| Senin, 06 Maret 2006 | RAGAM |
Operasi Katarak Tanpa JahitanMATA adalah jendela dunia. Begitu sering kita dengarkan ungkapan ini. Bagaimana sebenarnya mata manusia bekerja sehingga kita dapat menikmati semua yang kita lihat. Susunan bagian dalam mata kita sangat kompleks dan semuanya berfungsi untuk menghasilkan penglihatan yang baik. Segala sesuatu yang kita lihat akan ditangkap oleh media refrakta dalam bola mata yang bersifat jernih, seperti kornea, lensa dan cairan pengisi bola mata, kemudian difokuskan tepat pada lapisan saraf penglihatan. Informasi ini selanjutnya dibawa ke otak, dan diinterpretasikan sesuai dengan yang kita lihat. Sayang sekali, dengan bertambahnya usia banyak hal yang tidak bisa dihindari manusia dalam kehidupannya, seperti proses penuaan. Katarak adalah salah satunya, terjadi kekeruhan pada lensa mata. Selain itu juga bisa terjadi karena bawaan lahir, trauma atau infeksi. Lensa yang telah keruh akan menjadi penghalang objek yang kita lihat untuk sampai pada lapisan saraf penglihatan. Dengan sendirinya akan timbul rentetan akibat lainnya, terutama adalah terganggunya aktivitas dan produktivitas sehari - hari, karena menurunnya penglihatan. Selain penglihatan kabur berkabut, katarak juga memberikan gejala silau (akibat terik matahari atau sorot lampu mobil pada malam hari), melihat dobel dan ukuran kacamata sering berubah. Katarak sendiri hanya bisa diatasi dengan operasi, tidak bisa dengan obat, kacamata atau laser, seperti anggapan orang selama ini. Saat ini katarak merupakan masalah nasional sebagai penyebab kebutaan nomor satu di Indonesia dan menjadi pekerjaan rumah untuk pemerintah. Dengan bertambahnya umur harapan hidup sekarang ini (rata - rata 65 tahun), orang berharap tidak terganggu aktivitasnya akibat katarak, suatu kelainan yang sesungguhnya dapat ditanggulangi. Sayang sekali, masih banyak masyarakat yang menganggap penurunan penglihatan pada usia tua adalah biasa. Dengan teknologi kedokteran modern saat ini, sesungguhnya katarak bukan lagi merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Pada era tahun 1970 an operasi katarak di Indonesia masih menggunakan teknik intrakapsuler, dengan mengeluarkan keseluruhan lensa yang keruh secara utuh. Untuk mengeluarkan lensa yang utuh ini dibuat irisan selebar 10 - 12 mm pada mata dan dibutuhkan 7 - 8 jahitan untuk merapatkan luka operasi. Penglihatan setelah operasi maksimal hanya sejauh 1 meter, karena sesungguhnya lensa memang berfungsi seperti layaknya "kacamata" di dalam bola mata. Agar penglihatan menjadi lebih jelas, seseorang yang telah dioperasi harus memakai kacamata sungguhan yang sangat tebal, atau lensa kontak. Memakai kacamata ini disamping terasa berat dan tidak nyaman, secara kosmetik juga sangat tidak menarik. Lensa kontak mungkin sedikit menolong, tapi tetap saja merepotkan dan membutuhkan perawatan ekstra. Luka operasi yang lebar akan menyebabkan bola mata kehilangan kemampuan untuk kembali ke "bentuk" semula. Penyembuhan luka dan rehabilitasi penglihatan juga memakan waktu berbulan - bulan. Kemudian ditemukan teknik yang dianggap lebih baik, yaitu teknik operasi ekstrakapsuler. Pada teknik ini sayatan dibuat sedikit lebih kecil dari teknik sebelumnya, jahitan yang diperlukan dengan sendirinya juga lebih sedikit jumlahnya. Katarak dikeluarkan secara utuh, dengan meninggalkan selaput pembungkusnya. Di dalam selaput yang telah kosong dan berbentuk kantong ini kemudian dipasang lensa buatan untuk mengganti fungsi lensa yang telah diambil, dan biasa disebut lensa tanam. Setelah operasi, seseorang tidak perlu memakai kacamata tebal seperti pada operasi intrakapsuler. Lensa tanam ini sangat kecil, berdiameter 5 - 6 mm, dipasang di dalam mata secara permanen seumur hidup, tidak perlu dilepas, diganti - ganti atau dicuci. Sayatan yang relatif lebar memerlukan waktu setidaknya 10 minggu untuk sembuh dan mobilitas serta aktivitas penderita juga terbatas selama minimal 2 minggu. Dengan perkembangan teknologi, saat ini telah ditemukan teknik operasi katarak tanpa jahitan . Pada teknik ini, katarak dihancurkan menjadi serpihan - serpihan dengan energi dari getaran ultrasound, dan dibersihkan dengan kekuatan vakum. Sayatan operasi dibuat sangat kecil, sekitar 2 sampai 3 mm, untuk memasukkan alat fakoemulsifikasi yang digunakan. Setelah dipasang lensa tanam, luka operasi tidak perlu dijahit dan akan sembuh dalam waktu singkat. Semua ini bertujuan untuk mengembalikan mata pada kondisi sealami mungkin dan mengurangi kemungkinan komplikasi infeksi. Keuntungan lainnya adalah operasi ini dapat dilakukan pada saat kapan pun seseorang merasa penglihatannya terganggu akibat katarak, meskipun stadium kataraknya masih sangat dini. Operasi cara ini juga sangat disarankan untuk dilakukan pada katarak yang terjadi akibat atau disertai penyakit mata lainnya, untuk meminimalkan manipulasi pada mata. Di samping kelebihan di atas, teknik operasi fakoemulsifikasi juga mempunyai kelemahan. Antara lain teknik ini justru sulit dilakukan pada jenis katarak yang sangat keras karena sulit untuk dihancurkan atau pada katarak stadium lanjut. Kelemahan lainnya adalah ketersediaan alat ini di Indonesia masih terbatas dan diperlukan keterampilan khusus untuk dapat melakukan operasi dengan teknik tersebut. Mata adalah indra yang terpenting bagi manusia. Untuk itu sayangi dan rawatlah, jangan sampai keseharian kita terhambat akibat gangguan penglihatan. Bisa menikmati semua keindahan di sekitar kita merupakan kenikmatan yang tak terhingga dan harus disyukuri. (11) - dr. Sita Pritasari, SpM, dokter di Semarang Eye Center RSI Sultan Agung / Dosen FK Unissula Semarang |