logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 NASIONAL
Line

Hans Jaladara:

Komik Kita Bangkit Lagi


PANJI TENGKORAK: Hingga kini komik Panji Tengkorak menghidupi Hans Jaladara dan keluarga. Komik ini telah difilmkan dan menjadi bahan penulisan tesis. (35) - SM/Triyanto Triwikromo

PARA penggemar komik tahun 70-an pasti mengenal Hans Jaladara. Pria kelahiran Kebumen, 4 April 1947 itu dikenal publik, terutama lewat komik bertajuk Panji Tengkorak dan Walet Merah. Panji Tengkorak selain menjadi bahan dasar film Panji Tengkorak -yang dibintangi oleh Dedi Sutomo, Rita Zahara, Shan Kuan Ling Fung, dan Maruli Sitompul- juga digunakan oleh pengarang Seno Gumira Adjidarma sebagai bahan penelitian untuk meraih gelar doktor. Kini, pria yang tak rampung kuliah di Sekolah Tinggi Seni Rupa Nasional, Jakarta, ini membuat komik baru, Intan Permata Rimba untuk Suara Merdeka. Apa isi cerita komik itu? Bagaimana proses pembuatannya? Berikut petikan perbincangan dengan Hans di Bogor beberapa waktu lalu.

Dalam komik terbaru ini Anda ingin berbicara tentang apa?

Saya ingin berbicara tentang seorang tokoh wanita yang karib dengan rimba dan segala isinya. Dia menyayangi berbagai binatang, pepohonan, dan segala yang berkaitan dengan kehidupan hutan.

Mengapa bertokoh wanita? Mengapa terjadi di rimba?

Tokoh wanita itu di mana pun -lebih-lebih yang cantik dan seksi- selalu menarik. Peristiwanya terjadi di rimba karena saya ingin publik memahami kembali arti dan makna hutan. Tentu tak ada misi pemerintah dalam cerita ini sekalipun tokoh utamanya sangat menghargai lingkungan.

Apa keistimewaan tokoh Anda kali ini?

Selain cantik, tokoh bernama Intan ini bisa memahami bahasa binatang. Dia juga mahir bersilat. Jurusnya saya sembunyikan dulu. Yang jelas, dia pemanah jitu. Intan memiliki guru perempuan yang menyepi di hutan. Sang guru adalah bibinya sendiri.

Anda menghadapkan Intan pada tokoh-tokoh sakti?

Tentu. Mereka akan memperebutkan permata. Setelah itu mungkin akan saya kembangkan dalam perebutan hutan. Semua orang ingin memiliki permata yang dipercaya bisa memberi kekuatan untuk berkuasa. Intan akan berhadapan dengan tokoh-tokoh yang sangat kuat. Bahkan dia juga harus berhadapan dengan tokoh wanita yang sakti.

Bagaimana Anda akan menghadirkan kisah ini? Penuh humor? Serbategang?

Saya akan menggunakan semua unsur rasa yang dimiliki manusia. Ada humor, action, detektif, dan tentu ungkapan romantisme percintaan.

Anda akan melukis dengan pendekatan komik-komik masa kini yang mengarah ke komik Jepang?

Saya tidak akan membuat dengan pendekatan komik Jepang. Untuk sebuah koran, komik model Jepang justru akan membosankan. Atau akan terlalu lama jika terlalu detail seperti komik-komik Jepang. Komik koran itu harus bisa membuat penikmat ingin selalu tahu apa yang terjadi berikutnya. Sebelumnya saya tidak pernah membuat komik semacam ini. Meskipun demikian, goresan-goresannya tidak akan jauh berbeda dari komik saya yang lain.

O, ya...orang sangat mengenal Anda dari komik Panji Tengkorak. Menurut Anda, komik Anda yang populer itu apa saja?

Saya kira selain Panji Tengkorak, ada Rase Terbang, dan Walet Merah. Saya tidak menyangka ketiga komik itu meledak.

Bisa Anda ceritakan kisah kemunculan ide Panji Tengkorak?

Mula-mula setiap tokoh komik kita itu pasti berwajah tampan atau gagah. Ah, mengapa harus begitu? Lalu, saya mencoba membuat tokoh berwajah jelek dan berpakaian compang-camping. Saya harus bikin sesuatu yang lain. Meskipun begitu Panji Tengkorak sebenarnya sangat tampan. Dia hanya mengenakan topeng.

Apakah Panji Tengkorak itu merupakan kritik terhadap kekuasaan?

Tidak. Tidak. Tak ada politik dalam komik saya. Saya hanya ingin membicarakan mengapa orang ingin selalu menjadi tokoh nomor satu. Panji Tengkorak itu hanya sebuah kisah percintaan.

Anda membuat Panji Tengkorak dalam berbagai versi. Tampaknya Anda ingin selalu menyempurnakan kisah itu?

Ya, pada saat versi pertama memang apa adanya. Pada 1984, saya melihat kekurangsempurnaan, lalu saya ubah lagi. Ada perbaikan-perbaikan hingga beberapa kali. Ada beberapa gambar yang saya ubah. Panji Tengkorak yang saya buat sekarang ini bukan cetak ulang. Saya melukis lagi dengan pendekatan-pendekatan gaya yang lebih baru. Agak seperti komik Jepang.

Panji Tengkorak telah menghasilkan apa saja?

Ya, saya memang bisa hidup dari Panji Tengkorak dan komik-komik saya yang lain.

Anda menyukai Panji Tengkorak gaya Jepang?

Masing-masing memiliki kekuatan tersendiri. Gaya sekarang tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata. Gaya yang dulu lebih banyak memikirkan kata-katanya juga. Komikus masa lalu harus berperan sebagai sastrawan. Yang jelas, kalau saya bersaing dengan anak-anak muda sekarang, saya harus belajar memahami bahasa terkini. Jika tidak, saya akan ketinggalan. Dulu, saya juga menggunakan kata-kata yang unik. Saya pernah menggunakan kata ''menyoreng pedang''. Kata-kata itu digunakan Seno sampai kini. Membuat komik baru -ala Jepang- saya harus belajar memahami film. Ia memang seperti film.

Selain Panji Tengkorak, komik apa saja yang difilmkan?

Walet Merah difilmkan. Ada juga film bajakan yang bertolak Panji Tengkorak. Panji Tengkorak juga menghasilkan berbagai penghargaan berupa piagam dan lain-lain.

Komik-komik Anda yang lain tidak terlalu meledak?

Waktu komik jatuh, saya tidak lagi membuat komik. Saya hanya menyadur komik-komik China.

Mulai kapan Anda melukis komik lagi?

Pada 1996 Panji Tengkorak muncul lagi dalam versi lain.

Apakah komik Indonesia pada saat itu telah bangkit?

Kebangkitan komik Indonesia belum muncul lagi. Saya kira pada 2006 komik kita akan bangkit. Buktinya, penggemar kian banyak. Kolektor komik juga bermunculan. Coretan-coretan lama saya bahkan diburu. Pembaca-pembaca komik baru bahkan meminta anak-anaknya untuk menikmati komik Indonesia. Ini berarti komik saya -dan komik Indonesia- bisa diterima anak-anak. Ini saat komik Indonesia menemukan penggemarnya kembali. (Triyanto Triwikromo-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA