logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 NASIONAL
Line

Hak Pilih Dikhawatirkan Memecah TNI


DISKUSI PANEL : Fuad Bawazier (kiri) sebagai pembicara dalam diskusi panel dengan tema "Merajut Kekeluargaan dan Optimalisasi Peran KAHMI dalam Pemberdayaan Umat", yang diselenggarakan KAHMI Jateng di Ruang Anggrek Hotel Pandanaran Semarang, Minggu (5/3). (57t)

SEMARANG- Penggunaan hak pilih TNI dalam Pemilu 2009 dikhawatirkan bisa memecah persatuan dan kesatuan lembaga tersebut. Ketua Umum Korps Alumni HMI (KAHMI) Fuad Bawazier mengungkapkan hal itu di sela-sela Musyawarah Wilayah (Muswil) KAHMI Jateng di Ruang Anggrek Hotel Pandanaran, Minggu (5/3).

''Kondisi TNI yang telah solid saat ini bisa terpecah, kalau mereka menggunakan hak pilih dalam Pemilu 2009. Kalau hak pilih ini diberlakukan, bisa saja ada tentara yang tak sepaham dengan pilihan Panglima TNI,'' kata mantan menkeu ini.

Penggunaan hak pilih TNI dikhawatirkan juga bisa memperpecah TNI antarbatalyon. Misalnya, batalyon suatu wilayah mendukung salah satu parpol, sementara batalyon yang lain mendukung parpol lainnya.

Dia mengungkapkan hal itu berkaitan dengan pernyataan mantan panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto yang menekankan penggunaan hak pilih TNI pada Pemilu 2009 tidak dapat ditawar lagi. Pertimbangannya, penggunaan hak pilih merupakan hak prajurit sebagai warga negara sehingga harus diberikan dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Fuad berpendapat, tentara merupakan benteng pertahanan negara. Bila sampai pecah gara-gara menggunakan hak pilih dalam Pemilu 2009, akan berpengaruh terhadap pertahanan negara. ''Saya memahami penggunaan hak pilih dalam pemilu merupakan hak setiap warga negara. Tapi TNI jangan menggunakan haknya dulu. Perlu waktu untuk merealisasikan hal ini agar proses reformasi tidak terganggu,'' ujarnya.

Muswil

Muswil berjalan meriah dan demokratis. Dihadiri 160 majelis daerah, majelis pusat, dan tamu undangan. Dari awal hingga akhir acara, hadirin tidak beranjak dari tempat duduk. Sebelumnya diadakan diskusi panel yang menghadirkan para alumnus HMI, antara lain Fuad Bawazier, HM Tamzil, M Marwan, dan Ahmad Basyir.

Terpilih sebagai presidium periode 2006-2011 adalah Gunarto SH SE Akt MHum, Drs Iqbal Wibisono SH MHum, Drs H Yusuf Hidayat, Nur Hidayat Sardini SSos MSi, dan Drs Dodot Widodo. Mereka akan memimpin KAHMI lima tahun ke depan.

Dalam pemilihan melalui voting tertutup tersebut, sebenarnya terjaring tujuh orang. Dua di antaranya menyatakan tidak bersedia menjadi presidium, yaitu Hanafi Saleh dan Jawade Hafid. "Kami ingin menjadi bagian di dalam menyelesaikan persoalan bangsa ini. Kami berpedoman pada keindonesiaan, keislaman, dan kemahasiswaan yang merupakan sinergi dari visi-misi kami ke depan. Selain itu, ingin memberikan kontribusi dan aktualisasi yang konkret bagi masyarakat," kata Nur Hidayat Sardini. (H7,knd-46t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA