logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 WACANA
Line

tajuk rencana

Pertamina Milik Kita, Exxon Milik Asing

- Siapa yang akan diputuskan menjadi operator Blok Cepu? Kita menunggu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengambil keputusan tepat sekaligus cepat. Keputusan cepat diperlukan mengingat molornya langkah operasi bisa berarti kerugian besar. Namun keputusan tepat jauh lebih diperlukan karena semua ini menyangkut sesuatu yang teramat strategis. Nilai investasi Blok Cepu sekitar 2,5 miliar dolar AS atau hampir Rp 25 triliun, potensi cadangan minyaknya 700 juta barel. Kalau bisa memproduksi 170.000 barel per hari saja maka hasilnya bisa Rp 85 miliar per hari. Harus diakui, hal ini sangat sensitif karena menyangkut perjanjian dengan pihak asing. Syukurlah yang menyangkut ''pembagian'' di daerah sudah bisa diselesaikan.

- Pemerintah yang dimotori Wakil Presiden Jusuf Kalla semula tampak sekali kecondongannya kepada Exxon sebagai operator Blok Cepu. Sementara itu berbagai kalangan, termasuk Dirut Pertamina Widya Purnama, lebih membela kepentingan nasional dan menyatakan Pertaminalah yang seharusnya menjadi operator. Maka pada saat itu, konsep dalam joint operation agreement (JOA) yang ditawarkan kira-kira 55% Pertamina dan 45% Exxon. Adapun 55% untuk Pertamina itu sudah termasuk 10% ''jatah'' daerah. Jadi, kitalah yang akan menjadi pengendali, bukannya pihak asing. Pertamina adalah milik kita, sedangkan Exxon milik asing. Sayang, pemerintah kemudian menyodorkan konsep lain dalam JOA dengan pembagian 50:50.

- Agak sulit diterima sebuah kesepakatan ataupun kelak diwujudkan dalam joint operation committee dalam porsi 50:50. Bagaimana jika pengambilan sebuah keputusan menemui jalan buntu? Dalam dunia korporasi atau bisnis, keberadaan pemegang saham mayoritas sangatlah penting karena sekaligus bisa mengendalikan. Sekarang keputusan ada di tangan Presiden dan tampaknya tidak mudah bagi SBY untuk mengambil keputusan di antara kepentingan idiil berpegang pada prinsip nasionalisme dengan keputusan yang lebih rasional untuk melancarkan kegiatan Blok Cepu dari sisi bisnis. Di sini dibutuhkan keberanian mengambil keputusan sekaligus keberanian untuk memercayakan kepada Pertamina sebagai pengendali atau operator utama.

- Mengapa semula beberapa petinggi negeri yang juga pengusaha lebih condong kepada Exxon? Tentu ada yang berpikiran negatif, pasti ada apa-apanya di balik semua itu. Namun kita pun bisa berpikiran positif, mengingat adanya kelemahan dari Pertamina, dan sebaliknya, ada kelebihan pada Exxon. Pertimbangan operasional Blok Cepu menyangkut banyak hal di antaranya kemampuan dalam bidang manajemen, termasuk distribusi atau delivery, keuangan, dan teknologi. Soal pengalaman melakukan semua itu, termasuk eksplorasi, tentu Exxon lebih unggul. Persoalannya, apakah benar Pertamina tidak mampu? Bukankah logikanya, kita yang mempunyai sumber daya alam, maka kita bisa menang dalam negosiasi apa pun, termasuk yang menyangkut keuangan.

- Pengalaman buruk yang sudah banyak dialami bisa menjadi pelajaran berharga. Bagaimana kita dihadapkan pada persoalan pelik dalam kasus Freeport, misalnya. Pengamat ekonomi politik Revrisond Baswir paling sering mengingatkan semakin merajalelanya kekuatan ekonomi asing ''menjajah'' Bumi Pertiwi. Lihatlah bagaimana proses perpindahan kepemilikan dari nasional kepada pihak asing berlangsung begitu cepat dalam industri perbankan, telekomunikasi, dan masih banyak lagi. Akankah dalam urusan minyak ini kita kembali dikendalikan oleh asing dengan konsekuensi merekalah yang akan menikmati lebih banyak keuntungan? Pengendalian bisa mempunyai bobot politik sehingga tak hanya bisa dinilai dari segi ekonomi semata. Dibutuhkan nasionalisme yang tinggi untuk melihat persoalan ini.

- Kita masih percaya SBY akan mengambil keputusan tepat dengan lebih membela kepentingan bangsa. Presiden telah menginstruksikan kepada Menteri BUMN Sugiharto untuk segera membenahi dan melakukan restrukturisasi manajemen Pertamina. Apakah itu tanda-tanda bahwa kepercayaan akan diberikan kepada Pertamina? Kita akui, ada proses transformasi dalam bidang manajemen yang lamban pada BUMN, termasuk Pertamina. Itu membuat badan usaha tersebut kurang kondusif dalam banyak hal, terutama menyangkut soal bisnis. Namun justru inilah saat yang tepat untuk melakukan perombakan dengan memberikan kepercayaan pengelolaan Blok Cepu kepada Pertamina. Artinya, joint operation tetap dilakukan dengan Exxon, namun kita lebih dominan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA