logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Demo Guru Honorer

Demo yang digelar para guru honorer di sekolah swasta seharusnya tidak terjadi jika PP No 48/2005 mengakomodasi mereka. Diakui atau tidak, mereka sebenarnya juga mencerdaskan bangsa ini. Me-nurut saya tujuan demo, menuntut pengakuan pemerintah yaitu hak pengangkatan CPNS.

Mungkin saat ini penyampaian pendapat yang dianggap paling efektif adalah berdemo karena bisa didengar dan dilihat semua orang termasuk lembaga/instansi yang dituju dengan bantuan media. Usulan mereka, mencabut/mengubah PP tersebut agar memperoleh hak yang sama dengan honorer negeri.

Jadi hak para guru honorer di sekolah negeri dalam pengangkatan CPNS tetap dan tidak dirugikan. Mungkin hanya kompetitornya menjadi lebih banyak. Kenyataannya banyak juga yang menganggap guru honorer di sekolah swasta gajinya besar dan enak karena dihitung per jam pelajaran.

Pendapat itu tidak semuanya benar. Mungkin yang bergaji besar hanya para guru swasta di sekolah favorit di mana para muridnya dari keluarga mampu.Tapi bagaimana bagi sekolah yang "sedang-sedang saja" ? Contoh, seorang guru mengajar 20 jam dengan gaji Rp 10 ribu/jam, maka pendapatannya 20 x Rp10 ribu = Rp 200 ribu/bulan.

Mereka mengajar 80 jam (20 jam x 4 minggu) dan biasanya ditambah uang transpor yang tidak lebih dari Rp 50 ribu/bulan. Saya memberi contoh karena saya adalah guru honorer SMA swasta yang mengajar sejak 1988 dari alumnus IKIP Semarang 1987.

Jika ikut ujian CPNS untuk umum, maka saya juga terganjal usia. Akhirnya, wahai para guru honorer di mana pun berada, kita adalah teman (sesama guru) tanpa memandang di mana mengajar apakah di sekolah negeri atau swasta. Ok ?

Dra Susilowati
Jl Jaya Serayu 46, Banyumas

***

Pembuatan "Antologi Puisi Guru 2006"

Forum Komunikasi Kreativitas Guru (FKKG) mengajak sesama rekan untuk berpartisipasi dalarn Penulisan Puisi Pendidikan.

Selama ini mungkin para guru merasa prihatin terhadap kondisi pendidikan, tayangan TV, kondisi sekolah, kehidupan guru dan lainnya. Namun semua hal itu berhenti sebatas obrolan.

Belum dikomunikasikannya ide tersebut mungkin karena terbatasnya ruang media cetak atau belum ada pembiasaan menulis dalam diri para guru. Padahal bukan tidak rnungkin dalam catatan pribadi atau ide guru terdapat mutiara pemikiran yang bisa disumbangkan kepada masyarakat dan negara.

Karena itu forum ini mengharap sumbangan tulisan mengenai pendidikan baik berupa ide, pemikiran, perenungan atau bahkan sekadar tumpahan perasaan dan keprihatinan guru. Tulisan akan dibuat menjadi "Antologi puisi guru 2006". Tulisan berbentuk puisi dengan tema, "Potret Pendidikan Kita".

Pengirim, guru baik PNS, guru bantu, guru kontrak, PTT atau guru yayasan dengan menyertakan biodata meliputi nama, tempat bekerja, masa kerja, alamat dan lainnya. Setiap orang mengirim paling banyak 3 judul puisi.

Kegiatan ini terbuka untuk semua guru mata pelajaran apa pun pada jenjang pendidikan SD s.d SMA/SMK.

Tulisan ditunggu sebulan sejak dimuatnya surat pembaca ini sekitar 100 judul ke Suhriyanto SPd (SMPN 1 Ajibarang, Trisnatun SPd (Blok L- 6 Perum Tiara Ajimas Permai Ajibarang Kulon)

Trisnatun SPd

***

Candu Nasional

Bapak Taufik Ismail pernah mengatakan Indonesia adalah surga bagi perokok. Maka ketika ada gubernur mengetok Perda larangan merokok di tempat umum, para perokok sontak berteriak kompak dan menyatakan perda itu wagu, grusa-grusu serta melanggar hak asasi.

Melawan rokok yang sudah menjadi candu nasioanal adalah pekerjaan berat. Berbeda dengan narkoba yang jelas berada di dalam kotak haram, seluruh negeri satu suara berperang melawannya. Sedang rokok masih berada di garis dilema, antara enak dan nggak enak, antara hajat hidup orang banyak dan PHK.

Untuk menzerokan angka perokok, hal yang tak mungkin. Jalan tengah berupa pelarangan merokok di tempat umum dan sepatutnya didukung. Jika para perokok berdalih bahwa merokok adalah hak asasi , seharusnya mereka juga menghormati hak asasi orang lain yang emoh menghisap racun jahat rokok.

Selama ini mereka menjejalkan asap yang berefek lebih jahat dari yang mereka isap sendiri kepada wanita dan anak-anak, kelompok terbesar perokok pasif. Padahal kenikmatan yang mereka pertontonkan secara gratisan itu menjadi iming-iming manjur bagi ana-anak ingusan untuk menjajalnya.

