logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 WACANA
Line

Setelah IPNU Kembali ke Organisasi Pelajar

Oleh M Rikza Chamami

SEBUAH prestasi gemilang yang diraih pada Kongres IPNU 2003 di Surabaya adalah keberhasilan mengembalikan IPNU sebagai organisasi pelajar. Peralihan itu menunjukkan arti penting bagi proses kejelasan ''kelamin'' IPNU di masa mendatang.

Dalam menghadapi dinamika kehidupan akhir-akhir ini, tampaknya peran IPNU tidak cukup banyak didengar. Ia tampil sebagai organisasi yang berkiprah di kandangnya sendiri, dan belum banyak memberikan peran bagi publik. Hal ini banyak diakui oleh beberapa pihak, termasuk generasi muda NU sendiri.

Pertanyaannya kemudian, apakah ''kemandulan'' IPNU disebabkan tidak efektifnya segmen pelajar yang digarap? Atau justru diakibatkan faktor SDM yang tidak mampu mengaktualisasikan lembaga? Yang pasti bukan karena itu semua. Ketidakberdayaan IPNU diakibatkan oleh ketidakkonsistenan kadernya memegang khittah IPNU.

Seharusnya pascakongres dilakukan rencana strategis yang khusus memformulasikan visi kepelajaran yang dimilikinya. Selama tiga tahun berjalan, visi kepelajaran yang dimiliki IPNU mengambang, atau bahkan berjalan tanpa arah yang jelas. Ini sangat tampak ketika kader di ranting dan anak cabang belum begitu paham tentang perubahan kepanjangan akronim ''P'' dari ''putra'' ke ''pelajar''.

Melihat kondisi demikian, setidaknya ada dua PR yang perlu diselesaikan oleh IPNU. Pertama, menegaskan posisi organisasi kepelajaran yang telah diikrarkannya. Kedua, menggarap dunia kepelajaran secara serius agar peran IPNU semakin jelas. Kedua PR itu seyogianya bisa selesai sebelum Kongres XIV yang akan digelar Juli 2006.

Gerakan Intelektual

Posisi organisasi pelajar di Indonesia sangat efektif dalam menyokong SDM bangsa. Ia berdiri dan berkiprah menguatkan basis pendidikan dan segmen keilmuan. Pendidikan dan keilmuan itu akan menghadirkan karakter bangsa, semacam kemandirian, kesahajaan dan kesatuan persepsi. Jadi arah yang paling ideal bagi IPNU ke depan adalah mengembangkan format gerakan intelektual.

Kita bisa mencontoh Turki dan Mesir yang sadar akan kemundurannya. Ia masuk dalam periode kebangkitan Islam setelah ekspedisi Napolion di Mesir berakhir pada tahun 1801 M. Peristiwa itu membuka mata dunia Islam, terutama Turki dan Mesir, akan kemunduran dan kelemahan umat. Di sisi lain kemajuan dan kekuatan Barat tidak lagi dipungkiri.

Fenomena demikian menjadikan pemerintah dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir dan mulai cari jalan untuk mengembalikan balance of power yang membahayakan Islam. Dengan demikian, timbullah apa yang disebut pemikiran aliran pembaharuan atau modernisasi dalam Islam (Muslim Ishak: 1988).

Gerakan intelektual yang dimaksud adalah bagaimana IPNU mampu memberikan sumbangsih kepada kadernya untuk cinta ilmu sepanjang hayat dan melek terhadap modernisasi. Format gerakan yang nyata adalah doktrinasi arti penting ilmu modern untuk bekal di masa mendatang.

Selama ini, NU dipandang sebagai organisasi klasik yang hanya mampu mencetak kiai. Doktor dan profesor yang lahir dari NU juga masih minim. Dengan kiprah kepelajarannya, jiwa cinta ilmu bisa ditanamkan sejak dini kepada kadernya, baik dalam pengkaderan formal maupun nonformal.

Ke depan, IPNU tidak lagi bersusah payah mengadakan acara seremonial yang hanya berupa seminar atau semiloka, tetapi dengan SDM pendidikan yang kuat, IPNU mampu menawarkan gagasan brillian untuk disumbangkan pada bangsa.

Membangun Pelajar

Secara formal, IPNU sudah mempunyai departemen advokasi pelajar. Tetapi lembaga ini tidak berdaya sedikit pun, sehigga terkesan tidak efektif dan bahkan ada ide untuk menghapusnya. Penulis menilai lembaga tersebut masih sangat penting.

Persoalannya kemudian, bagaimana memberikan bekal dan otoritas penuh bagi kader yang mengelolanya. IPNU selayaknya mengambil peran strategis mendampingi kasus-kasus pelajar yang muncul di permukaan.

Ketika pelajar Aceh tidak begitu diperhatikan, IPNU tampil mendampingi mereka memperoleh hak pendidikan sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945. IPNU menegaskan sikapnya kepada Pemerintah agar membuat pendidikan darurat pascatsunami.

Yang sedang marak sekarang adalah ancaman moralitas pelajar dari bahaya budaya Barat, seperti kehidupan bebas, glamorisme, dunia malam, dan konsumerisme. IPNU seharusnya bermain untuk memfilter budaya itu dengan melakukan kajian-kajian akademis. IPNU tidak melarang budaya lain masuk, tetapi melakukan seleksi dengan melibatkan semua pelajar dan pemuda. Dengan demikian, budaya Indonesia akan tetap tumbuh subur.

Dengan peran demikian, IPNU mampu menjalankan amanatnya dalam membangun pelajar dengan nilai-nilai budaya luhur bangsa.

Manusia memang butuh pengalaman hidup. Begitu pula IPNU butuh pengalaman untuk menyelesaikan tugas utamanya dalam membangun pelajar Indonesia. (24)

-M Rikza Chamami SPdI, Wakil Ketua PW IPNU Jawa Tengah dan staf pengajar Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA