logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 12 Maret 2006 OLAHRAGA
Line

Ronaldinho, Sirkus yang "Tak Lumrah"

Oleh: Amir Machmud NS

KETIKA menyaksikan aksi-aksi Ronaldinho dan Lionel Messi, kesan apa yang tercetak di benak Anda?

Mungkin seperti yang Anda resapi, saya menemukan kembalinya fenomena "pemain sepak bola sirkus" di tengah "sirkus sepak bola" yang banyak diketengahkan klub-klub dengan kucuran duit kuat.

Kalau pada era kejayaan Manchester United, Bayern Muenchen, atau AC Milan kita menikmati keindahan kolektivitas permainan seperti orkestra dengan irama penuh harmoni, kini era "pemain sirkus" melekat sebagai representasi tampilan Barcelona. Setiap kali menunggu Barca, bawah sadar kita menanti atraksi samba Ronaldinho dan dinamika tango Lionel Messi.

Kita tidak mengecilkan arti kepemimpinan elegan Eric Cantona di puncak kejayaan MU, presisi tendangan bebas David Beckham yang seperti bermuatan akurasi hitungan fisika, atau ketangguhan kiper Peter Schmeichel yang seolah-olah mempersempit gawang The Red Devils. Di era forza Milan juga tersuguh aksi-aksi brilian Ruud Gullit, Marco van Basten, atau Paolo Maldini. Seperti juga Oliver Kahn, Lizarazu, atau Jens Jeremies yang dominan dalam warna penampilan Bayern. Atraksi mereka secara individual tetaplah menghibur, tetapi adakah yang tingkat kemenonjolannya sekelas Ronaldinho sekarang?

Kekuatan Chelsea terletak pada soliditas antarlini dan karakter, sedangkan Real Madrid yang menyebut diri sebagai Los Galacticos gagal mewartakan magnet seperti seterunya dari Catalan. Barcelona juga mengumpulkan puncak-puncak bakat, namun mereka seperti harus "menerima" berada di bawah karisma Ronaldinho, sehingga yang terjadi adalah "melayani raja, agar sang raja melayani mereka".

Kurang apa kepemimpinan Carles Puyol yang tenang dan "ngayomi" di jantung pertahanan Barca? Kurang hebat pulakah Deco, Motta, Marquez, Larsson, Giuly, atau Eto'o? Semua jago kelas utama. Hanya, Frank Rijkaard memang memiliki primadona - untuk tidak mengekstremkannya sebagai superlatif - lewat aksi-aksi "tidak lumrah" yang kerap dihadirkan Dinho dan Messi.

Dalam sejarah sepak bola dunia, superlativisme yang sangat individual pernah dicatat Argentina di Piala Dunia 1986. Banyak analis yang menyebut pasukan Carlos Bilardo sebagai "Maradona dibantu 10 pemain Argentina". Semua nyaris ditenggelamkan oleh ''Maradona show''. Bahkan tim super Brazil di Meksiko 1970 pun tidak "Pele sentris", karena para ''penyihir samba''-nya memiliki kemampuan merata. Sama dengan kesempurnaan fungsi dirigen pada diri Johan Cruyff dalam superteam Belanda 1974, namun kebintangan Van Hanegem, Suurbier, Rensenbrink, dan Neeskens "tetap kelihatan".

* * *

INGATKAH Anda pada ucapan "gila" kanibalis Sumanto tiga tahun silam? "Saya tidak gila, tetapi memang tidak lumrah", begitu katanya.

Ya, "ketidaklumrahan" skill melekat pada sosok Ronaldinho. Dia benar-benar dikaruniai bakat untuk menjadikan bola seolah-olah bagian dari anggota tubuhnya. Bola dikendalikan semaunya dalam kemasan dribling bagai liukan penari samba. Bola di-''remote control'' dari tendangan bebasnya. Bola seperti diberi efek sensitif untuk ''taat'' ke mana akan diumpan yang memanjakan rekan-rekannya.

Barcelona mendapatkan keuntungan lewat presisi tendangan bebasnya, yang memiliki persentase tinggi untuk berbuah gol. Dinho bahkan boleh berdiri lebih tinggi di antara para master of free kick seperti Juninho, Pirlo, atau Beckham.

Memang ada plus-minus jika dibandingkan dengan Zinedine Zidane semasa jayanya. Tingkat kesenimanan yang setara, namun Dinho melengkapi diri dengan fisik kuat bagai banteng. Golnya ke gawang Chelsea di perdelapanfinal Liga Champions di Nou Camp tempo hari membuktikan keunggulan fisik itu, lengkap dengan bakat "meng-apa saja-kan" bola! Gol-gol Ronaldinho, seperti juga gaya Zidane, memiliki nilai placing tinggi, visi untuk "meletakkan" bola di ruang kosong di sela-sela keterjagaan gawang. Terkadang dengan gerakan yang tidak terduga.

Leo Messi juga menjadi maskot lain di antara penampilan utuh Barcelona. Dalam skill, dia menjadi fotokopi masa muda Diego Maradona. Dan, tampaknya, Argentina dapat menuntaskan kerinduan tentang kelahiran superstar baru, setelah beberapa nama yang dikandidatkan ternyata tidak mampu menjajari, bahkan mendekati performa si Anak Ajaib.

Sepengundur Maradona, Argentina menginspirasi kelahiran bintang, antara lain lewat Ariel Ortega, Pablo Aimar, Juan Riquelme, Javier Saviola, lalu Carlos Tevez. Predikat ''New Maradona'' dilekatkan, tetapi bakat-bakat ini tak cukup berkelimpahan untuk benar-benar meraih tuah reinkarnasi. Baru era Messi sekarang inilah pemredikatan itu menemukan logikanya.

Berbalut postur yang lebih ''langsing'', gerakan-gerakan cepat tak terhadang dan dribling prima membuat Messi ''sangat Maradona''. Dalam usia 19, potensinya masih dapat berkembang ke arah yang lebih menjanjikan.

Dengan dua maskotnya, El Barca membangun citra bukan sekadar karena penampilan kolektifnya. Rijkaard memang mampu mewujudkan imajinasi total football, tetapi lebih dari semua itu, Ronaldinho dan Messi menyajikan fenomena kembalinya ''pemain sepak bola sirkus''.(22)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA