logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Maret 2006 MURIA
Line

Pernik Kehidupan Warga Kudus Difilmkan

TETESAN peluh tampak mengucur deras di dahi Kusnan dan Eti -diperankan oleh Sutrimo dan Ana- saat keduanya beraksi di depan kamera, pada siang yang teramat terik itu. Meski dengan peralatan yang nyaris apa adanya, pengambilan adegan demi adegan pun terus berlanjut.

Apa adanya, karena keberadaan peralatan tersebut jauh dari apa yang dibayangkan dalam sebuah proses pembuatan film atau sinetron.

Namun, apa yang dilakukan oleh Komunitas Teater 76 tersebut bolehlah sedikit diberi keplok atas usahanya mementaskan realita hidup, yang diambil dari kisah keseharian warga Kota Kretek, dalam bentuk film situasi komedi (sitkom) berdurasi pendek.

Menurut sang empunya cerita, Asa Djatmiko, yang dipercaya menjadi sutradara dalam 24 episode sitkom berjudul Blok D 76, apa yang dilakukannya hanyalah sebuah parodi tentang hidup.

Pengambilan lokasi gambar semuanya berada di perumahan Megawon, Kecamatan Bae, Kudus.

''Kami berusaha untuk menggambarkan keseharian warga Kudus dalam bentuk parodi melalui situasi komedi,'' katanya, kemarin.

Untuk itu, dalam setiap episode, dia berusaha menggali nuansa keseharian warga Kudus. Mulai pernik kesulitan hidup, intrik-intrik persaingan bisnis, sampai kisah-kisah asmara kaum pinggiran. Dari 24 episode yang direncanakan ditayangkan di salah satu televisi lokal di Semarang, satu episode telah diselesaikan, berjudul Klambi Wedhok. Satu episode lagi, yang Minggu (5/3) masih digarap, berjudul Tondho Tresno.

''Tokoh utamanya bernama Kusnan, seorang bujangan yang memiliki banyak masalah,'' ujarnya.

Disinggung soal dana, Asa menyebutkan, pihaknya mendapatkan dana dari PT Djarum sebesar Rp 10 juta/episode.

Jumlah tersebut digunakan untuk keseluruhan proses pengambilan gambar yang melibatkan pemain dan kru hingga 57 orang itu.

''Kami diberi kebebasan untuk mengolah ide cerita dari pihak penyandang dana,'' ungkapnya.

Disinggung soal benang merah pembuatan sitkom tersebut, Asa hanya menyebutkan bahwa hal itu merupakan ekspansi kreativitas dari rekan-rekannya saja.

Selama ini, Teater 76 dikenal sering melakukan pertunjukan kesenian, sekaligus mendokumentasikan kegiatan tersebut.

''Apa salahnya kalau kami lantas membuat sitkom dengan cerita yang kami buat sendiri,'' tuturnya.

Jika tak ada perubahan jadwal tayang, kemungkinan awal Maret atau akhir April ini, sitkom tersebut dapat disaksikan di layar kaca.

Mengenai nuansa yang dimunculkan dalam cerita tersebut, sang sutradara mempersilakan pemirsa untuk menginterpretasikannya sendiri.

''Pemirsa lebih tahu apa yang menarik bagi mereka,'' tegasnya. (Anton Wahyu Hartono-54h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA