logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 WACANA
Line

tajuk rencana

Mendorong Jangan Hanya Ada Chrisjon

- Makin terbukti, dan Chrisjon pun makin teruji sebagai petinju terbaik yang dimiliki Indonesia, saat ini dan dalam sejarah pertinjuan kita hingga sekarang. Kemenangan kali kelima dalam duel mempertahankan gelar kelas bulu Persatuan Tinju Dunia (WBA), Sabtu malam lalu di Golden gate Arena, Tenggarong, Kalimantan Timur, mengukuhkan fakta petinju asal Banjarnegara ini sebagai yang terbaik di kelasnya. Juan Manuel Marquez Mendez, petinju asal Meksiko yang dikalahkan dengan angka, selama ini disebut-sebut sebagai salah satu kekuatan penting di kelas bulu, sehingga Chrisjon pun sempat diragukan: mampukah mengatasi penantang yang memang lebih berpengalaman tersebut?

- Di panggung tinju dunia tidak hanya ada satu juara. Versi WBA memang memiliki karisma tersendiri, tetapi para juara tetaplah memburu kemungkinan penyatukan gelar menghadapi jago-jago dari versi Dewan Tinju Dunia (WBC), Federasi Tinju Internasional (IBF), atau Organisasi Tinju Dunia (WBO). Selain itu, nama-nama legendaris yang "berkeliaran" di luar para juara resmi juga kerap mendapat "pengakuan" yang justru lebih bergema. Dalam "norma" tinju profesional, publisitas para legenda tersebut acap lebih merangsang para promotor karena dinilai mampu menjadi magnet pengeruk uang. Misalnya Mike Tyson, yang namanya pernah bergaung lebih kuat dibandingkan dengan juara dunia resmi.

- Di kelas superbulu bercokol para seniman ring yang memiliki nilai jual tinggi, yakni Manny Paqcuiao, Erik Morales, dan Marco Antonio Barrera. Kendati di kelas bulu secara formal gelar juara WBC disandang Takashi Koshimoyo (Jepang), IBF di tangan Valdemir Parreira (Brazil), dan WBO dijuarai Scott Harrison (Inggris), tetapi opini tinju dunia menguatkan eksistensi tiga seniman tersebut untuk "mengintervensi" gaung juara kelas bulu. Di kelasnya, Chrisjon sudah mengalahkan dua nama di antara yang diperhitungkan, yakni Derick Gainer dan Juan Marquez. Maka kini rintisan baru harus disusun, apakah mengikhtiarkan duel unifikasi, ataukah memburu salah satu legenda.

- Kalkulasi harus cermat dilakukan oleh manajemen Chrisjon, sehingga pilihan untuk merancang pertarungan berikutnya tidak justru memorakporandakan kebanggaan yang sedang dirasakan bangsa Indonesia. Kita sadari Chrisjon merupakan aset bangsa yang sulit dinilai, karena saat ini praktis hanya dialah yang mampu menggaungkan kebesaran dunia olahraga di panggung dunia. Juara yang lain, M Rachman masih selalu terbentur fakta kesulitan menembus peluang untuk melakoni pertarungan mempertahankan gelar, sehingga belum benar-benar teruji. Sedangkan kandidat yang lain masih belum muncul dan mewartakan prospek sebagai jagoan penerus.

- Jika dipilih duel penyatuan gelar, jelas dibutuhkan ketepatan memilih satu di antara tiga versi badan tinju dunia. Gambaran prosesnya bisa sangat berliku, tergantung kekuatan lobi terhadap mereka yang mempunyai pengaruh di semua badan yang ada, dan biasanya skenario semacam itu menjadi agenda "mafia" tinju sekelas Don King. Termasuk untuk memburu legenda seperti Barrera, Paqcuaio, atau Morales yang menuntut Chrisjon harus pindah ke kelas superbulu. Nilai jual Chrisjon tentu juga akan ditimbang-timbang mengingat dia belum menembus pertarungan di Amerika Serikat sebagai persyaratan tidak tertulis untuk benar-benar diperebutkan oleh para match maker.

- Kita berpendapat, Chrisjon membutuhkan satu-dua kali lagi pertarungan di luar keniscayaan mempertemukannya dengan para seniman ring tersebut. Bagaimanapun, makin kuat eksistensinya di WBA, namanya pun akan makin tertancap kokoh, sehingga tawaran dimungkinkan datang sendiri. Pada sisi lain, tinju Indonesia juga butuh keberadaannya untuk menginspirasi para pemuda yang tertarik menerjuni olahraga keras ini. Dia telah terbukti mampu mengentaskan diri dan hidup sebagai seorang profesional. Dengan ilham mengenai kemauan keras, ketekunan, kesabaran, dan sikap profesional, kita mendorong anak-anak muda meraih kesuksesan yang sama.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA