| Senin, 06 Maret 2006 | NASIONAL |
Surakarta Pusat Penyebaran AI
SOLO - Tiga daerah di eks Karesidenan Surakarta (Subosukawonosraten), yakni Boyolali, Karanganyar, dan Klaten, dinyatakan sebagai episentrum penyebaran virus flu burung (Avian Influenza/AI). Untuk itu, Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto meminta Badan Koordinasi Lintas Daerah II Surakarta-Kedu lebih siap melakukan langkah penanggulangan dibandingkan dengan wilayah lain. Pemprov juga memprioritaskan perhatian terhadap RS Moewardi selaku RS rujukan penderita AI se-Subosukawonosraten. ''Saat ini, RS Dr Moewardi kita prioritaskan karena memang episentrumnya, menurut Dinas Kesehatan Provinsi, berada di eks Karesidenan Surakarta ini. Yang kita waspadai adalah Boyolali, Karanganyar, dan Klaten. Dengan ini saya harapkan Bakorlin II lebih siap dibanding yang lain,'' kata Gubernur, seusai meninjau pasien suspect flu burung di RS Dr Moewardi, Minggu (5/3) kemarin. Gubernur meminta masyarakat bersikap waspada terhadap kejadian luar biasa (KLB) AI itu. ''Ini merupakan suatu kejadian luar biasa di daerah, yang penting masyarakat jangan panik.'' Upaya penanggulangan yang dilakukan, kata Gubernur, di antaranya dengan menambah sejumlah peralatan di RS rujukan, termasuk di antaranya RS Moewardi. Kemarin, dia menyerahkan bantuan peralatan seperti ventilator dan sejumlah pakaian. Selain untuk mendukung kesiapan penanganan kasus flu burung di RS Dr Moewardi, bantuan tersebut juga dimaksudkan agar masyarakat tidak resah terhadap merebaknya kasus flu burung. ''Saya bersyukur karena memang aparatur kita cepat menangani. Saya lihat kesiapan medis di RS Moewardi tetap prima. Kesiapan kita bukan berarti kita melihat begitu nuansa itu merebak, tetapi siap agar masyarakat menjadi tenang. Sebab kalau pemerintah tak siap maka masyarakat yang kasihan.'' Selain RS Dr Moewardi, masih ada tiga RS lain di Jateng yang secara nasional dinyatakan siap menangani kasus flu burung. Yakni, RS Dokter Soewondo Kendal, RSD Banyumas, dan RS Dokter Kariadi Semarang. ''Empat rumah sakit ini, meski demikian, bukan berarti semuanya langsung terkendali, terkoordinasi. Kalau sekarang episentrumnya di eks Karesidenan Surakarta, ya kita tingkatkan yang di Surakarta ini, tapi mereka tetap siap juga.'' Lebih Aktif Dia berharap kabupaten/kota lebih aktif dalam upaya penanggulangan AI. Seluruh kelompok instansi terkait, kata dia, cukup bagus lantaran telah memiliki standar operasional prosedur (SOP), misalnya antara Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan. Upaya lainnya, kata Gubernur, penanganan yang proporsional terhadap unggas yang terkena ataupun yang terindikasi virus AI. ''Masyarakat sudah cukup memahami, dan hari ini (kemarin-Red) di Mojosongo, Boyolali berlangsung pemusnahan unggas yang terkena virus itu. Saya serahkan kepada kabupaten/kota masing-masing.'' Terhadap keluarga yang diduga terkena flu burung, Dinas Kesehatan juga telah melakukan pemeriksaan dengan mengambil sampel darah. ''Ini yang saya minta ada seperti ini, lingkungan jangan sambat atau takut atau jangan sampai tidak mau kalau diambil sampel darahnya. Sampel ini akan kita teliti ke atas, atau juga kita ketahui seberapa jauh kasus ini bisa diakhiri.'' Sebagai langkah antisipatif, Gubernur meminta masyarakat untuk mengandangkan ternaknya. ''Saya titip kepada masyarakat sekali lagi untuk mengandangkan ternaknya. Sebab, paling sulit mengendalikan bila ternak itu berkeliaran. Dengan kebersamaan ini, insya Allah bisa diatasi.'' Gubernur juga telah menginstruksikan membentuk suatu mobile training team untuk turun ke rumah sakit di daerah-daerah. ''Menurut istilah Direktur RS Moewardi dokter Mardiyatmo itu membentuk task force, yakni satuan tugas untuk meng-coach para dokter di RS daerah dan puskesmas.'' Koordinasi antara RSD, puskesmas, dan RS Moewardi menjadi sangat penting untuk penanggulangan kasus AI. ''Yang penting, jangan sampai terlambat. Kalau dari puskesmas tak bisa dikirim ke RS daerah, bila tetap tidak mampu, kordinasikan dengan RS di Solo. Sebab, kita tak mungkin membuat semua RS mampu menangani ini. Ini agak khusus, seperti dulu ada SARS, tetapi dengan kesiapan ini masyarakat tak perlu panik karena semuanya ditangani dengan konseptual.'' Penyebar Virus Unggas jenis itik, entok, angsa, dan bebek diduga kuat menjadi penyebar virus flu burung ke daerah lainnya. Mobilitas unggas-unggas itu juga cukup tinggi, karena daya jelajahnya dapat bergerak antara Lampung hingga wilayah Jawa Tengah dengan cara diangon (digembala). Sebelumnya, ada dugaan bahwa penyebaran virus mematikan itu berasal dari burung-burung liar termasuk yang bermigrasi, serta ayam buras. Penyebaran melalui burung-burung liar dan yang bermigrasi sejauh ini menunjukkan hasil negatif. Sejauh ini belum diketahui ada informasi, apakah para tukang angon unggas-unggas air tersebut sudah menjalani pemeriksaan atas kemungkinan penularan dan keberadaan virus berbahaya tersebut. Kondisi ini juga menuntut adanya pengawasan lebih ketat pada lalu lintas unggas. Demikian Dr Drh Retno D Soejoedono, peneliti pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB), seusai acara penyerahan 30 curik Bali dari Yokohama kepada Taman Safari Indonesia, Cisarua Bogor, Sabtu (4/3) petang. "Unggas-unggas itu tersangka kuat, karena ditemukan di dalam material genetiknya. Unggas-unggas itu sehat, tapi ada virusnya," tandasnya. Menurut Retno, hasil penelitian unggas-unggas di Lampung dan Jambi menunjukkan bahwa banyak unggas positif menyimpan virus tersebut. Retno mengatakan, pihaknya mendapatkan permintaan khusus untuk mengadakan penelitian lebih khusus. "Kondisi di sana akan kami petakan. Betul nggak virus itu dari itik atau entok, bagaimana penyebarannya, juga penduduknya, dan penanganannya," kata Retno. Hanya, katanya, opsi depopulasi masih dipertimbangkan. Langkah tersebut dapat dilakukan sepanjang unggas-unggas yang diteliti memang benar-benar positif. Menurut Retno, tes yang sejauh ini bisa dijamin adalah Tes PCR (Polimerase Change Reaction). Tes tersebut pun memiliki kendala mengingat biaya PCR terbilang mahal. Pemprosesan satu sampel atau satu unggas mencapai Rp 300.000. Hasilnya membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Keberadaan virus H5N1 itu dapat bertahan lama sepanjang unggasnya sehat. Jika dalam kondisi sebaliknya, unggas mati dengan "kondisi berdarah-darah". Sedangkan melalui kotoran, virus dapat bertahan hingga dua minggu.(G13,dwi-41n) |