| Senin, 06 Maret 2006 | PANTURA |
Konser Musik Rusak Lapangan Mataram
PEKALONGAN - Wali Kota Pekalongan HM Basyir Ahmad sedang membahas kemungkinan Lapangan Mataram dan Stadion Kraton dilarang untuk dipakai konser musik. Sebab, konser dikhawatirkan bisa merusak lingkungan lapangan dan stadion tersebut. Namun, lapangan lain di kota itu masih boleh digunakan asalkan mendapatkan izin dan melalui prosedur yang benar. Demikian ditegaskan Wali Kota Pekalongan melalui Kabag Humas Suharto BBA, berkaitan dengan usul DPRD agar Pemkot tidak melarang konser musik di kota tersebut. Para wakil rakyat beralasan, pertunjukan seni musik bisa menjadi hiburan murah bagi kalangan muda dan juga menjadi ajang peningkatan kreativitas bagi para remaja (SM 4/3). Suharto mengatakan, baru ada dua lokasi yang akan dilarang untuk konser, yakni Lapangan Mataram dan Stadion Kraton. Larangan itu bukan berarti Pemkot harus mengeluarkan surat larangan. Yang jelas, event organizer (EO) yang akan mengajukan perizinan di dua lapangan itu pasti akan ditolak. OE masih bisa menggunakan lokasi lain, misalnya Lapangan Kuripan Lor, Panjangwetan, Setono, dan Sorogenen. Menurut dia, pentas musik yang tidak hanya dipusatkan di Lapangan Mataram juga bisa memicu perkembangan perekonomian di tempat lain. ''Lihatlah, Lapangan Mataram sekarang sudah penuh pedagang,'' tegasnya. ''Kalau acara hiburan dialihkan ke lapangan lain di pinggiran kota, perkembangan ekonomi daerah pinggiran diharapkan dapat pula berkembang,'' tambahnya. ''Jadi, jangan khawatir. Kita tetap memberikan kesempatan pada grup musik dari Ibu Kota untuk manggung di Pekalongan, sepanjang perizinannya dipenuhi,'' tandasnya. Perlu Uang Jaminan Dikatakan, Pemkot harus menarik uang jaminan terhadap suatu pertunjukan musik. Jika lokasi yang digunakan untuk pentas nanti rusak, uang itu akan digunakan untuk perbaikan. ''Jika tidak ada kerusakan, uang bisa diambil lagi,'' katanya. Pada konser Peterpan beberapa hari lalu, penyelenggara hanya ditarik uang jaminan Rp 2,5 juta sehingga Pemkot rugi. Sebab, kerusakan yang ditimbulkan fans sangat besar, yakni Rp 100 juta. Kerusakan di Lapangan Mataram sangat besar, karena lingkungan sekitarnya terdiri atas taman-taman yang tanamannya mahal. Di sekitar sana juga banyak kantor, yang ikut kotor karena ulah penonton. Wakil Ketua Komisi D DPRD (Bidang Pendidikan dan Kesra) Drs Jamaludin, yang dimintai tanggapan, mengatakan Lapangan Mataram berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan pendidikan dan masyarakat umum. Bagi para siswa, lapangan itu digunakan untuk olah raga, upacara, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi masyarakat umum, ia digunakan untuk shalat Idul Fitri atau Idhul Adha. Sayang, sudah beberapa kali Lapangan Mataram tidak bisa digunakan untuk ibadah karena becek. Karena itu, dia mengusulkan agar peresapan lapangan diperbaiki. ''Belakangan ini, meskipun hujan sudah tiga hari lewat, lapangan masih becek. Ini menunjukkan peresapan yang dibangun beberapa tahun lalu tidak berfungsi. Jalan keluarnya, harus dibangun peresapan yang baik,'' katanya.(A15-58) |