logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 OLAHRAGA
Line

Perubahan Drastis Tak Mungkin Dilakukan

SEMARANG- Pertandingan lawan Persijap Jepara yang kian dekat membuat pelatih sementara PSIS Bonggo Pribadi berusaha keras membenahi kelemahan dan kekurangan tim.

Mudahnya Emmanuel de Porras cs kehilangan bola disikapi dengan antara lain mengasah ball feeling pemain. Sedangkan simulasi taktik dan strategi menghadapi Persijap dilakukan pagi ini.

''Cara main dan komposisi lawan Persijap baru kami coba Senin pagi. Di sela-sela itu, kelemahan dan kekurangan tim tetap kami perbaiki,'' ungkap Bonggo.

Persiapan yang singkat membuat dirinya relatif tidak banyak mengubah komposisi pemain. Perubahan hanya terjadi di lini depan dan belakang, karena Emmanuel de Porras dan Maman Abdurahman harus absen.

Mereka terkena akumulasi kartu kuning. Kartu kuning pertama Porras diperoleh saat lawan Persikota dan kedua di Persitara Jakarta Utara. Sedangkan Maman mendapat kartu kuning pada pertandingan menghadapi PSIM dan Persitara.

''Jika komposisi pemain diubah drastis, risikonya terlalu besar mengingat waktu pertandingan semakin dekat,'' katanya.

Dalam latihan Bonggo terlihat lebih banyak mengasah ball feeling dan sentuhan bola anak-anak asuhannya melalui latihan dalam lapangan yang sempit. Model latihan dengan satu dua sentuhan di seperempat lapangan itu bakal sering dipraktikkan, seperti halnya saat PSIS ditangani Bambang Nurdiansyah musim lalu.

''Itu untuk mengatasi agar pemain tidak mudah kehilangan bola,'' ujarnya.

Tidak Terpengaruh

Manajer Tim Yoyok Sukawi mengemukakan, menjelang lawan Persijap motivasi pemain tetap tinggi. Mereka tidak terpengaruh oleh pergantian pelatih dari Sutan Harhara ke Bonggo Pribadi. Bahkan, pergantian pelatih ini menjadi pelajaran bagi mereka untuk tampil lebih baik di derby antartim Jateng ini.

''Motivasi dan semangat pemain tetap tinggi. Itu modal penting untuk menghadapi Persijap. Kami akan menampilkan permainan terbaik,'' tuturnya.

Dari hasil evaluasi antara pemain dan manajemen Jumat (3/3) lalu, menurut Yoyok, sebenarnya permainan PSIS yang cenderung menurun itu disebabkan kekurangtahuan pemain terhadap tugas-tugasnya. Akibatnya, mereka cenderung individual dalam melakukan aksi-aksinya. Permainan kolektif dan kebersamaan yang sebelumnya menjadi andalan tim kebanggaan warga Semarang ini sedikit memudar. Karenanya, Yoyok berharap dengan ditangani Bonggo, permainan bisa kembali bergairah dan kompak.

''Mereka pemain profesional. Saya yakin, pada pertandingan berikutnya bisa bangkit untuk kembali bersaing di papan atas,'' kata ayah dari Chantia itu.

Soal pelatih permanen pengganti Sutan Harhara, putra kedua Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip ini belum punya gambaran.

Pelatih baru akan ditentukan setelah melihat kinerja Bonggo dalam tiga pertandingan terakhir putaran pertama. (H13-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA