logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Maret 2006 WACANA
Line

tajuk rencana

Investasi Asing, Bagaimana Kita Menyikapinya

- Perjuangan mengegolkan hak angket oleh DPR terkait dengan kebijakan pemerintah yang menunjuk ExxonMobil sebagai operator Blok Cepu masih bergulir. Kendati tak begitu banyak yang optimistis mengingat peta politik di Senayan, setidaknya hal itu mengisyaratkan adanya tekanan untuk menyikapi secara kritis MoU yang sebagai kemenangan penetrasi kepentingan asing khususnya Amerika Serikat. Menyusul persoalan yang diangkat sebelumnya menyangkut kontrak karya Freeport. Sementara itu kita pun mengetahui, selain Freeport di Papua, protes warga atas investasi asing di bidang pertambangan juga terjadi di Newmont Nusa tenggara. Soal investasi asing memicu ketegangan politik baru sehingga dibutuhkan kesamaan pandang dalam menyikapinya.

- Sebagai bagian dari dinamika, hal seperti itu wajar-wajar saja. Kejadian serupa juga muncul di banyak negara lain. Sentimen antiasing adalah wujud nasionalisme yang selalu membakar semangat masyarakat yang merasa diberlakukan tidak adil dan dijajah kekuatan modal asing. Di Indonesia hal itu juga dipicu dugaan unsur KKN di balik kerja sama operasi atau pemberian izin bagi perusahaan asing yang menambang hasil bumi kita baik berupa minyak maupun emas. Kekayaan alam dengan nilai ratusan triliun rupiah dikeruk perusahaan asing dan hanya sebagian kecil yang kita peroleh. Paling tidak, itulah jalan pikiran serta kecurigaan mereka yang menolak kehadiran investor asing di Bumi Pertiwi. Kenyataannya bagaimana, itulah yang harus diteliti.

- Ada banyak cara melakukan audit atas kontrak karya atau kerja sama operasi, production sharing, dan sejenisnya. Asalkan semua serbaterbuka dan transparan -tidak seperti pada masa Orde Baru- akan bisa ditepis berbagai kecurigaan itu. Masalahnya, bisakah diuraikan secara terbuka dan bisa dipahami betul oleh awam. Justru di situlah persoalannya. Dalam hal operasi pertambangan minyak, terlalu banyak faktor teknis yang sulit dipahami. Dalam hal seperti ini, dampaknya juga akan sampai pada perhitungan cost. Dan, bila sudah soal itu maka akan muncul pula pada perolehan laba. Katakanlah soal berapa besar biaya yang layak untuk pengeboran minyak termasuk recovery cost. Untuk itu, dibutuhkan auditor independen dan profesional serta berkelas internasional.

- Keputusan pemerintah soal Blok Cepu bisa dijadikan salah satu titik tolak menilai keberadaan investor asing terutama dalam bidang pertambangan. Haruslah diingatkan terlebih dahulu, sektor ini sangat vital dan strategis sehingga harus dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Menurut perkiraan, tidak kurang Rp 30 triliun per tahun bisa diperoleh pemerintah apabila Blok Cepu sudah beroperasi. Apalagi di tengah tren kenaikan harga minyak dunia saat ini, prospek investasi tersebut sangatlah cerah. Lalu mengapa harus diserahkan ke ExxonMobil sebagai operator kendati tetap bersama Pertamina dengan sharing yang berimbang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menantang agar yang menolak membuktikan letak kesalahan itu.

- Yang paling disoal adalah mengapa bukan Pertamina sebagai operatornya dan mengapa kita akhirnya kalah dengan upaya keras yang dilakukan ExxonMobil untuk menguasai Blok Cepu. Jawaban pemerintah pun mengambang. Bukan soal mampu atau tidak mampunya Pertamina yang memimpin tetapi sekadar menekankan kita tidak mengalami kerugian apa pun dengan perjanjian tersebut dan yang penting segera beroperasi sehingga keuntungan riil pun didapat. Perdebatan yang makin teknis memang tidak mungkin tetapi penjelasan yang seperti itu tak serta-merta menepis kecurigaan. Ataukah politikus terlalu memolitisasinya? Tak bisa dielakkan penilaian tentang ketidakberdayaan menghadapi imperialisme asing termasuk di sektor pertambangan.

- Sebaiknya kita berikan waktu terlebih dahulu kepada pemerintah untuk membuktikan kebenaran keputusannya. Yang penting, jangan sampai pro-kontra soal investasi asing justru kontraproduktif dan mengganggu iklim investasi di Indonesia. Namun, bagaimana menggalang sikap kritis tetaplah perlu. Pengalaman buruk pada masa lalu, termasuk dalam kerja sama dengan Freeport, tak boleh terulang. Sementara itu, kepada Pertamina pun diberikan tugas dengan target yang jelas untuk mengawal operasi Blok Cepu. Mereka harus mulai merestrukturisasi dan peningkatan profesionalisme. Ke depan, tak ada alasan lagi untuk tidak dipercaya bahkan oleh kita sendiri. Investor asing diperlukan selagi kita belum mampu. Mestinya, mereka pendukung dan pelengkap.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA