| Senin, 27 Maret 2006 | SEMARANG |
Spa ''Berjenis Kelamin'' WanitaSEBENARNYA spa tidak mempertimbangkan jenis kelamin. Pria atau wanita punya hak untuk menikmatinya. Namun, Amarta Spa di Jl Bukit Amarta 2, Bukit Sari Semarang memilih menjadi tempat spa khusus wanita. Krisno Putranto, pemilik tempat spa itu, tentu saja punya alasan. ''Di tempat kami, ada fasilitas jacuzzi. Rasanya aneh dan risih bila lelaki dan wanita berendam bersama di situ. Ada alasan moral tertentu mengapa kami mengkhususkan diri pada spa untuk kaum wanita,'' ujar dia menjelang peresmian usaha miliknya, Sabtu (25/3) petang. Fasilitas atau pelayanan spa di tempat itu terbilang lengkap. Krisno menyebutnya sebagai tempat relaksasi yang tepat untuk memanjakan tubuh wanita dari ujung kaki hingga ujung rambut. Di tempat terbuka, ada kolam renang, jacuzzi, dan sauna. Ada juga tempat yang di sebut Bale Bengong. Itu mirip sebuah dangau untuk berangin-angin dan memandang panorama Semarang bawah yang terlihat dari tempat tersebut. Pada tempat tertutup, terdapat tujuh kamar untuk tempat massage dan beragam perawatan lain. Nama-nama untuk tempat itu tidak asal pakai, tetapi berkonotasi dengan fungsi perawatannya. Sebut saja Swadistana, yang khusus untuk perawatan V-spa (perawatan vagina) atau Pratyahara untuk refleksi kaki, manicure & pedicure, serta creambath. Konsep terapinya bersandar pada pola perawatan kesehatan dan kecantikan tubuh dari beragam budaya di dunia. Tentu, pola tradisional dari nusantara menjadi tawaran utama, salah satunya luluran. Perawatan tradisional lain yang ditawarkan adalah paket menjelang seseorang menikah. Pada perawatan yang disebut parameswati package itu, seorang wanita dirawat selama enam hari menjelang hari pernikahannya. ''Sang pengantin bakal terlihat lain, lebih cantik, dan bisa melalui bulan madunya dengan romantis.'' Prospektif Pembukaan Amarta Spa, menurut Krisno, selain untuk mendukung gagasan Wali Kota Semarang yang ingin menjadikan kota tersebut sebagai kota jasa, juga karena alasan semakin berkembangnya spa sebagai life style masyarakat. Meski begitu, dia mengakui, kalangan yang menjadikan spa sebagai gaya hidup masih sangat terbatas, yaitu menengah ke atas. "Pada bisnis ini, pasarnya memang masih kelas elite. Kalangan menengah ke bawah secara umum masih menganggap perawatan spa sebagai sebuah kemewahan.'' Dengan keterbatasan pasar, apakah optimistis usahanya bakal berkembang? ''Oh, tentu. Kebiasaan ber-spa di Semarang memang tak bisa dibandingkan dengan di Jakarta atau Bandung. Namun, saya melihat perkembangan spa menjadi gaya hidup di sini. Jadi, saya yakin bisnis ini prospektif.'' Dia tetap optimistis meskipun klien sasarannya hanya kaum wanita. Padahal, sejak beberapa waktu muncul tren pria metroseksual yang salah satu gaya hidupnya akrab dengan spa. Sudah pasti, pasar lelaki adalah peluang yang bagus. ''Okelah, sekarang untuk yang wanita. Dalam perkembangannya, mungkin juga dibuka spa untuk lelaki. Tentu saja di tempat lain,'' tandas Krisno. (Saroni Asikin-62d) |