Tak ayal angka persentase perokok di tingkat anak- anak SD/SMP makin tahun bikin hati teriris. Saat merantau di Batam, saya singgah di sebuah pabrik yang berani bersikap tegas terhadap perokok. Mereka hanya boleh merokok di luar gedung, di sebuah gazebo.

Di kantin memang disediakan bilik berkaca tertutup berpipa hisap tapi di luar itu, no way.Padahal saat itu tak ada perda yang menggebuk dengan ancaman kurungan atau denda jutaan rupiah. Yang ada hanya kesadaran dari perusahaan yang bertekad menciptakan lingkungan nyaman bagi siapa pun.

Alangkah indahnya, jika semua pihak bisa mengedapankan tepo sliro. Jika memang tidak bisa berhenti merokok, mbok yao saat menikmati linthingan berasap itu berendah hati untuk sejenak "mengucilkan diri" dari perokok pasif terutama ibu hamil, bayi dan anak-anak.

Indra Ari
Bakalrejo Rt 5/Rw I, Guntur, Demak

***

Jam Sudah Diterima

Tiga hari sebelum menulis surat ini, saya telanjur membuat surat pembaca dengan judul: ''BNI Visa Card, Mana Jam Tangan Eksklusifnya''. Surat kedua ini saya buat selang beberapa menit setelah seorang kawan datang kepada sambil minta maaf.

Dia menyerahkan sebuah jam tangan eksklusif. Katanya jam sudah lama dia terima karena waktu itu saya pergi haji maka jam disimpannya. Karena lama akhirnya jadi lupa. Maksud hati ingin menarik kembali surat saya tersebut, tapi sudah cetak.

Permintaan maaf saya tujukan kepada BNI atas kesalahpahaman ini dan juga terima kasih atas hadiah jam tangannya yang cantik. Dengan demikian tulisan saya sebelumnya saya tarik kembali dan dianggap tidak pernah ada.

Bambang Suripno SH MSi
Cemani Rt 5/14, Sukoharjo

***

Duh, Bank Niaga..

Sekitar Oktober 2005 istri saya Dwi Ariyanti dihubungi pertelepon oleh orang mengaku dari asuransi Cigma yang bekerja sama dengan Bank Niaga Pemuda Semarang untuk mengikuti program asuransi berbagai produk unggulannya.

Tetapi tanpa persetujuannya dan tak sesuai standard operation procedure, pihak Bank Niaga telah meng-auto debet dananya Rp 70.000 sebanyak 4 kali. Setelah istri saya mengklarifikasi ternyata dana tersebut ditransfer secara auto ke anak perusahaan bank tersebut yaitu asuransi Cigma.

Kepada nasabah agar berhati-hati, jangan sampai mengalami seperti istri saya. Karena ternyata manajemen di bank tersebut melegalkan transfer dana untuk kepentingan grupnya tanpa persetujuan tertulis dari nasabah. Untuk itu istri saya menarik seluruh dana pada tanggal 3 Februari 2006 dan tanpa permintaan maaf dari pihak bank.

L Hadi Ibrahim
Jl Suhada Tng Rt 4/Rw 2, Semarang

***

KTA Bank HSBC

Saya penerima fasilitas kredit tanpa agunan dari Bank HSBC, No 001-570621-840 yang jatuh tempo pembayaran tanggal 10 tiap bulannya dan angsuran KTA Rp 1.926.667. Biasanya pembayaran dengan mentransfer dari ATM BCA beberapa hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Tanggal 9 Februari 2006 saya minta karyawan mentransfer rnelalui teller Bank HSBC cabang Semarang di Jl Gajahmada 135 sebanyak Rp 1 926.700 (kopi bukti setor terlampir). Saya akui lalai mencantumkan besarnya biaya pernbayaran sebesar Rp 15.000 sehingga karyawan hanya disetorkan angsurannya saja.

Tanggal 22 Februari 2006 saya menerima telepon dari HSBC Jakarta, memberitahukan denda pembayaran angsuran sebesar Rp 85.000 dengan rinci Rp 15.000 untuk biaya pembayaran lewat teller dan Rp 70.000 denda keterlambatan.

Yang jadi masalah bukan besarnya uang denda tetapi kenapa pihak bank sepertinya sengaja memperlambat pemberitahuan sehingga saya dikenai denda. Kalau bank punya itikad baik dan seharusnya tanggal 10 Februari 2006 bisa memberitahu bahwa ada kekurangan pembayaran.

Bukankah saya sudah memenuhi kewajiban dengan menyetor sebelum jatuh tempo dan kenapa biaya pembayaran sebesar itu hanya dalam 13 hari sudah berbunga menjadi 5 kali lipat. Kalau hal ini menimpa 100 nasabah/hari, lumayan juga keuntungan yang diperoleh Bank HSBC. Bagi para nasabah lain berharap teliti dulu sebelum membayar.

Della Nova Nusantara
Jl Pekojan Sekolahan 23, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA