SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Senin, 27 Maret 2006

- Rupanya Australia sudah terlalu salah menilai Indonesia dalam posisi yang selalu dapat dipermainkan. Pernyataan Perdana Menteri John Howard yang memahami kemarahan Jakarta terhadap pemberian visa bagi 42 warga Papua, bagaimanapun "sangat tidak diplomatis", karena berarti sudah memperhitungkan akibat-akibat dari tindakan tersebut. Adapun statemen Menteri Luar Negeri Alexander Downer bahwa kemarahan Indonesia sudah diperkirakan tetapi hanya akan berlangsung beberapa saat, jelas menggambarkan Australia salah baca terhadap peristiwa yang sekarang terjadi. Dalam perkiraannya, ujung-ujungnya sikap Indonesia akan menyurut lalu "mengalah".

- Undang-undang yang mengatur tentang masalah ketenagakerjaan sangatlah sensitif. Wajar bila sekarang mulai ramai kembali dengan adanya rencana revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pro dan kontra mencuat dan bila tidak segera diantisipasi akan memicu gelombang unjuk rasa besar-besaran. Sekarang pun sudah mulai muncul demonstrasi buruh menentang revisi UU tersebut. Apalagi yang dipertentangkan kalau bukan perbedaan kepentingan antara pengusaha dan pekerja. Masalah yang selalu muncul dan tak pernah selesai. Namun tetap tak boleh dibiarkan karena akan mengganggu iklim investasi.

SEJAK Repelita 1 kebijakan pemerintah dalam meningkatkan mutu, relevansi, dan efisiensi sistem pendidikan dilakukan dengan penyempurnaan kurikulum. Penyempurnaan itu diorientasikan pada kebutuhan dan keadaan lapangan kerja. Kurikulum yang pertama kali digunakan Kurikulum 1950, kemudian diganti dengan Kurikulum 1958.

TAK mudah menepis anggapan Kongres Sastra Jawa (KSJ) merupakan tandingan Kongres Bahasa Jawa (KBJ). KSJ II yang akan dihelat di Semarang 30 Juni - 2 Juli 2006 telanjur dikesankan secara oposisional dengan KBJ IV yang akan digelar 5 - 10 Juli 2006.

Saya memberi masukan/usul kepada Pemkot, bahwa Jl Saputan Raya Semarang sering membingungkan bagi yang mencari alamat tertentu (Pak Pos). Di samping nomor rumahnya dobel (kembar), tidak urut juga jalannya ramai tapi sempit berkelak-kelok serta rusak.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA