani (spiritual). Pada saat inilah yang paling baik dan tepat untuk merenungkan kebesaran Ida Sanghyang Widhi Wasa terhadap apa yang telah diberikan kepada manusia. Manusia wajib melakukan introspeksi diri, mulat saira tentang subha-ashuba karma (baik - buruk perbuatan), tentang dosa-dosa yang telah kita lakukan dalam kurun waktu satu tahun. Setelah ini, kita berharap untuk bisa berbuat yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ketiga, Amati Lelungan, secara lahiriah mengandung maksud, orang tidak diperbolehkan bepergian, kecuali ke rumah sakit atau karena tugas yang tak bisa dihindari. Secara rohaniah, saatnya mengendalikan dan menghentikan kegiatan fisik, untuk berkonsentrasi pada kegiatan rohani. Keempat, Amati Lelangun, secara lahiriah tak dibenarkan melihat pertunjukkan atau nonton hiburan-hiburan. Dari sisi rohani, merupakan kegiatan pengendalian pikiran terhadap tarikan-tarikan keinginan (kama). Maka, melalui Catur Brata itu, dari renungan suci ini, kita berharap bisa mendapat pelajaran berharga untuk tidak melakukan kesalahan pada tahun lalu, dan lebih waspada dan serta berbuat kebajikan pada tahun mendatang. Setelah melakukan brata penyepian yang dilakukan selama 24 jam, mulai pagi hingga pagi esok harinya, lalu dilaksanakan Ngembak. Di sini dilaksanakan sima krama atau dharma shanti, yaitu saling memaafkan dengan seluruh keluarga, handai taulan, teman sekerja dan lain sebagainya. Nah, setelah Nyepi kita semuanya ingin kembali dari rasa suci, bersih dan tentu dengan pendalaman spiritual yang kian mantap. Dalam kondisi seperti itu, dan lingkungan yang terus berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi, termasuk di antaranya teknologi komunikasi, apakah masih perlu memperdebatkan UU APP bila manusia (Bali) sudah mampu melakukan keseimbangan antara skala dan niskala? Jawabnya tentu kembali kepada masyarakat Hindu (Bali) yang punya awig-awig (aturan adat), simbul-simbul Tuhan yang mengandung ajaran moral. Jadi bukan sebatas kreativitas seni, apresiasi seni, koteka dan kemben, serta turis yang nyaris telanjang berjemur di pantai Kuta atau minuman keras, goyang Inul dan VCD porno yang juga beredar di sana. Maka, waspada, mawasdiri dan introspeksi adalah langkah yang pas untuk menyikapinya. (11) - Segara Seni, wartawan Suara Merdeka di Semarang |