logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 PANTURA
Line

Anggota Hizbut Tahrir Tuntut Penegakan Khilafah

TEGAL - Sedikitnya 80 anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HHI) wilayah Tegal menggelar aksi unjuk rasa damai di halaman gedung DPRD, Minggu (5/3). Mereka menyampaikan sikap dalam memperingati 82 tahun perjuangan menegakkan khilafah Islamiyah. Para pengunjuk rasa itu, yang mengenakan busana muslim dengan slayer bertuliskan huruf Arab, tiba sekitar pukul 10.00.

Mereka duduk membentuk lingkaran sambil mengangkat bendera dan poster berbunyi ''Saatnya Khilafah Memimpin Dunia'', ''Khilafah Wajib dan Perlu'', dan ''Khilafah The Only Solution''.

Sejumlah tokoh muslim tampil ke depan, menyampaikan orasi. Ketua HHI Ustad Imron Khaerani mengatakan, kenaikan harga BBM dan berbagai kebutuhan pokok terjadi akibat sistem pemerintahan yang salah.

Buntutnya, angka pengangguran melonjak, banyak orang jatuh miskin, dan wanita-wanita terjerumus untuk melacurkan diri. Menurut dia, satu-satunya solusi untuk mengatasi krisis tersebut adalah mengembalikan pemerintahan yang islami.

Ustad Munir dari Majelis Mujahidin Indonesia Perwakilan Brebes mengatakan, produk hukum yang dihasilkan legislatif tidak sesuai dengan syariah.

''Sistem pemerintahan kita menganut sekulerisme barat,'' kata dia, sambil menunjuk ke arah gedung DPRD. ''Ini yang mengakibatkan umat Islam tercerai berai dan lemah.''

Malapateka

Peserta unjuk rasa, yang bertahan duduk di bawah sengatan sinar matahari, menyambut dengan seruan Allahu Akbar berkali-kali, sambil mengangkat poster.

Juru bicara HHI Muhammad Ismail Yusanto, dalam suatu pernyataan sikap, mendesak pemerintah menghapus praktik korupsi dan tidak melindungi pejabat serta pengusaha korup.

Ditegaskan, penyebaran pornografi di media massa ikut merusak dan merugikan rakyat.

Secara khusus, dia menyerukan umat Islam agar bangkit dan bersatu untuk menerapkan syariah, menegakkan kembali khilafah Islamiyah.

''Ini yang akan mewujudkan masyarakat makmur sejahtera,'' tambah pernyataan tersebut.

Ditambahkan, sejak runtuhnya khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924, negara Islam terpecah menjadi 50 negara. ''Keruntuhan ini merupakan malapetaka bagi umat Islam di seluruh dunia. Sebagian besar negara Islam kini di bawah bayang-bayang kekuasaan Barat,'' katanya.(H16-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA