logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 NASIONAL
Line

Vaksinasi Massal Cegah Penyebaran AI

YOGYAKARTA-Vaksinasi massal merupakan salah satu alternatif terbaik untuk mencegah penyebaran firus Avian Influensa (AI) atau flu burung. "Kami telah mengajukan kepada pemerintah untuk melakukan vaksinasi massal pada unggas seperti model vaksinasi atau imunisasi polio (PIN) yang dilakukan secara serentak," kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Charles Rangga Tabbu, Minggu.

Menurut dia, vaksinasi massal merupakan langkah yang efektif karena kalau vaksinasi hanya dilakukan sepotong-sepotong (per daerah tidak serentak) maka justru akan mempercepat aliran virus dari unggas yang poistif kepada unggas yang sehat.

"Jika tidak serentak maka akan mempercepat penyebaran virus dari unggas yang belum terinfeksi virus, sebab unggas ini belum memiliki antibodi sehingga sangat mudah tertular," katanya.

Dia menambahkan, langkah vaksinasi massal ini telah pula dilakukan Pemerintah China untuk mencegah penyebaran virus flu burung ini. "Jadi tekniknya, pemilik unggas datang ke tempat yang telah ditentukan dan unggas miliknya divaksin oleh petugas yang memiliki kemampuan. Bukan vaksin tersebut diberikan kepada warga dan mereka sendiri yang melakukan vaksinasi," ujar dia.

Charles mengatakan, sebenarnya pemerintah telah menyambut baik gagasan vaksinasi massal ini. Hanya saja untuk pelaksanaannya masih terkendala masalah tempat dan dana yang tidak sedikit.

"Dana dari pemerintah pusat kan sudah ada tetapi seberapa banyak dan apakah mencukupi untuk pengadaan vaksin kami belum tahu. Jika vaksin hanya dibagikan kepada masyarakat dan tidak disuntikkan oleh petugas maka dana berapa pun banyaknya akan sia-sia," katanya.

Dia juga mengatakan sampai saat ini belum ditemukan cara virus ini menular pada manusia dan bagaimana hubungan keduanya.

"Bagaimana virus ini menular ke manusia dan bagaimana hubungannya kami tidak tahu persis. Karena kasus ini mayoritas terjadi pada orang yang bukan berisiko tinggi seperti dokter hewan, pemilik peternakan atau karyawan peternakan, tetapi masyarakat biasa sehingga salah satu kemungkinan adanya kontak dengan unggas di lingkungannya," katanya.(ant-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA