logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 27 Maret 2006 RAGAM
Line

Perbedaan Jin, Iblis, dan Setan

TELINGA kita sudah amat akrab dengan sebutan jin, iblis atau pun setan, tetapi tahukah kita di mana letak perbedaannya ? Hal ini penting untuk diketahui, karena Allah dalam Alquran telah jelas-jelas menegaskan bahwa setan itu adalah musuh nyata bagi manusia yang harus senatiasa dijadikan musuh (QS Faathir : 6, Al Baqarah : 168).

Kita jelas tidak mungkin dapat sukses mengalahkan setan bila kita tidak mengetahui keberadaan dan kemampuannya, pemahaman mengenai apa dan siapa setan itu.

Tidak dapat lepas dari makhluk Tuhan yang disebut iblis. Alquran menjelaskan, iblis adalah makhluk Tuhan yang kafir dari golongan jin yang membangkang pada Tuhan ia telah bersumpah akan menyesatkan turunan Adam sampai hari kiamat nanti, Iblis menjawab : Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. (Al A'raf : 16).

Iblis Menjawab : Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. (Shaad : 82).

Pelaksanaan niat iblis inilah yang disebut dengan setan, jadi dengan demikian, setan itu adalah segala sesuatu yang bersifat menghasut manusia agar membangkang pada aturan main Tuhan, dan setan ini dapat berupa bangsa jin ataupun bangsa manusia.

Lihatlah penjelasannya dalam Alquran antara lain pada surat Al An'am : 112, Al Baqarah : 14. dengan demikian, setan dapat diartikan sebagai provokator dari bangsa jin dan manusia yang menghasut agar manusia membangkang pada perintah-perintah Allah dan RasulNya.

Dari sini kiranya dapat dipahami, nafsu yang ada di dalam diri manusia bila ia menghasut agar membangkang pada kehendak Allah, maka ini juga dapat diartikan sebagai setan.

Keberadaan setan dalam diri manusia ini ditegaskan oleh Rasulullah saw, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jauzy & Ibnu Abdurahman Salmi berikut, "Tak seorang pun di antara kita yang tidak disertai setan, aku sendiri pun demikian tetapi sesungguhnya Allah telah menolongku menghadapi setanku itu sehingga dia aku kalahkan".

Kemampuan/ kekuasaan setan terhadap manusia jelaslah hanya sebatas menghasut saja.

Setan tidak punya kemampuan untuk memaksa manusia supaya menuruti apa yang dibisikkannya, ia benar-benar hanya sebagai provokator saja yang hanya bisa sekadar menghimbau, selanjutnya terserah manusia itu sendiri, apakah mau mengikuti himbauan/bisikannya itu, atau menolaknya, manusia benar-benar makhluk yang merdeka dalam menentukan pilihannya.

Sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar (An Nuur : 21).

Dan berkatalah setan taktala perkara hisab telah diselesaikan : sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya.

Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. (Ibrahim : 22)

Dengan demikian, kita tidak bisa lagi menimpakan kesalahan kepada setan bila ada orang yang ngantuk pada waktu mengaji, ataupun enggan mengikuti pengajian. Begitu juga kita tidak dapat mengalihkan tanggung jawab kepada setan bila ada seorang anak membunuh orang tuanya.

Ini semua adalah kesalahan manusia itu sendiri mengapa ia rela mengikuti himbauan setan. Bukankah manusia adalah makhluk yang merdeka untuk memilih? Bila kita menyadari benar apa yang dapat dilakukan setan kepada kita, serta bagaimana cara-caranya dalam menyesatkan manusia, maka kita dapat selalu memasang kuda-kuda untuk mengantisipasi serangannya. Dengan keyakinan yang kuat bahwa manusia memang selalu digoda oleh setan, maka insya Allah kita akan mempu mengatasi godaan tersebut.

Ingatlah kisah Nabi Yusuf yang digoda oleh setan yang berwujud istri pembesar Mesir (Zulaikha), Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku Yusuf : 33

Syirik

Setan dari bangsa jin terutama sekali menyesatkan manusia lewat perbuatan syirik. Inilah sebenarnya perbuatan yang paling digemari setan, karena, inilah sebenarnya perbuatan dosa yang dilakukan anak Adam yang tidak akan diampuni oleh Allah.

Mungkin salah satu kiat untuk menghadapi setan baik itu setan yang berasal dari bangsa manusia atau jin, maupun setan yang merupakan penjelmaan nafsu jelek yang ada di dalam diri adalah dengan menyadari dan menerapkan hukum univesal yang sangat sederhana, yaitu : "Bila kita berpihak pada sesuatu maka pastilah ada sesuatu lainnya yang kita korbankan."

Artinya, bila suatu saat kita berpihak pada setan, yaitu dengan melaksanakan himbauannya, maka pada saat itu segala perintah-Nya kita cuekin.

Sebaliknya bila kita berpihak kepada Tuhan, maka setanlah korbannya (karena bisikannya tidak kita laksanakan).

Tampaknya persoalan kini menjadi sederhana siapa yang akan kita korbankan. (11)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA