| Minggu, 12 Maret 2006 | BINCANG BINCANG |
Salah Kostum di Inggris
MESKI kini nama Tora berkibar di dunia film Indonesia, tapi dia tetap menjadikan keluarga sebagai sumber kehidupan. Karena itu, rumah tangga yang telah dibina sejak 1999 bersama Anggraini Kadiman nyaris sepi dari gosip. Dia juga sangat bahagia dengan dua putri yang makin menghiasi hari-harinya yang supersibuk. ''Sejak anak keduaku lahir, sebenarnya aku sudah bertekad untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi ternyata belum bisa karena memang masih terikat kontrak. Sekarang aku memilih tidak menerima peran apa pun, sampai aku syuting Nagabonar Juli nanti. Jadi ceritanya sekarang aku lagi cuti. Ingin gendong-gendong bayi dulu,'' tutur lelaki kelahiran Jakarta, 10 Mei 1973 ini. Ya, sejak putri pertama lahir, keluarga adalah segalanya. ''Merekalah harta terbesar dalam hidupku.'' Dua putrinya, Azzahra Nabila (5) dan Nayara Kanahaya Sudiro (9 bulan) kini memang menjadi pusat perhatiannya. Bersama Anggi ia ingin menerapkan model pendidikan sersan, serius tapi santai. ''Aku ingin berperan sebagai ayah sekaligus teman. Dalam beberapa hal, kita harus berperan sebagai orang tua yang serius, tapi dalam hal lain menjadi teman yang santai. Ternyata didikan seperti itu terbukti berhasil,'' celoteh Tora. Pendidikan agama yang kuat, menjadi dasar yang ingin ditekankan dalam mendidik kedua putrinya. ''Itu memang yang paling baik. Makanya dari awal aku berusaha kalau bisa anak-anak masuk sekolah agama saja.'' Kebanyakan Vitamin Tora menjalani masa kecil di Jakarta. Sejak SD, dia selalu berpindah-pindah sekolah. Mulai dari SD Al-Azhar, Borobudur, Perguruan Cikini, hingga balik lagi ke Borobudur. Tora kecil sering pindah sekolah untuk mengikuti sang papa yang juga sering pindah rumah. Setelah sang mama meninggal, papanya beberapa kali berumah tangga lagi. Tora anak sulung dari tiga bersaudara kandung. Menurut cerita orang tuanya, sebenarnya ia punya kakak, tapi meninggal waktu masih bayi, karena ada tumor di hidung. Khawatir anak keduanya mengalami hal serupa, orang tuanya memberinya banyak vitamin. Akibatnya badannya tumbuh tinggi dan besar. Selepas SMA, Tora dikirim ke Inggris untuk belajar. Ada hal unik yang diingat hingga sekarang. Ketika itu sang papa mengatakan, kalau di Inggris semua orang memakai jas, karena itu ia pun diwajibkan mengenakan pakaian resmi itu ketika di sana. Tapi ternyata sesampainya di Inggris, orang-orang ternyata sedang gandrung mengenakan batik lusuh dari Bali. ''Kalau yang begituan sih itu pakaianku sehari-hari di Jakarta. Sebel banget kalau ingat pengalaman itu. Salah kostum,'' katanya. Namun hanya enam bulan dia kemudian diminta kembali ke Jakarta. Sang ayah memiliki rencana lain dan mengirimkan dia belajar ke Selandia Baru. Dia akhirnya sekolah di jurusan Travel dan Commerce. Setelah tiga tahun sekolah di Selandia Baru, Tora diminta pindah ke Australia, karena sang ayah mendapat Permanent Resident (Rumah Tinggal Tetap) di Australia. Dengan mendapat Permanent Resident, biaya sekolahnya bisa lebih murah. Akhirnya dia berangkat dan mengambil kuliah jurusan Sound Engineering. Ternyata dia pun tak menyelesaikan kuliah. Namun dia justru menemukan calon istri, Anggraini Kadiman, yang diperkenalkan oleh sang mama tiri. Semula mereka hanya berteman, karena Anggi berstatus pacar teman Tora. Namun tak lama kemudian mereka memutuskan berpacaran. Sampai kemudian sang ayah meminta Tora menikahi Anggi. Di Australia, Tora membentuk band Bragi bersama Echa dan Aldi. Peran demi peran dalam karier akting Tora, disadari telah menyita banyak waktu, yang seharusnya menjadi milik keluarga kecilnya saat ini. Meski dia kerap menerima keluhan dari sang istri, namun sejauh ini Anggi tetap menjadi pendukung utama kariernya. Karena itu bila sang istri mulai mengeluhkan kesibukan, Tora biasanya segera mengerem aktivitas. Semua itu demi kebersamaan dan keutuhan rumah tangga. ''Suka juga sih, aku pulang malam, terus istriku ngomel-ngomel. Kalau udah gitu aku pura-pura ngantuk aja, ngajak ngobrol sebentar, terus tidur. Udah gitu besok paginya pasti udah baikan lagi.'' Tora mengakui, ''Waktu untuk keluarga sangat berkurang. Apalagi waktu Ramadan kemarin aku juga ikutan ngisi acara sahur di Trans TV. Udah syutingnya tiap pagi, aku juga jadi nggak bisa sahur bareng keluarga. Jadinya sedih banget.'' Meskipun demikian, Tora punya alasan, ''Tapi ya gimana lagi, itu sudah konsekuensi pekerjaan yang kuterima. Tapi untuk kedepannya, kayaknya aku mikir dua kali dulu sebelum menerima tawaran kerja yang kayak begitu. Kasihan Anggi dan anak-anak kalau terlalu sering aku tinggal sendiri di rumah,'' ungkapnya. (Tresnawati-35) | ||||