logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 29 Maret 2006 BUDAYA
Line

Mengenang Mahakarya

RESITAL piano berdurasi satu setengah jam dimainkan oleh Ananda Sukarlan di Recital Hall Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) UKSW, Senin (27/3) malam. Malam itu, legenda pianis itu memainkan repertoir gubahan Wolfgang Amadeus Mozart, Dimitri Shostakovich, dan Trisutji Kamal.

Karya ketiga komponis itu dipilihnya karena tahun ini merupakan peringatan 250 tahun kelahiran Mozart, 100 tahun kelahiran Dimitri Shostakovich, serta 70 tahun kelahiran Trisutji Kamal.

Mahakarya Mozart yang dimainkannya antara lain "Sonata in A Minor K310", "Allegro Maestoso", "Andante Cantabile Con Espressione", dan "Presto". Lalu karya Shostakovich ("Preludes & Fugues Op.87") dan Trisutji Kamal ("Misteri Pulau Sanghyang", "Idyll", "Intermezzo", "Goro-Gorone", "Soleram Fantasi", dan "Nocturne No 1").

Dekan FSP UKSW Agastya Rama Listya mengungkapkan, Ananda Sukarlan dikatakan legenda karena satu-satunya pianis Indonesia yang namanya tercantum dalam buku "The 2000 Oustanding Musicians of the 20th Century" yang diterbitkan The International Biographical Center of Cambridge, Inggris.

Bahkan pada 2006 namanya juga tercantum dalam buku "Punto de Inflexion de la Musica Espanola" ("The Turning Point of Spanish Music") yang ditulis Andrew Ford dan Jose Luis Telles tentang sepuluh musikus dan komponis Spanyol yang sangat berpengaruh.

Terpukau

Gubahan Mozart yang dimainkan Ananda dengan permainan yang supersulit dianggapnya telah memberikan kontribusi yang demikian besar bagi dunia musik klasik Barat meskipun Mozart telah tutup usia dalam saat masih muda. Sementara ketertarikan Ananda pada komposisi Shostakovich yang dimainkan mungkin lebih disebabkan pada kekuatan ritme dan harmoninya yang sangat menonjol. Dentingan yang dihasilkan semakin memukau penonton.

Sedangkan pada komposisi Trisutji Kamal, Ananda mengikuti perpaduan unik antara musik Barat dan Timur yang memiliki kekuatan khas menurut penciptanya.

Trisutji merupakan salah satu komponis wanita Indonesia yang sangat produktif. Wanita kelahiran Jakarta tujuh puluh tahun lalu itu tidak pernah berhenti berkarya hingga saat ini.

Kebanyakan dari karya pianonya telah dipentaskan di Eropa, Afrika, Asia, dan Timur Tengah.

Tidak banyak yang tahu pula jika komposisi Trisutji Kamal meliputi komposisi untuk orkes, musik kamar, balet, konserto untuk piano, opera, musik untuk film, paduan suara, serta instrumen tunggal.

Pada akhir acara, standing ovation dari para penonton memaksa Ananda memainkan dua lagu tambahan (encore), yakni "Modom", sebuah lagu nina bobo dari Tapanuli, serta "Sepasang Mata Bola" yang digubah Ismail Marzuki dan diaransemen oleh Yazeed Djamin dan Ananda Sukarlan. (Surya Yuli P-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA