logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 22 Maret 2006 EKONOMI
Line

Perdagangan Emas Lesu

SEMARANG-Kondisi perekonomian yang belum stabil akibat dampak kenaikan BBM pada Oktober 2005, hingga kini masih dirasakan para pedagang emas di Semarang. Seperti yang diungkapkan Agus Setiawan, pemilik toko emas Merak, semakin melemahnya daya beli masyarakat mengakibatkan angka penjualan emas terus menurun sejak kenaikan BBM. "Penurunan penjualan mencapai 70 persen. Para pelanggan menceritakan, bila sebelumnya masih dapat menyisihkan sebagian uang gaji untuk menabung dan membeli emas, saat ini mereka sudah tidak memiliki sisa uang lagi, bahkan ada yang harus tekor," tuturnya.

Untuk menyiasati kelesuan pasar itu, pihaknya menerapkan strategi variasi desain dan warna agar masyarakat dapat tertarik membeli emas. "Kami meluncurkan produk perhiasan dengan desain yang terlihat besar, tetapi bobotnya ringan. Perhiasan itu dibuat berongga atau variasi warna secara bersamaan. Selain dua warna, kami juga menawarkan perhiasan three colour (tiga warna), yaitu perpaduan emas putih, kuning, dan pink," jelasnya.

Untuk saat ini, kata dia jenis emas yang masih paling mendominasi angka penjualan, yakni emas kuning, disusul emas putih dan emas warna. Sedangkan untuk perhiasan, konsumen lebih banyak membeli cincin dan anting-anting. "Emas kuning lebih dikenal masyarakat. Cincin yang paling banyak diminati, yakni cincin variasi (desain atau warna)," katanya.

Produk China

Mengenai jumlah penurunan penjualan emas juga diungkapkan Bambang Yuwono, pemilik toko emas Dewi Sri. "Bila dibandingkan tahun lalu, omzet penjualan menurun hingga 70 persen. Kondisi ini terjadi akibat daya beli masyarakat yang masih lemah, sedangkan biaya hidup semakin tinggi," ungkapnya.

Harga emas saat ini, kata dia, masih tetap mahal walaupun sudah menurun bila dibandingkan Minggu lalu. Harga emas 24 karat Rp 160.500/gram, sedangkan minggu lalu berkisar Rp 162.500/gram. Harga emas 18 karat (75%) Rp 120.000/gram, dan 10 karat (42%) Rp 67.500/ gram. "Penurunan harga emas itu akibat kembali stabilnya harga minyak dunia serta semakin menguatnya kurs rupiah terhadap dolar," katanya.

Mengenai produk yang paling laku, dia mengungkapkan, kalung, cincin, dan gelang dengan berat 2-3 gram. Produk ini paling diminati kalangan menengah ke bawah. (H10-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA